kumparan
8 November 2019 10:36

Tremor Sebabkan Karhutla, TNT: Tambora Masih Aktif, Level Normal

DSC_0233.JPG
Gunung Tambora di NTB. Foto: Info Dompu
Info Dompu – Penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tambora (TNT) sejak Agustus 2019 hingga Oktober 2019 kini semakin jelas. Setelah sebelumnya banyak bermunculan spekulasi penyebab karhutla seperti pemburu madu, pemburu rusa, pembukaan lahan, kini muncul penyebab yang baru diketahui.
ADVERTISEMENT
Gunung Tambora yang pernah mengguncang dunia pada tahun 1815 yang hampir menghilangkan setengah ketinggiannya itu seolah ‘hidup kembali’. Pasalnya, gunung Tambora baru-baru ini menunjukan aktivitas vulkaniknya.
WhatsApp Image 2019-11-07 at 21.49.12.jpeg
Murlan Dameria Pane, Kepala TNT. Foto: Ardyan/Info Dompu
Kepala Balai Taman Nasional Tambora (TNT), Murlan Dameria Pane mengungkapkan, berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api Tambora, ditemukan tremor (getaran, red) menerus. Hal itulah yang kemudian diduga menjadi penyebab karhutla baru-baru ini.
“Getaran ini menyebabkan patahan yang diduga menimbulkan gas sehingga meningkatkan suhu di atas (di gunung),“ ujarnya saat ditemui di kantor TNT, Kamis (7/11).
Menurut penjelasannya, tremor yang muncul tidak langsung mengeluarkan titik api. Dengan adanya tremor justru meningkatkan suhu yang berpotensi besar menyebabkan kebakaran hutan di kawasan Gunung Tambora.
WhatsApp Image 2019-11-07 at 21.50.55.jpeg
Upaya pemedaman Karhutla di kawasan TNT. Foto: Doc TNT
“Tremor itu terjadi selama dua hari, 19-20 Oktober lalu dan setelah itu tidak ada lagi. Saat ini memang status Gunung Api Tambora ini masih aktif tetapi dengan level normal,” ungkap Murlan.
ADVERTISEMENT
Ia pun menjelaskan, jika terjadi fenomena seperti ini biasanya pihak TNT akan langsung menerima laporan dari Pos Pengamatan. Sehingga, katanya, jika terjadi fenomena tidak normal atau luar biasa maka laporan tersebut akan disampaikan ke Pusat Vulkanologi Bandung. Masyarakat terutama pendaki tidak perlu khawatir.
WhatsApp Image 2019-11-07 at 21.50.56.jpeg
Berbagai pihak bekerjasama dalam mengatasi karhutla Tambora. Foto: Doc TNT
“Namun sampai saat ini fenomena ini telah hilang, dan dipastikan tidak mengganggu aktivitas seperti pendakian di Tambora,” tegasnya.
Murlan juga menambahkan, faktor lain yang diduga menjadi penyebab karhutla adalah musim kemarau yang berkepanjangan dan tiupan angin yang kencang.
“Cuaca panas yang terjadi sejak juni menyebabkan suhu udara kian panas. Sehingga, kawasan Tambora yang sebagian besarnya padang sabana dan ilalang yang sudah kering mudah terbakar,” terangnya.
-
ADVERTISEMENT
Ardyan
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan