kumparan
24 Mei 2019 13:55 WIB

Facebook Down, Pedagang Makanan Online Bagikan Jualannya ke Tetangga

Media sosial. (Foto: Pixabay)
InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Pada bulan Ramadan, biasanya pedagang online akan kebanjiran order. Termasuk mereka yang memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai sarana berjualan.
ADVERTISEMENT
Kendati demikian, dalam tiga hari terakhir, mereka harus merugi karena kebijakan pemerintah membatasi penggunaan medsos sebagai buntut kerusuhan 22 Mei 2019. Pedagang tidak bisa mem-posting dagangannya dan sebaliknya para calon pembeli tidak bisa melihat foto barangnya.
Salah satu pedagang online di Pangkalan Bun, Anggie Nova, menuturkan bahwa pada 22 Mei kemarin, omzet penjualan produk makanan miliknya menurun drastis.
"Karena konsumen pasti mau lihat foto barang dagangan dulu, jadi mengakalinya promosi tanpa foto, bahkan Whatsapp tidak bisa sama sekali diakses untuk komunikasi, jadi benaran menurun penjualan," ujar Anggie kepada InfoPBUN, Jumat (24/5).
Keesokan harinya, 23 Mei 2019, untuk menyiasati kebijakan pembatasan tersebut, ia menggunakan aplikasi Virtual Private Network (VPN). Kendalanya adalah ia harus sering reconnect untuk mendapatkan akses yang lancar ke media sosial.
ADVERTISEMENT
"Kemarin alhamdulillah, mungkin konsumennya sudah banyak pakai VPN. Harapannya sekarang semoga masalah pembatasan medsos lebih cepat diselesaikan, karena tidak semua pengguna menjadikan medsos untuk hal negatif," tandasnya.
Hal senada dikatakan oleh pedagang makanan online lain, Dewi Suryani. Ia mengaku rugi karena biasanya paling banyak pesanan datang melalui Facebook. Pada 22 Mei, Dewi tidak bisa mengakses Facebook sama sekali.
"Padahal pada tanggal 22 Mei, pesanan full, karena lupa screenshot pesanan untuk alamat dan nomor handphone, pas terkena gangguan jadi tidak mengetahui pesanan konsumen karena tidak bisa diakses, jadinya benar-benar merugi," tuturnya.
Hampir 80 persen pelanggan dan konsumen Dewi adalah pengguna Facebook. Hampir semua alamat pelanggannya tercatat di Facebook. Gara-gara Facebook tak bisa diakses, akhirnya ia tidak bisa mengantar pesanan ke pelanggannya.
ADVERTISEMENT
"Akhirnya makanannya saya bagikan ke tetangga, daripada basi, mau antar ke pelanggan juga tidak tahu alamatnya, karena tidak sempat mencatat alamat pelanggan di Facebook. Yang pasti akibat pembatasan medsos ini membuat saya dan pedagang online lainnya kecewa," ucapnya kesal.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Komunikasi, Statistik, dan Persandian (Diskominfo) Kotawaringin Barat, Rody Iskandar, mengatakan bahwa kebijakan pembatasan media sosial memang berdampak bagi bisnis online. Pihaknya berharap kebijakan tersebut tidak terlalu lama diberlakukan.
Sambil menunggu pemulihan, solusi bagi pedagang online adalah bermigrasi sementara ke aplikasi lain, seperti Twitter dan Telegram atau menggunakan VPN (disarankan yang berbayar).
"Atau menyampaikan informasi jual beli dangan narasi lengkap tanpa upload video dan foto menggunakan Whatsapps, Facebook dan Instagram, karena yang dibatasi hanya fitur upload foto atau ideo. Semoga saja pembatasan segera dipulihkan," pungkasnya. (Joko Hardyono)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan