kumparan
17 Oktober 2019 15:40

Studi Menyebut Cristiano Ronaldo Tak Grogi di Laga Besar

Untitled Image
Pemain Juventus, Cristiano Ronaldo, saat pertandingan melawan Fiorentina. Foto: REUTERS
Merupakan salah satu pemain terbaik sepanjang masa, Cristiano Ronaldo sukses konsisten berada di level permainan tertinggi. Setelah sukses bersama Manchester United dan Real Madrid, kini penyerang asal Portugal tersebut menjajal kompetisi Serie A bersama Juventus.
ADVERTISEMENT
Tak butuh waktu lama untuk Ronaldo beradaptasi. Musim debutnya bersama ‘Si Nyonya Tua’ saja dirinya langsung jadi pemain andalan tim. Total pemain yang akrab disapa CR7 tersebut mencatatkan 28 gol dan 10 asis dari 48 pertandingan.
Adapun salah satu kunci konsistennya performa Ronaldo di tiap klub lantaran imun terhadap rasa grogi. Hal tersebut kemudian diungkap oleh SciSports, lembaga penganalisis olahraga, yang menyebut Ronaldo merupakan pemain yang tak merasakan grogi.
Untitled Image
Ronaldo bersama trofi Ballon d'Or. (Foto: GERARD JULIEN / AFP)
Berkat imunitasnya terhadap rasa gugup, di tiap laga, baik menghadapi tim tak diunggulkan ataupun klub kuat, penyerang yang sukses membawa pulang lima Ballon d’Or tersebut bisa selalu bermain di level yang sama.
SciSports dan Universitas KU Leuven bekerja sama untuk mempelajari seberapa besar stres mempengaruhi performa pemain di dunia sepak bola. Mereka pun mengambil data dari 7000 menit atau setara dengan 77 pertandingan, kemudian mendapat nama Ronaldo di level paling atas.
ADVERTISEMENT
Bisa dibilang studi tersebut cukup akurat. Beberapa kali Ronaldo bisa menyelamatkan timnya di saat-saat genting. Seperti contohnya musim lalu, ketika Juventus kalah 2-0 di leg pertama kontra Atletico Madrid. Ronaldo kemudian membalas di pertemuan kedua dengan mencetak hattrick.
Untitled Image
Sergio Aguero merayakan gol ke gawang West Ham United. Foto: Reuters/John Sibley
Adapun pemain serupa dengan Ronaldo, menurut studi tersebut yaitu Sergio Aguero. Penyerang andalan Manchester City tersebut dinilai minim tekanan tiap kali bertanding, membuat keputusan gemilang ketika menguasai bola.
Pembuktian Aguero yaitu ketika mencetak gol di menit-menit terakhir kontra QPR. Bersaing ketat dengan Manchester United hingga menit terakhir, gol penyerang asal Argentina tersebut membuat City meraih gelar juara Liga Inggris pertama sejak diakuisisi Sheikh Mansour.
Selain Ronaldo dan Aguero yang terkenal sebagai pemain yang kebal dengan rasa grogi, ada juga dua contoh yang justru merosot bila bermain dalam tekanan. Adapun dua nama tersebut adalah Neymar dan Eden Hazard.
Untitled Image
Hazard mengenakan seragam bernomor 50 di laga ICC 2019 melawan Bayern Muenchen. Foto: Kevin Jairaj-USA TODAY Sports
Pada studi tersebut, Neymar jadi pemain yang kerap terpengaruh oleh rasa stres. Eden Hazard pun demikian. Ketika menghadapi laga besar, keduanya cenderung melakukan pengambilan keputusan yang buruk, terutama ketika sedang menguasai bola.
ADVERTISEMENT
Professor Jesse Davis dari KU Leuven kemudian menjelaskan riset tersebut sudah sedari dulu dilakukan dalam dunia baseball dan basket. Adapun sepak bola merupakan teritori baru dalam ilmu tersebut.
"Karena itulah kami merancang alat untuk mengukur seberapa besar tekanan mental dapat berpengaruh terhadap pemain dalam menguasai bola,” sebut Davis dilansir dari SportBIBLE. (bob)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan