Buzz
·
10 September 2021 18:25
·
waktu baca 2 menit

Kebaikan yang Tertolak

Konten ini diproduksi oleh Jan Ekklesia
Kebaikan yang Tertolak (392591)
searchPerbesar
Ilustrasi Kebaikan, Sumber : freepik
Sekian banyak purnama, sekian banyak pula orang-orang yang berjibaku bertahan dalam anomali pandemi. Banyak yang menginginkan adanya perubahan, tetapi banyak juga yang menginginkan kondisi ini terus berlanjut. Dapat kita asumsikan bahwa orang-orang yang menginginkan adanya perubahan pastilah berasal dari kalangan yang tertekan. Sementara orang-orang yang menginginkan status quo adalah dari kalangan yang menikmati pandemi. Dari situ pula, muncul orang-orang yang baik hati. Maksudnya, muncul orang-orang yang berempati dengan cara berbagi, sedekah, membantu UMKM, sampai promo gratis di kafe atau restoran.
ADVERTISEMENT
Ada satu kisah menarik yang baru saja dialami ketika saya sedang mencari makan. Ketika itu, di perempatan lampu merah, arah mata saya tertuju pada pasangan yang membagikan sebuah nasi bungkus. Ya, dari bungkusnya terlihat bahwa itu makanan. Mereka membagikannya kepada tukang becak yang sedang duduk lesehan. Tetapi saya kaget ketika gestur yang diberikan tukang becak tersebut seperti menolak. Dengan tangan memegang bungkus makanan, ia menyodorkan kembali sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda tak terima. Tapi, pasangan itu kemudian lalu begitu saja. Mungkin mereka bilang "Tidak apa-apa, Pak, diterima saja."
Alhasil, saat itu juga si tukang becak langsung melempar bungkus makanannya ke samping. Saya dan beberapa orang yang mungkin melihat kejadian itu menaruh perhatian lebih. Pandangannya tidak lepas dari si bapak tua itu. Ketika lampu hijau, saya segera meninggalkan tempat itu.
ADVERTISEMENT
Saya berpikir, ternyata orang yang kita anggap pasti mau diberi hal-hal seperti itu justru mempunyai sikap menolak. Saya tidak tahu permasalahan apa yang dialami orang tersebut sampai-sampai menolak pemberian makanan. Asumsi saya, kakek tersebut menolak lantaran pernah ada kejadian buruk yang menimpanya. Entah dirinya merasa dipermalukan atau sebagainya.
Hal ini bisa kita ambil, glorifikasi terhadap orang-orang yang kita anggap terpinggirkan, kemudian dengan begitu kita berbuat baik, tidak akan menjadikan masalah orang tersebut selesai. Tentu, bukan berarti kita berhenti untuk memberi atau bersedekah. Tapi, jangan sampai kebaikan yang kita miliki, kita salah artikan.
Memahami lebih penting daripada sekadar memberi secara materil. Kebaikan tidak selalu akan diterima, tetapi kebaikan akan selalu diingat. “Teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular”
ADVERTISEMENT