kumparan
8 Agu 2019 17:36 WIB

Cerita di Balik Plang 'Selamat Datang di Kampung Debu' di Kalteng

Papan Plang Selamat Datang di Kampung Debu. (Foto: Joko Hardyono)
InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Persoalan infrastruktur di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) nampaknya masih belum merata. Khususnya di Jalan Macan Tali yang dinamakan warga "Kampung Debu". Butiran debu beterbangan, hilir mudik kendaraan melintas sudah menjadi santapan sehari-hari warga RT 02, Kelurahan Pangkut, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kobar, Kalteng.
ADVERTISEMENT
Jalan Macan Tali yang merupakan Jalan poros menuju pusat Kelurahan Pangkut ini merupakan jalan tanah dengan batu kerikil. Meski jalan mulus, namun tetap memprihatinkan lantaran kondisi musim kemarau saat ini warga di sekitar Jalan tersebut harus menutup pintu rapat-rapat setiap harinya.
Tidak ada waktu untuk anak-anak bermain di halaman depan rumah, semua warga memilih bermain di dalam rumah dengan menutup rapat jendela dan pintu rumah. Kondisi ini sudah dialami warga sejak sembilan tahun yang lalu.
Puluhan rumah yang terpapar jalanan sepanjang 1,5 kilometer ini harus menyiram jalanan menggunakan selang tiap pagi dan sore hari. Walau begitu, terik panas matahari cepat membuat jalan kembali kering dan berdebu.
"Setiap hari, pagi, dan sore kami siram, tapi namanya panas cepat kering, kembali lagi berdebu," ujar warga sekitar Ria Reviliana pada Kamis (8/8) saat dijumpai di kediamannya.
Ria bersama tetangga yang lainnya mendambakan Jalan di depan rumahnya beraspal. (Foto: Joko Hardyono)
Selain memasang beberapa drum di tengah Jalan untuk pemberitahuan kepada pengendara agar tidak melintas dengan kecepatan tinggi, warga juga berinisiatif memasang papan plang bertulisan "Selamat Datang di Kampung Debu" dan "Kapan Jalan Ini Diaspal, Rumah Kami Penuh Debu."
ADVERTISEMENT
"Bukan kami marah, bukan kami menyudutkan Pemerintah, ini sebagai ungkapan keluhan kami agar diperhatikan Jalan ini diaspal," tandasnya.
Ria meneruskan, warga juga setiap harinya harus mengepel lantai teras rumah sebanyak 3 kali sehari. Bahkan, ada anak balita yang terpapar debu sehingga harus diuap, dan banyak anak-anak lainnya yang juga mengeluh batuk. "Anak tetangga juga harus diuap, karena batuk-batuk terpapar debu," imbuhnya.
Ria bersama warga lainnya berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Barat lebih mengutamakan mengaspal Jalan Macan Tali. Pasalnya, sudah sejak lama warga mengidamkan Jalan beraspal dan telah disampaikan kepada Camat sebelumnya namun belum ada tanggapan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Dinas Pekerjaan Umun dan Penataan Ruang (DPUPR) Kobar Juni Gultom saat dihubungi belum ada jawaban terkait dengan permintaan warga Kampung Debu. (Joko Hardyono)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·