Pencarian populer
Bola & Sports

Fabregas dan 5 Bintang yang Bermain untuk Mantan Rekan 1 Tim

Fabregas dan 5 bintang yang bermain untuk mantan rekan setim.

Resmi sudah kepindahan Cesc Fabregas dari Chelsea, usai gelandang asal Spanyol tersebut diumumkan sebagai pemain baru AS Monaco lewat Twitter resmi klub, pada Sabtu (12/1/2019) pukul 00.45 WIB. Pemain berusia 31 tahun tersebut dikabarkan diboyong dengan harga 10 juta pounds dan menyepakati kontrak hingga tahun 2022.

Sebelumnya memang Fabregas hanya menunggu peresmian dari AS Monaco, usai menjalani laga terakhir bersama Chelsea dengan mengalahkan Nottingham Forest 2-0 di Piala FA. Nantinya, bersama ‘Les Monegasques’. Usai laga tersebut, Fabregas sempat dengan berair mata memberi pidato perpisahannya

Menariknya, kepindahan Fabregas nantinya sekaligus jadi ajang reuni dengan mantan rekan setim di Arsenal, yaitu Thierry Henry. Sebelumnya, 13 Oktober 2018 lalu, Henry ditunjuk sebagai manajer Monaco menggantikan Leonardo Jardim.

Henry dan Fabregas sempat bermain bersama. (Foto: REUTERS)

Seperti yang diketahui, keduanya sempat bermain bersama membela Arsenal selama tiga musim. Kepindahan Fabregas ke Monaco pun dinilai lantaran adanya sosok Henry sebagai sang juru taktik. Keduanya diketahui memang punya hubungan yang baik.

Reuni keduanya sebagai pemain dan manajer memang menarik, tapi bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya, ada pula bintang yang saling reuni dengan mantan rekannya berstatus sebagai pemain dan manajer. Setidaknya ada lima pemain yang sangat diingat pernah bermain sebagai anak asuh mantan rekan, seperti berikut.

1. Gianluigi Buffon dengan Antonio Conte

Selama 13 tahun Antonio Conte membela Juventus, tepatnya pada tahun 1991-2004. Tampil bersama ‘Nyonya Tua’, dirinya menyumbang satu Liga Champions dan lima gelar Serie A. Gianluigi Buffon kemudian satu tim bersama Conte mulai pada musim panas tahun 2001, diboyong dari Parma sebagai kiper termahal di dunia saat itu.

Conte dan Buffon tergabung dalam skuat Juventus di bawah kepemimpinan Marcelo Lippi, yang notabene salah satu tim paling kuat di Eropa kala itu. Selama tiga musim main bersama, dua gelar Serie A dipersembahkan

Tahun demi tahun berlalu, Conte pun ditunjuk sebagai manajer Juventus pada musim 2011/12 dan memimpin tim hingga 2014. Bersama Conte, Juve sukses memenangi Serie A tiga kali beruntun, sekaligus awal dari dominasi mereka di Liga Italia. Kala itu, Buffon lah yang jadi pemain kunci tim, menjaga gawang dari ancaman lawan.

2. Xavi dan Carles Puyol bersama Pep Guardiola

Loyalitas Xavi Hernandez dan Carles Puyol bersama Barcelona tak perlu diragukan. Keduanya merupakan produk akademi La Masia dan bermain jadi pilar utama klub selama bertahun-tahun. Xavi membela Blaugrana selama 18 musim, sementara Puyol selama 15 musim. Keduanya pun ternyata sempat satu tim dengan Pep Guardiola.

Juga merupakan produk asli La Masia, Pep sempat membela Barcelona selama 11 musim sebagai gelandang bertahan. Dirinya sempat jadi bagian dari tim yang dilatih Johan Cruyff, menjuarai Liga Champions pada tahun 1992. Pep bermain dengan Xavi dan Puyol pada akhir 1998/99 hingga 2010/01. Namun, mereka tak menang apapun bersama.

Pensiun sebagai pemain, Pep kemudian melanjutkan karier sebagai manajer. Sempat melatih Barca B, manajer berkepala plontos tersebut kemudian dipercaya menangani tim utama pada tahun 2008. Kala itu, Xavi dan Puyol sudah jadi andalan utama Barca.

Ketiganya pun kebanjiran prestasi, memang dua Liga Champions musim 2008/09 dan 2010/11 serta 3 trofi Liga Spanyol. Tak lupa juga Barca tahun 2009 jadi tim pertama yang sukses meraih enam gelar dalam setahun. Publik pun menilai Barcelona saat itu jadi yang terbaik sepanjang masa.

3. Paolo Maldini dan Alessandro Costacurta bersama Carlo Ancelotti

Aman menyebut Paolo Maldini dan Alessandro Costacurta sebagai legenda terbesar yang dimiliki AC Milan. Masa bakti keduanya bersama I Rossoneri mencapai lebih dari dua dekade. Maldini bersama Milan sejak 1985 sampai 2009, sementara Costacurta sejak 1986 sampai 2007.

Keduanya tergabung dalam AC Milan era Arrigo Sacchi pada akhir 1980-an. Kebetulan, ada juga nama Carlo Ancelotti sebagai punggawa Milan kala itu. Don Carlo-sapaan akrab Ancelotti-bermain sebagai gelandang bertahan pada tahun 1987 hingga 1992. Prestasi luar biasa diraih Ancelotti, Maldini and Costacurta dengan memenangi dia Liga Champions musim 1988/89 dan 1989/90

Gantung sepatu, Ancelotti kemudian memulai karier kepelatihannya tahun 1995 bersama Reggiana (sekarang Reggio Audace). Enam tahun kemudian, usai sempat melatih Parma dan Juventus, Ancelotti kembali ke AC Milan, reuni dengan Maldini dan Costacurta yang masih bermain untuk Milan.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: