Pencarian populer
USER STORY
22 Oktober 2018 17:59 WIB
1
0

Sambil Bersarung, Wali Kota Malang Akan Ajari Materi Syar'i ke PKL

jatimnow.com – Pemerintah Kota Malang menggelar apel pagi dengan menggunakan sarung dan peci layaknya santri. Hal ini memang untuk memperingati Hari Santri Nasional di Malang.

Selain apel sarungan, Pemkot Malang juga menggelar festival wisata halal dari pelaku wisata yang ada di Kota Malang.

Festival wisata halal ini digelar di sepanjang Jalan Gajah Mada dan menjadi bagian dari promosi wisata halal yang di-branding oleh Pemkot Malang.

Baca Juga:

Tampak beberapa pebisnis wisata seperti pengusaha kuliner, perhotelan, hingga fashion memamerkan produk-produk yang dijamin halal.

Dari kuliner misalnya, ada keripik tempe, bakso, dan olahan keripik buah menjadi yang bisa dinikmati di festival yang hanya digelar hingga Senin malam (22/10/).

Wali Kota Malang Setiaji menargetkan Kota Malang serius menjadi destinasi wisata halal di tahun 2019 mendatang.

"Nanti para pelaku kuliner kita akan dibekali materi secara syar'i terkait pengolahan makanannya. Jadi nanti akan kita bedah," ujar Sutiaji di sela-sela meninjau beberapa produk asli Malang.

Ia menambahkan, halal yang dimaksudkan di sini bukan pergi ke tempat kuliner harus berbusana muslim, tapi lebih ke proses pengolahan dan penyajiannya.

"Jadi, halal itu ada dua sisi subtansi dan prosesnya. Kalau pada makanan, makanannya halal tapi prosesnya tidak halal kan jadi tidak halal," ungkapnya.

Demi mewujudkan wisata halal itu, Kota Malang juga akan melakukan sertifikasi para pelaku wisata halal tersebut.

"Sertifikasinya yang kuliner dilakukan kerja sama dengan teman-teman kuliner. Nanti ada tim verifikasi. Kalau untuk pengujiannya di laboratorium Universitas Brawijaya sudah bisa disiapkan," lanjutnya.

Sementara itu, salah seorang santriwati Nur Aliya Shafira mendukung program wisata halal yang dicetuskan Pemkot Malang.

Siswi MTSN di Kota Malang ini menilai beberapa produk olahan makanan yang dijual di pedagang kaki lima terkadang belum terjamin kehalalannya.

"Lebih cocok dan bisa diterima kita sebagai santri. Terlebih masih ada jajanan dari pedagang kaki lima yang kurang jelas kehalalannya," pungkasnya.

Editor: Arif Ardianto

Reporter: Avirista Midaada

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53