Mom
·
15 Oktober 2020 18:59

Berbagi Kebaikan Semenjak Dini dan Keutamaannya

Konten ini diproduksi oleh Inisiatif Zakat Indonesia IZI
Berbagi Kebaikan Semenjak Dini dan Keutamaannya (24099)
"Berbagi Kebaikan Semenjak Dini dan Keutamaannya" - Nana Sudiana, Direktur Pendayagunaan IZI saat mengajar singkat anak-anak madrasah yang menjadi korban bencana gempa Lombok pada 2018 lalu. Dok. IZI
Berbagi kebaikan perlu diwariskan kepada generasi berikutnya agar sifat ini terus hadir mewujudkan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Untuk itulah urgensinya membangun Dinasti Kebaikan.
ADVERTISEMENT
Dinasti selalu diidentikkan dengan lingkungan politik, padahal istilahnya bisa disandingkan dengan kosakata lain. Seperti perihal kebaikan dan kepedulian sosial, sebuah dinasti dapat terbangun dengan membawa nama keluarga pendirinya.
Istilah Dinasti tidak selalu merugikan layaknya pengertian mencari kekuasaan di dalam dunia politik. Dalam urusan zakat dan segala bentuk kebaikan, sebuah dinasti dapat terbangun.
Tidak ada memang sekolah bagi orang tua membangun Dinasti Kebaikan. Semua akhirnya kembali pada kemampuan dan keterampilan masing-masing dalam mengelola rumah tangga, termasuk merawat dan mendidik anaknya masing-masing.
Mewariskan spirit kebaikan dan kepedulian sosial kepada generasi berikutnya membutuhkan daya juang yang tiada henti. Maka dari itu, Nana Sudiana selaku Direktur Pendayagunaan Inisiatif Zakat Indonesia memberi gambaran singkat tentang mewariskan kepedulian sosial pada generasi penerus setelah kita. Baik generasi penerus secara genetis atau penerus secara ideologis.
ADVERTISEMENT
Urgensi Berbagi Kebaikan Semenjak Usia Dini
"Biarkan anak-anak Anda mengamati tindakan kebaikan Anda yang tidak mengenal tempat dan waktu, karena hal itu dapat menular" –Kevin Heath
Memiliki keturunan yang soleh dan solehat adalah harapan terindah yang dimiliki setiap orang tua. Ia-nya bentuk keberkahan dan kebaikan dari Allah SWT yang patut disyukuri.
Menggunakan pendekatan pekerja zakat di Indonesia, ternyata jumlah amil yang sudah menikah lebih sedikit dari yang belum menikah. Dan dari yang sudah menikah pun, sampai saat ini masih ada yang sedang berjuang agar dikaruniai seorang anak dalam keluarganya.
Harapan umum orang tua pastinya selain berprestasi lebih dari diri mereka dari sisi pendidikan, karier dan kedudukannya, juga lebih baik kehidupan agamanya. Ini terlihat umum dan sederhana, namun faktanya, tak semua orang tua mendapati itu semua.
Begitu dapat amanah anak, bagaimanapun caranya kita harus mulai merencanakan dan menyiapkan perawatan dan pendidikan anak-anak hingga nanti ia tumbuh dewasa dan mandiri.
ADVERTISEMENT
Orang tua yang Allah anugerahi anak-anak soleh atau solehah pastilah senang hatinya. Ia juga pasti akan bersyukur pada Allah atas amanah ini. Namun pertanyaan-nya, apakah anak-anaknya juga bangga memiliki orang tua seperti mereka?
Sebuah pepatah lama berkata “ketam menyuruh anaknya berjalan betul,” artinya, orang tua pandai menasihati anak, namun tak dapat melakukannya sendiri.
Relasi yang terbangun antara anak dengan orang tua ini amat tergantung pada kedekatan selama ini. Saat seorang anak merasa bangga kepada orang tuanya, maka hubungan yang terjadi antara anak dan orang tua akan menjadi lebih positif dan terjalin kehangatan.
Berkaitan soal orang tua yang menjadi kebanggaan anak, bukan berarti seorang ayah atau Ibu harus berprestasi, atau menduduki jabatan yang tinggi. Menjadi orang tua yang membanggakan anak adalah soal bagaimana orang tua dapat memenuhi kebutuhan anak, baik secara lahir maupun secara batin.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white