kumparan
KONTEN PENGGUNA
2 Agustus 2019 7:19

Berkunjung ke Masjid Tua 'Gantarang Lalang Bata' di Pulau Selayar

Pulau Selayar tidak hanya bercerita tentang pantai yang indah, laut yang bening, pepohonan hijau dan langit biru. Tapi bercerita tentang masa lalu. Saya dan Theo, teman pejalan saya, mencoba untuk menelusuri sisa-sisa masa lalu yang ada di Selayar.
ADVERTISEMENT
Kami mendapatkan info mengenai sebuah masjid kuno yang konon dibangun pada abad XVI (abad 16 M) saat pemerintahan Sultan Pangali Patta, Raja pertama yang memeluk agama Islam di Sulawesi. Penasaran, kami pun mencari tahu lokasi masjid tersebut.
gantarang 1.jpeg
Pemandangan dari dalam halaman masjid Gantarang.
Masjid Gantarang Lalang Bata, itulah namanya. Masjid kuno itu terletak di dalam dusun Gantarang. Jaraknya sekitar 12 kilometer dari tempat kami menginap di sekitar kota Benteng. Di bawah teriknya matahari kami pun melesat menuju perkampungan Gantarang menggunakan sepeda motor. Berbekal GPS dengan sinyal terbatas, setiap langkah kami pun tak luput bertanya kepada warga sekitar.
Sampai di depan gapura, GPS kami mati dan kami pun bertanya kepada warga yang tengah asik mengobrol di teras rumah. Seorang bapak tua memberikan petunjuk kepada kami.
gantarang 2.jpeg
Masjid Gantarang, meskipun tua tapi masih berdiri kokoh.
"Lokasinya masuk ke dalam itu kak, tapi hati-hati ya, jalannya rusak parah," ucapnya kepada kami.
ADVERTISEMENT
Mendengar petunjuk itu, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan. Dalam hati saya bergumam "mana ada jelek, jalannya bagus begini dibilang jelek."
Kami melaju dengan perlahan, mulai dari jalanan yang bagus dan lancar hingga pada akhirnya sampai ke jalan yang susah dijangkau. Batuan kasar dan medan yang naik turun membuat saya harus rela turun dari motor. Sementara Theo berjuang menjaga keseimbangan agar motor tidak terjatuh karena terpeleset.
gantarang 3.jpeg
Jalan masuk ke kawasan pedesaan Gantarang.
Pemandangan di sekitar jalan adalah semak-semak belukar. Sebelah kanan hutan rimba dan sebelah kiri tebing dengan pemandangan laut biru. Inilah yang membuat saya masih merasa bersyukur dengan keadaan. Meski harus berjuang, setidaknya saya masih bisa menikmati pemandangan.
Jalanan yang rusak membuat perjalanan menjadi lama dan tak berujung. Namun kami tak mau menyerah hingga pada akhirnya tibalah di sebuah pintu desa dengan anak tangga yang tinggi. Tak lama kami memarkir kendaraan, melintas di depan kami anak-anak berseragam putih biru. Tanpa ragu saya pun memastikan letak masjid Gantarang itu kepada mereka.
ADVERTISEMENT
Senangnya, akhirnya saya sampai juga. Tapi, perjuangan saya tidak seberat anak-anak sekolah itu. Mereka bercerita kepada saya kalau dia harus menempuh perjalanan dari kampung mereka hingga gapura desa dengan cara berjalan kaki. Saya yang naik motor, saya mengeluh sepanjang jalan.
Kami pun berjalan memasuki kampung dan melihat masjid tua itu. Dari luar, masjid itu memang sudah tua. Bangunan dengan atas limas yang bersusun, nampak sebuah makam di halaman depan masjid. Uniknya lagi, saya melihat adanya meriam kecil di depan pintu gerbang. Entah apa fungsinya.
Menurut catatan sejarah, Kabupaten Selayar, Kepulauan Selayar, merupakan daerah penerima ajaran agama pertama di Semenanjung Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini jauh sebelum masyarakat Gowa mengenal agama Islam. Penyebarluasan ajaran agama Islam pertama di Sulawesi Selatan bermula dari perintah Raja Arab dan khalifahnya di Makkah kepada Datu Ribandang untuk berangkat dan menyebarluaskan ajaran agama Islam di Maluku dan Buton.
ADVERTISEMENT
Di dalam masjid tua tersebut juga terdapat sejumlah benda peninggalan zaman dulu yang memperkuat fakta adanya sejarah bahwa Datu Ribandang pernah singgah dan menapakkan kaki di Kabupaten Kepulauan Selayar. Tapi saat kami datang ke desa Gantarang, suasana nampak sepi. Tak ada warga yang bisa kami tanya perihal masjid kuno tersebut.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan