Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Hastag Savana Bukan Tempat Sampah, Ajakan Agar Masyarakat Sadar

Hastag Savana Bukan Tempat Sampah di tempat berlangsungnya kegiatan Festival Pesona Tambora 2019 (11/4). Foto: Setyo Manggala.

Info Dompu - Kamis yang terik (25/4) sebuah mobil berwarna putih mengikuti dua motor yang melaju sedang ke arah barat Kawasan Savana Doroncanga, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di mobil tersebut, tepat di bangku pengemudi ada Anang Triputra, di sampingnya ada saya, sedangkan di kursi belakang ada Selly Zainab dan Setyo Manggala. Dua motor yang sedang melaju di depan mobil masing-masing dikendarai Ikhsan Hanif yang berboncengan dengan Angga Satria, sedangkan satu motor lainnya ada Safirah yang melaju sendiri.

Meski terik, sepanjang perjalanan kami langit biru terus memani. Juga sejuknya kawasan Savana Doroncanga yang begitu luas. Kawasan ini adalah tempat yang menyimpan dengan rapi rahasia peradaban masa lampau, juga sejarah letusan Tambora tahun 1815 yang membinasakan banyak mahluk hidup, dan tempat hidup ribuan ternak serta hewan liar.

Setyo pada saat itu adalah satu-satunya orang dalam mobil yang selalu mengungkapkan rasa kagumnya pada bentang alam Dompu dengan kata-kata, ia masih takjub dengan kawasan Savana Doroncanga. Meski hanya seorang pendatang, Setyo nampak memiliki kecintaan pada Dompu. Ia bahkan menyalurkan kecintaannya tersebut dengan membuat buku fotografi dan narasi yang berjudul Dana Dompu.

Kehadiran Setyo pada aksi "Hastag Savana Bukan Tempat Sampah" ini adalah momen yang tidak direncanakan, karena sejak awal kami sebagai pemuda Dompu jauh sebelumnya telah merencanakan aksi ini, bahkan sebelum dilakukannya kegiatan FPT 2019. Kami sih menebak, kegiatan FPT sebagai sebuah pesta rakyat tahunan pasti akan meninggalkan sampah.

Pemandangan Padang Savana dari dalam mobil yang melaju. Foto: Info Dompu

Perjalanan melakukan aksi foto dengan spanduk yang ditulisi #savanabukantempatsampah ini, sebenarnya sudah kami mulai sehari sebelumnya, Rabu (24/4). Kami melakukan camping, menginap semalam di area timur savana untuk mempersiapkan kebutuhan aksi keesokan harinya.

Menjelang siang kami packing peralatan camping dan menuju area savana bagian barat, tempat aksi akan dilakukan. Tempat kegiatan yang dipilih panitia saat FPT memang sangat strategis, dekat dengan resort Taman Nasional (TN) Tambora, area yang begitu mudah untuk datangi.

Sesampainya di area yang dituju, mata kami semua juga langsung tertuju pada hamparan warna putih di atas savana di sisi kiri jalan. Pemandangan tersebut seolah membangunkan emosi setiap orang, karena FPT sudah berlalu tetapi sampah pasca acara masih berserakan di seluruh area.

Setelah kami menemukan area yang tepat untuk memarkirkan kendaraan, satu persatu kami turun dan memandang lebih dekat. Kontras saja, keindahan savana dirusak oleh sampah plastik.

Sampah di Savana Doroncanga. Foto: Info Dompu

Kami masing-masing terdiam, saling memandang satu sama lain. Saya kemudian spontan mengeluarkan ponsel, begitu juga yang saya lihat ke arah anggota aksi lainnya seperti Safirah, Setyo dan Selly yang mengeluarkan kamera untuk membuat dokumentasi, sedangkan Iksan mengeluarkan drone.

Secara bersama, kaki kami juga semakin melangkah menuju hal-hal yang di luar dugaan. Di sana ada sapi-sapi yang sedang menikmati rumput di tengah-tengah sampah. Juga ada beragam sampah plastik, seperti kemasan air mineral, bungkusan makanan ringan, juga potongan kayu sisa tenda yang dibangun peserta festival, styrefoam dan juga masih ada bekas jamban dengan lubang yang masih berisi kotoran manusia, semuanya dibiarkan begitu saja.

Sampah dan Jamban bekas FPT 2019. Foto: Setyo Manggala

Sesuai perjanjian awal, kami sebenarnya tidak akan melakukan aksi clean up pada sampah di area pasca festival. Kami sepakat bahwa sampah-sampah harus menjadi tanggung jawab penyelenggara kegiatan. Kami pun ingin penyelenggara menyelesaikan urusan sampah ini sesuai regulasi dan anggaran kegiatan yang telah dicairkan. Tapi, maksud pikiran selalu tak sesuai dengan hati, Ikhsan yang dari awal telah membawa kantong sampah berinisiatif membagikannya kepada kami.

Disela-sela kegiatan pungut sampah dadakan, saya juga berinisiatif mewawancarai Ikhsan. Saya melihat Iksan pasti memiliki saran demi perbaikan pengelolaan sampah pasca FPT selanjutnya.

Kantong sampah dan delapan botol bir yang dipungut di pinggir jalan. Foto: Info Dompu

Menurut Iksan, salah satu hal yang menyebabkan sampah-sampah setelah acara FPT adalah tidak adanya kontrol pihak penyelenggara kegiatan. Ikhsan pun menebak bahwa tidak ada petugas kebersihan yang mengontrol sampah selama acara FPT berlangsung karena ia tidak hadir pada saat puncak FPT tahun ini. Ia beranggapan bahwa hingga selesai acara tersebut, masyarakat membiarkan saja sampah yang mereka hasilkan karena tidak ada kontrol.

"Saya merasa ini juga faktor dari peserta festival atau masyarakat itu sendiri yang tidak memiliki kesadaran akan bahaya sampah bagi savana. Padahal dari kesadaran, kita bisa memulai ini dengan diri kita sendiri dan bisa kita tularkan pada orang lain" ujar Iksan ditengah-tengah kegiatan memungut sampah.

Iksan juga menyampaikan kritik kepada masyarakat maupun Pemerintah sebagai penyelenggara kegiatan. Ia mengatakan bahwa Pemerintah harus berani mengontrol karena mereka yang memiliki otoritas atas kegiatan yang berlangsung, sehingga masyarakat bisa lebih aware mengurus sampahnya sendiri.

"Peduli terhadap sampah begini kan sebenarnya hal yang cetek, karena bisa dilakukan oleh setiap orang" pungkas Iksan.

Foto Bersama dalam aksi Hastag Savana Bukan Tempat Sampah. Foto: Setyo Manggala

Total sampah yang dikumpulkan pada saat itu hanya empat kantong saja, yang hanya dipungut di sekitar area parkir kendaraan. Sampah yang paling membuat anggota tidak tahan adalah sampah pampers bayi, yang memiliki kotoran di dalamnya, tetapi tetap dipungut kemudian dimasukan ke kantong sampah. Juga ada delapan botol bir, saat itu langsung diamankan karena khawatir akan pecah hingga menjadi potongan beling yang akan menyebar di savana.

Keempat kantong sampah tersebut kemudian diikat lalu dinaikan ke atap mobil untuk dibuang hingga ke daerah terdekat yang bisa dijangkau oleh truk pengangkut sampah, dengan harapan akan dibawa menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Setelah semua hal yang kami rencanakan telah dilakukan, kami pun segera kembali ke kendaraan masing-masing dan pulang dengan perasaan campur aduk. Bagaimana ya nasib sampah-sampah di savana jika tidak ada yang bertanggung jawab nantinya?

-

Penulis: Intan Putriani

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32