kumparan
16 September 2019 14:41

Kurang Berjuang, Ini Kisah Mereka yang Gagal Melanjutkan Studi

Ilustrasi mahasiswa. Foto: Pixabay
Info Dompu - Puteri (19), bukan nama sebenarnya, baru sebulan kembali ke kampung halamannya. Ia tinggal bersama keluarganya di salah satu desa di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Bertepatan dengan libur masa kuliah, anak bungsu dari dua bersaudara ini akhirnya memutuskan ‘libur’ selamanya meski baru setahun ia menempuh pendidikan di sebuah kampus swasta di Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
Di kota pelajar itu ia mengambil jurusan ilmu gizi. Sebenarnya ia mengaku tidak tertarik dengan jurusan tersebut. Tetapi atas saran saudara sepupunya yang kebetulan duluan kuliah di tempat yang sama akhirnya ia masuk ke jurusan tersebut.
“Saya merasa nggak nyaman kuliah di sana,” ngakunya ketika bertemu Info Dompu, Senin (9/9).
Kini, gadis Dompu ini akhirnya memantapkan hati untuk kuliah di sebuah kampus swasta di daerah saja. Karena tidak tersedia jurusan yang sama dengan kampus asal, ia akhirnya terpaksa mengulang dari awal, mendaftar sebagai calon mahasiswa baru tahun 2019 di kampus keguruan, ia mengaku pasrah meski harus memulai dari awal dan masuk di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
ADVERTISEMENT
“Nggak apa-apa, karena saya juga baru duduk di semester awal,” ujarnya pasrah. Pada akhir September ini ia akan bergabung dengan teman-teman baru dan memulai kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) di kampus yang baru.
Rugaya (38), sang ibu, juga mengaku pasrah dan serba salah. Meski cukup masygul karena telah mengeluarkan banyak biaya tapi ia terpaksa mengikuti kemauan anaknya. “Padahal saat membayar biaya masuk saja dulu Rp 20 juta,” ujarnya sedih ketika bertemu dengan media ini pekan lalu di Desa Tembalae, Kecamatan Pajo.
Ilustrasi kuliah. Foto: Info Dompu
Untuk ukuran sekolah kesehatan yang rata-rata berbiaya mahal maka angka tersebut bisa dimaklumi. Sebagai orang tua dirinya tidak mampu berbuat banyak dan serba salah. Dia mengaku sayang jika anaknya tidak sekolah. Bahkan selama ini dirinya dan suaminya terpaksa bekerja jadi buruh di Kalimantan demi pendidikan anak sulungnya tersebut.
ADVERTISEMENT
Kisah kandas kuliah lainnya juga dialami Wawan (22), nama samaran, yang menempuh studi di Malang sejak 2015 lalu. Warga Desa Lepadi Kecamatan Pajo ini mengambil jurusan teknik informatika di kota tersebut. Sayangnya, dia aktif kuliah hanya semester satu dan dua. Selebihnya sudah tidak pernah masuk kampus lagi. Ia hanya menghabiskan waktu di kos atau nongkrong dengan teman-teman lainnya.
“Sebenarnya kami sudah menyarankan pindah kuliah saja, mumpung di awal tapi anaknya ogah,” ujar AF, teman satu kos, yang enggan disebutkan identitasnya. AF adalah teman satu kecamatan dan satu angkatan dengan Wawan. Keduanya cukup akrab. Mereka bahkan berasal dari jurusan yang sama meski kampusnya berbeda.
Ilustrasi ruang kelas. Foto: Pixabay
Menurut cerita AF (22), yang kini duduk di semester 8 dan sedang pulang melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PKL) di sebuah kantor pemerintah di Dompu, dia dan teman-temannya sangat prihatin dengan kondisi Wawan. Bagaimana pun, katanya, sesama anak rantau dia dan teman-temannya ingin sukses dan selesai kuliah secara bersama-sama.
ADVERTISEMENT
AF mengaku sudah memberitahu orang tua Wawan mengenai kondisi anaknya. Wawan hingga kini tetap bertahan di Malang meski tidak kuliah lagi. “Orangtuanya juga tetap ngirim duit sih,” ujarnya AF prihatin ketika ditemui di rumahnya di Desa Tembalae beberapa waktu lalu.
Ilustrasi mahasiswa di kampus. Foto: Pixabay
Kisah berbeda dialami Alim (26), bukan nama sebenarnya. Ia mahasiswa angkatan 2013 dan kuliah di sebuah kampus keguruan terkenal di Mataram, NTB. Menurut cerita ibunya Ramlah (65), semula anak bungsunya tersebut tidak tertarik mengambil kuliah di jurusan keguruan. Tetapi sang ayah, yang kini sudah almarhum lima tahun lalu, sangat berharap ada yang meneruskan profesinya sebagai guru. Akibatnya, Alim terpaksa kandas kuliahnya. Kini ia terpaksa mengambil jurusan ekonomi di kampus yang berbeda. Meski banyak diprotes oleh kakaknya yang lain, tapi menurut Ramlah dirinya tetap tabah memotivasi anaknya untuk menyelesaikan kuliahnya.
ADVERTISEMENT
“Saya sudah bilang ke kakak-kakaknya, udah urusan kuliah Alim biar jadi tanggung jawab ibu, kalian tidak perlu turut bantu,” ujarnya saat bertemu dengan media ini bulan lalu. Ramlah mengaku, hal itu dilakukan untuk menjaga perasaan si bungsu dan terus menyemangatinya. Kini Alim masih kuliah di kampus yang baru.
-
Ilyas Yasin
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan