kumparan
16 Sep 2019 15:54 WIB

Tips Agar Kuliah Anak Tidak Kandas

Ilustrasi mahasiswa di kampus. Foto: Pixabay
Info Dompu - Menempuh kuliah di perguruan tinggi adalah pengalaman yang seru dan mengasyikkan karena akan mendapatkan banyak hal baru: suasana, lingkungan, dan teman baru. Dunia perkuliahan juga jelas lebih menantang karena segalanya berbeda dari masa sekolah menengah, terlebih bagi yang pertama merantau.
ADVERTISEMENT
Di perantauan seseorang dituntut lebih mandiri dalam banyak hal: baik dalam kebiasaan belajar, bergaul, bermain, mengerjakan tugas-tugas kuliah, termasuk mengatur keuangan. Ada begitu banyak orang yang hendak menikmati keseruan bangku kuliah. Tetapi tidak sedikit pula yang terpaksa mengubur impian karena terhalang kesulitan ekonomi. Atau, ada pula yang terpaksa kuliah sambil bekerja karena kesulitan yang sama.
Psikolog Annisa. Foto: Ilyas Yasin/Info Dompu
Di sisi lain banyak pula anak-anak yang mendapat kesempatan menempuh pendidikan tinggi tapi kuliahnya terpaksa kandas di tengah jalan karena banyak faktor baik karena keasyikan berorganisasi, hubungan asmara, sulit beradaptasi dengan irama akademik yang padat dan keras, maupun karena kesulitan biaya itu sendiri.
Sementara itu, banyak juga calon mahasiswa yang kurang cermat memilih jurusan yang akan dimasuki, tanpa mempertimbangkan hal lain seperti kondisi kota tujuan studi maupun bakat dan kemampuan dirinya sehingga banyak terkonsentrasi di jurusan tertentu dan tidak punya prospek kerja.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, setelah tamat kuliah mereka bingung mau bekerja dimana. “Kan sayang kalau sampai hal itu terjadi,” ujar psikolog Annisa (28), saat ditemui di kantornya Biro Konsultasi Dinda Educare, Kamis (12/9).
Nah, bagaimana agar sukses memasuki dunia perguruan tinggi maupun menyiasati lapangan kerja setelah tamat kuliah? Berikut beberapa tipsnya.
  • Pertama, pilihlah jurusan yang sesuai bakat dan minat, juga yang memiliki prospek kerja yang masih langka.
Misalnya, untuk daerah Dompu, beberapa jurusan yang masih langka seperti teknisi komputer, otomotif, bidang fesyen dan kuliner, psikolog atau terapis. Jangan memilih jurusan hanya karena mengikuti teman, atau atas saran orang lain termasuk orangtua. Pastikan jurusan yang diambil sesuai dengan passion Anda. “Kalau tidak, nanti saat kuliah akan berefek secara psikologis; endurance atau daya tahannya nggak ada,” ujar Annisa.
ADVERTISEMENT
  • Kedua, kepoin atau cari tahu mata kuliah apa saja yang dipelajari pada jurusan yang akan dipilih.
Hal ini dilakukan agar mendapat gambaran materi apa saja sih yang bakal dipelajari saat kuliah nanti. Dengan begitu Anda akan lebih mantap dengan jurusan yang dipilih.
  • Ketiga, ubah pola pikir. Maksudnya, jangan lagi berpikir bahwa setelah tamat kuliah itu harus menjadi ASN.
Kalau pun ditakdirkan tentu tak masalah. Tetapi membekali diri dengan berbagai keterampilan serta membangun jiwa wirausaha jauh lebih penting, sehingga Anda lebih siap menghadapi keadaan setelah tamat kuliah. “Sekarang ini, suka atau tidak suka membangun jiwa wirausaha itu tidak terhindarkan,” kata Annisa mengingatkan.
  • Keempat, saat pertama kali memutuskan kuliah yang dipilih itu bukan jurusan atau tempat kuliah melainkan mau bekerja apa setelah tamat kuliah.
ADVERTISEMENT
Dengan begitu kita akan tahu keterampilan apa yang dibutuhkan dalam dunia kerja. “Kalau tempat kuliah mah gampang karena sekarang sudah tersedia banyak pilihan,” ujar Annisa memberi alasan.
  • Kelima, pertimbangkan juga kondisi kota tujuan studi.
Cari tahu tentang kondisi cuaca, biaya hidup, budaya maupun transportasi yang ada. Mungkin saja ada daerah yang cocok dan nyaman untuk belajar tapi jika akses transportasinya agak sulit juga akan menimbulkan masalah.
  • Keenam, orang tua atau keluarga sebaiknya tidak memaksa anak memilih jurusan di luar passion-nya, tetapi cukup mendukung pilihan anak.
Hal yang penting dilakukan oleh orang tua atau keluarga yang ingin menguliahkan anak adalah mengajarkan anak untuk bertanggung jawab terhadap jurusan yang dipilihnya.
ADVERTISEMENT
-
Ilyas Yasin
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan