• 18

USER STORY

Boikot, Enggak, Boikot, Enggak, Boikot, Enggak...

Boikot, Enggak, Boikot, Enggak, Boikot, Enggak...



BOIKOT

Desain boikot (Foto: )
Saya tinggal sementara di Australia.
Di sini, saya bekerja sebagai buruh transportasi barang. Karena profesi tersebut, saya jarang beli-beli baju. Kalau toh beli, palingan cuma beli yang saya butuhkan buat kerja nyopir dan bongkar-muat. Misalnya kaos dengan warna jingga atau hijau menyala yang sesuai aturan standar keselamatan kerja. Atau ya celana.
Berkali-kali, untuk celana kerja, saya belinya di K-Mart. Itu semacam toko swalayan serba ada yang tersebar banyak di sini. Di situ pakaian murah-murah. Kualitasnya memang biasa saja, tapi potongan dan fungsinya, apalagi harganya, selalu cocok dengan kebutuhan dan kantong saya.
Satu celana panjang cargo gitu cuma 25 dolar, setara harga dua kali makan siang.
Namun ada satu hal yang selalu mengganggu batin saya tiap kali beli celana kerja di sana. Bukan karena bahannya yang agak panas, bukan karena retsletingnya yang seret, bukan pula karena warnanya yang lekas pudar. Tapi karena label di bagian dalam-belakangnya, yang selalu membuat mak-cenut ini dada: "Made in Bangladesh".
Memandang tulisan itu, istri saya berkomentar, “Itu yang bikin anak-anak seumuran Hayun lho, Pakne.”
Hayun anak perempuan saya. Umurnya tujuh tahun. Celetukan istri saya itu adalah celetukan nyelekit untuk menampar pipi kami sendiri.
Mencoba menyadari sambil tersenyum kecut campur pedih, bahwa proses pembuatan celana yang saya pakai itu bukan mustahil dijalankan oleh tangan-tangan mungil anak-anak, atau buruh-buruh perempuan lemah yang kesejahteraan dan keselamatan kerjanya ada pada level wallahua'lam.
Sembari membayangkan tangan-tangan rapuh itu, mak-bejujuk muncul juga di benak saya sebuah bangunan yang menjulang tinggi, sekian lantai, yang kusam dan berasap, lalu tiba-tiba ia geruduk-geruduk runtuh porak poranda... sambil melumat seribu manusia tak berdaya di dalamnya.
Tahun 2013, sebuah pabrik garmen di Dhaka ambruk. Tak kurang dari 1.100 orang buruh tewas di sana. Tragedi itu cuma puncak dari gunung es hitamnya dunia perburuhan di sektor industri pakaian jadi di Bangladesh.
Tentu saya mendengar kabar pahit itu. Dan karena itu juga, berlipatlah rasa gelisah saya saat memandangi celana yang terbeli baru saja.
Namun, gelisah berhenti sebatas gelisah. Ada sih, pikiran untuk tak lagi membeli pakaian di K-Mart. Semacam boikot, gitu.
Logika gampangannya ya karena K-Mart mengambil barang dari pabrik-pabrik garmen di Bangladesh, sementara pabrik-pabrik itu diduga kuat tidak memenuhi hak-hak para buruhnya.
Dengan memboikot produk garmen Bangladesh, maka saya tidak akan berkontribusi dalam eksploitasi berlebihan kepada kaum buruh di sana. Klir, kan? Tangan saya suci, tidak kecipratan dosa para juragan garmen, dan saya bisa membeli celana di toko lainnya.
Sayangnya, bayangan saya tidak berhenti di situ. Sebab segera terpikirkan juga, apakah sikap personal saya itu bakalan berpengaruh ke para big boss pabrik garmen?
Saya ragu. Andai toh sikap demikian dapat dijalankan secara masif, bisa-bisa yang terjadi bukanlah terpukulnya para pemilik pabrik. Kenapa? Sebab mereka kaya raya.
"Lho mereka diberitakan mengalami kerugian karena aksi boikot!"
Idih, jangan langsung percaya!
Buat konglomerat, yang namanya rugi tuh bukan hilangnya duit 1 Milyar yang sudah ada di tangan, melainkan: "Seharusnya sih dapat 2 Milyar, tapi gara-gara diboikot jadinya sekarang cuma dapat 1 Milyar."
Jadi lebih tepatnya bukan rugi, melainkan laba yang didapat tidak sebesar yang diharapkan. Gitu, kira-kira.
Nah, dengan aset produktif yang sedikit terganggu oleh boikot, mereka akan dengan gampang memindahkannya ke sektor bisnis lain.
Iya lah, gampang, lha wong orang kaya kok. Lalu, karena pabrik garmennya tak lagi menarik, ya perampingan dilakukan, modal dikurangi, dan... buruh-buruh dipecati.
Walhasil, maksud hati ingin memberikan pelajaran kepada tuan penguasa pabrik, apa daya si pemboikot malah berkontribusi bagi padamnya tungku dan dinginnya panci di dapur buruh-buruh malang itu.
Mengenaskan sekali, bukan? Lalu siapa yang akan menyelamatkan mereka?
Saya pernah mendengar cerita yang lain lagi. Ini tentang almarhum Profesor Suhardi, dulu guru besar di Fakultas Kehutanan UGM, yang belakangan jadi Ketua Umum Partai Gerindra. Ia terkenal dengan "Sumpah Gandum"-nya. Puluhan tahun ia menjalankan sumpahnya untuk tidak makan gandum.
Mengapa demikian?
Kebetulan kami pernah berbincang langsung sewaktu ia masih aktif mengajar. Kata Pak Hardi waktu itu, “Akar kemiskinan sebuah bangsa adalah ketika bangsa itu mengkonsumsi sesuatu yang tidak dapat diproduksi sendiri.”
Kita tahu, negeri kita bukan penghasil gandum. Namun masyarakat kita memakan gandum dengan rakus. Realitas semacam itu disikapi dengan sebentuk sikap sufistik Pak Hardi. Tak ada sejumput pun makanan berbahan gandum yang ia santap selama lebih dari 25 tahun dalam hidupnya. Dahsyat sekali.
Meski demikian, rasa hormat saya kepada Pak Hardi mencapai titik tertingginya, justru karena pria yang selalu naik sepeda kumbang ke mana-mana itu tidak mendakwahkan Sumpah Gandum-nya itu sebagai kebenaran publik. Ia menjalankannya semata sebagai sikap personal saja. Sebagai inspirasi bagi umat.
Begitulah sependek yang saya tahu.
Coba, bayangkan saja jika sumpah suci tersebut dikampanyekan, dan berhasil dijalankan oleh jutaan orang.
Pastilah bencana yang akan melanda para pedagang gorengan di setiap sudut kampung. Pastilah itu hantaman mematikan bagi setiap industri roti-rotian berikut segenap pengecernya.
Pastilah itu malapetaka besar yang menimpa akang-akang warung burjo 24 jam yang menggantungkan nafasnya dari menu terpenting di antara yang penting bagi peradaban: mie instan pakai telor.
Lantas siapa yang mau menebus nyawa mereka semua, yang akan menjamin tetap terisinya perut mereka semua, yang bakal menyekolahkan anak-anak mereka semua?
Boikot. Kata itu memang terdengar gagah. Progresif sekali. Sekali kita mengampanyekan aksi boikot, rasanya kita menjelma jadi Daud yang menantang Goliath.
Boikot memang alat perjuangan kaum lemah dalam menghadapi kekuatan-kekuatan besar. Itu tak dapat disangkal. Namun, begini Mas. Sepertinya kita perlu mencerna sejarah dengan lebih teliti...
Aksi boikot pertama kali dikenal ketika Lord Erne, seorang tuan tanah di Irlandia, menolak menurunkan harga sewa tanah bagi petani-petani yang menggarap lahannya.
Kapten Charles Boycott, tangan kanan Lor Erne, menjadi ujung tombak yang menekan para petani. Karena sebalnya para petani kepada Si Boycott, mereka bersepakat menghindari Pak Boycott beramai-ramai. Akibatnya Boycott gagal mendapatkan tenaga buruh panen, karena semua orang kompak menghindarinya.
Pendek cerita, ia pun bangkrut.
Coba disimak. Pihak yang menjadi korban aksi cikal bakal boikot itu ya cuma Charles Boycott dan tuannya, Lord Erne. Para pekerja memang jadi kehilangan kesempatan bekerja dan mendapat uang dari tuan-tuan tersebut.
Namun, mereka sudah diorganisir terlebih dulu, diajak pada satu kesepahaman visi. Dengan begitu, musuh bersama yang berhasil mereka pukul ya cuma para tuan tanah dan gedibal-gedibalnya. Dari sejarah khittah dasar boikot itu, tampaknya memang perlu dirumuskan ulang mengenai syarat dan rukun boikot yang baik dan benar.
Boikot dengan asal impulsif tanpa pemahaman atas siapa saja yang rentan menjadi korban, sepertinya konyol. Bisa-bisa, bakalan muncul korban-korban salah sasaran, dan kita sebagai pelaku boikot yang justru menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atasnya.
Tiba-tiba saya kepikiran ke pertanyaan semacam ini. Sebab sebulan terakhir, aksi boikot ngehits lagi, dan ternyata cukup masif. Ini luar biasa.
Apa yang saya bayangkan cuma akan berlangsung sepekan dua pekan, ternyata sampai hari ini tetap bertahan. Sudah beberapa kali saya mendengar cerita nggak enak gara-gara boikot tersebut. Misalnya tentang tukang roti yang penghasilannya anjlok sampai 60%.
Nah, saya cuma ingin bertanya, benarkah Anda sudah mengorganisir juga para pengecer roti itu, yang keliling dan yang di warung-warung, sehingga mereka berada di satu titik persamaan visi dengan Anda?
Atau justru Anda menganggap mereka bagian dari musuh laknat, padahal mereka orang-orang kecil yang tidak tahu menahu apa-apa? Betulkah Anda yakin untuk sekaligus menggulingkan periuk-periuk nasi mereka, demi tujuan yang entah apa?
Saya kok ingin sekali mendengar jawabannya, ya...

Satire

500

Baca Lainnya