Konten dari Pengguna

Sejarah Lokal: Solusi Kejenuhan dalam Belajar Sejarah

Izzata Fakhreza
Masyarakat Sipil, Mahasiswa UNEJ
14 Juni 2025 23:46 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sejarah Lokal: Solusi Kejenuhan dalam Belajar Sejarah
Sejarah lokal mendekatkan siswa pada masa lalu di sekitarnya. Dengan pendekatan ini, sejarah tak lagi membosankan, tapi jadi pengalaman belajar yang hidup, relevan, dan bermakna.
Izzata Fakhreza
Tulisan dari Izzata Fakhreza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Kenapa sejarah lokal penting diajarkan di sekolah?
Stereotip bahwasannya pembelajaran sejarah adalah pembelajaran yang membosankan masih sering ditemui di sekolah-sekolah hingga saat ini. Banyak dari siswa menilai pembelajaran sejarah terlalu teks book sehingga dalam proses pembelajarannya dialog antara guru dan murid hanya membicarakan seputar kronologi peristiwa, tahun kejadian, dan tokoh-tokohnya saja yang mana membuat siswa merasa kurang relate terhadap berbagai peristiwa sejarah yang terjadi. Seharusnya pembelajaran sejarah dapat melibatkan langsung siswanya untuk mengamati, merasakan, dan merasa dekat dengan berbagai peristiwa sejarah yang ada, sehingga selain paham dan mengerti akan materi mereka juga merasa dilibatkan yang membuat pembelajaran sejarah tidak lagi membosankan.
ADVERTISEMENT
Salah satu usaha yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi kejenuhan dalam pembelajaran sejarah adalah dengan mengupayakan siswa untuk bisa relate pada peristiwa-peristiwa sejarah. Peristiwa sejarah yang paling dekat dengan siswa adalah lingkup sejarah lokal, seperti berbagai sejarah yang terjadi di kota tempat mereka besar. Sejarah lokal ini memiliki potensi yang mana imajinasi dan alam berpikir siswa dapat terealisasikan dan tervisualisasi secara langsung. Tren positif ini dpaat meningkatkan semangat serta motivasi mereka dalam belajar sejarah.
Secara teori sejarah dibagi menjadi dua kajian, yaitu sejarah makro dan sejarah mikro. Sejarah makro adalah sejarah yang merujuk pada peristiwa besar sedangkan sejarah mikro adalah sejarah yang mempelajari peristiwa-peristiwa kecil yang berkontribusi pada peristiwa besar. Sejarah makro ini sudah sangat lazim diajarkan di bangku persekolahan, namun tidak demikian dengan sejarah mikro, sejarah ini seringnya tidak diajarkan di bangku persekolahan, padahal sejarah mikro memiliki potensi besar yang dapat digunakan guru untuk mengajak siswanya lebih dekat dengan sejarah.
ADVERTISEMENT
Melalui pendekatan sejarah mikro, pembelajaran sejarah dapat dikemas dalam bentuk proyek-proyek berbasis penelitian lokal seperti wawancara dengan tokoh masyarakat, studi arsip daerah, hingga kunjungan lapangan ke situs-situs bersejarah di sekitar sekolah. Kegiatan ini memungkinkan siswa mengalami langsung proses belajar sejarah, tidak sekadar mendengarkan dan mencatat, tetapi juga meneliti, bertanya, dan menarik kesimpulan secara aktif. Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal informasi sejarah, melainkan juga membangun keterampilan berpikir kritis, empati historis, dan pemahaman kontekstual terhadap kehidupan masyarakat masa lalu dan relevansinya dengan masa kini.
Dengan memanfaatkan sejarah mikro yang ada di lingkungan sekitar, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka ruang refleksi dan kedekatan emosional siswa terhadap sejarah itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, sudah saatnya pembelajaran sejarah di sekolah mengadopsi pendekatan yang lebih kontekstual dan partisipatif. Dengan mengintegrasikan sejarah mikro dalam kegiatan belajar, guru dapat menjembatani jarak antara siswa dan materi sejarah yang selama ini terasa jauh dan membosankan. Upaya ini bukan hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap sejarah lokal dan nasional. Jika sejarah diajarkan dengan cara yang lebih dekat, nyata, dan menyentuh sisi emosional siswa, maka bukan tidak mungkin sejarah akan menjadi pelajaran yang dinantikan, bukan dihindari.
Izzata Fakhreza - Mahasiswa UNEJ
"JAS MERAH" slogan Bung Karno yang artinya Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. (Foto Pribadi)