Pencarian populer
PUBLISHER STORY

7 Fakta tentang Letusan Tambora Tahun 1815

(Kawah tambora. Foto: Info Dompu)

Info Dompu – Letusan Tambora di Indonesia lebih dari 200 tahun yang lalu telah menjadi kisah yang banyak dibicarakan. Tepatnya pada tanggal 10-11 April 1815, Gunung Api Tambora meletus dahsyat. Faktanya letusan gunung yang terletak di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini memang berhasil menyita perhatian publik dunia. Letusan Tambora tidak hanya melahirkan dampak buruk bagi Indonesia di masa lalu, tetapi juga menyebabkan banyak hal terjadi di seluruh dunia terutama di Eropa.

Ada beberapa fakta menarik yang Info Dompu rangkum berdasarkan hasil wawancara dengan Setyo Manggala, penulis buku bertajuk Dana Dompu. Apa saja faktanya, yuk kita simak.

(Pemandangan ke arah utara dari puncak Tambora. Foto: Info Dompu)
  • Pertama, terdapat tiga kerajaan yang luluh lantak, dua di antaranya yaitu Kerajaan Pekat dan Tambora di wilayah utara dan barat tertimbun tanpa tersisa. Sedangkan kerajaan Sanggar meskipun hancur, sang raja dan keluarganya pada saat itu berhasil menyelamatkan diri karena arus lahar panas Tambora melambat di bagian selatan akibat tertahan oleh sedimen vulkanik atau lahar kuno.

  • Kedua, sabana atau savana Doroncanga dulu adalah hutan belantara atau kawasan hijau yang tertutup 150 kilometer kubik material bebatuan padat dan partikel vulkanis yang terlontar dari perut Gunung Tambora. Sehingga tak jarang dijumpai terdapat fosil kayu di area sabana seperti di tepi pantai Sarae Nduha.

(Padang Sabana tambora. Foto: Info Dompu)
  • Ketiga, suara letusan Tambora terdengar hingga ke Sumatera, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Bahkan abunya bisa dilihat hingga Bogor (Jawa Barat) dan Kalimantan. Dua sampai tiga minggu setelah kejadian, langit Surabaya menjadi aneh.

  • Keempat, tanggal 10 April kapal Benares yang merupakan kapal Inggis Timur yang sedang berlayar di Makassar hampir tenggelam akibat kejatuhan abu vulkanik letusan Tambora. Owen Philips, kapten kapal Benares, adalah orang yang sempat berpapasan dengan kapal pribumi yang lari dari letusan Tambora, ia pun kemudian bertemu raja Sanggar dan keluarganya. Ia pun bersaksi atas meletusnya Tambora dan memberikan laporan kepada Thomas Stamford Raffles setelah berbulan-bulan kemudian hingga tersebar luas ke seluruh Eropa.

  • Kelima, ribuan nyawa melayang akibat dampak langsung letusan Tambora. Puluhan ribu lainnya ikut menyusul pada rentang waktu beberapa minggu akibat kelaparan dan keracunan karena jatuhan debu vulkanis yang merusak produksi agrikultura dan meracuni air sungai.

  • Keenam, satu tahun setelah letusan, setengah dari populasi Pulau Sumbawa hilang, setengah dari yang hidup bermigrasi ke pulau-pulau sekitar Sumbawa. Sekitar 90 ribu sampai 117 ribu orang meninggal di Nusantara. Jumlah korban yang sama juga diperkirakan berjatuhan secara global akibat kelaparan dan penyakit akibat dampak susulan Tambora.

  • Ketujuh, skala letusan Tambora berada pada angka 7 (dari 8) dalam volcanic explosivity index. Hingga dikenal sebagai letusan terbesar yang terjadi pada peradaban modern.

Intan Putriani

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60