Menuntut Ilmu di Negeri Orang, Jangan Lupa Pulang!

An undergraduate Management student studying in Universitas Katholik Parahyangan. I am passionate and driven, also a creative person with lots of experience in writing and creating art.
Konten dari Pengguna
15 Januari 2022 11:40
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari jessica tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menuntut Ilmu di Negeri Orang, Jangan Lupa Pulang! (337021)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Shuttersock.com
Tidak bisa dipungkiri bahwa menuntut ilmu di luar negeri telah menjadi mimpi banyak mahasiswa di Indonesia. Keinginan untuk memperkaya diri lewat pendidikan yang berkualitas sering kali dijadikan alasan utama oleh mahasiswa. Pepatah yang mengatakan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,” tentunya mewakili kepergian pelajar Indonesia, tidak hanya ke negeri Cina, tapi ke berbagai negara di belahan dunia.
ADVERTISEMENT
Faktanya, survei Ikatan Konsultan Pendidikan Indonesia membuktikan bahwa setidaknya 35 ribu mahasiswa melanjutkan pendidikan mereka ke luar negeri setiap tahunnya. Kesempatan ini juga didukung oleh banyaknya beasiswa yang tersedia. Tentu menjadi daya tarik sendiri untuk kuliah di luar negeri dengan keringanan bahkan tanpa membayar biaya yang nilainya fantastis.
Harapannya, masyarakat Indonesia yang menjadi mahasiswa di luar negeri harus kembali ke Indonesia untuk membangun Tanah Air.
Para pelajar Indonesia pergi ke luar negeri dengan ekspektasi tinggi. Lingkungan yang berbeda dengan daerah asal mereka, pendidikan dengan fasilitas yang tidak terbatas, dan relasi yang luas dengan orang dari berbagai belahan dunia. Namun satu hal yang tidak bisa dilupakan, upah yang berkali kali lipat jumlahnya dibanding yang mereka dapatkan jika bekerja di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Memang, biaya hidup di luar negeri pun jauh lebih besar, tapi hal ini tidak menjadi kekhawatiran bagi mereka yang berniat mengirim sebagian penghasilan mereka untuk keluarga di Indonesia. Akibat perbedaan mata uang yang signifikan, hidup keluarga mereka di Indonesia sudah terjamin. Melihat keuntungan yang didapatkan dengan bekerja di negeri seberang, kembali ke negeri sendiri sudah tidak menjadi pilihan.
Nadiem Anwar Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia, mengemban ilmu di universitas ternama Amerika dan kembali ke Indonesia untuk memberikan kontribusinya. Beliau menjadi contoh bahwa sukses tidak hanya di negeri orang saja, tapi juga di Tanah Air sendiri.
Tentu tidak semua orang ingin menjadi menteri atau melakukan pengabdian, namun yang sering dilupakan adalah hal hal kecil yang memberi dampak besar. Melibatkan diri dalam organisasi non-profit merupakan contoh sederhana untuk memajukan bangsa. Hapuskan pikiran bahwa lulusan luar negeri harus bersaing dengan lulusan dalam negeri, kedua pihak dapat berkolaborasi untuk membangun Indonesia.
ADVERTISEMENT
Para pelajar juga disulitkan dengan ijazah yang tidak diakui oleh negara. Proses penyetaraan diperlukan, namun tentu akan memakan waktu. Lagi lagi muncul faktor penghambat kepulangan mereka ke Indonesia. Melalui Simposium Perhimpunan Pelajar Indonesia, Nadiem Makarim menyatakan komitmennya untuk mengakui semua ijazah, termasuk luar negeri, untuk bekerja di Indonesia. Jika komitmen ini dijalankan, pemerintah akan turut mendukung kembalinya para pelajar Indonesia dari luar negeri. Masalah ini tidak lagi menjadi penghambat bagi mereka untuk menjalankan tugasnya sebagai warga negara Indonesia.
Dalam masalah ini, pihak pro dan kontra akan selalu ada, namun kewajiban membangun negeri Indonesia adalah hal yang tidak perlu didebatkan. Pelajar Indonesia bersusah payah dan berkompetisi agar bisa mendapat pendidikan di luar negeri. Mereka melalui proses pengembangan diri yang memperkaya mereka dengan ilmu dan pengalaman. “Kembali ke Tanah Air, Indonesia membutuhkan Anda,” ucap Mendikbudristek, Nadiem Makarim.
ADVERTISEMENT
Pemerintah berkomitmen untuk mempermudah kepulangan dan pengakuan kerja di Indonesia. Pelajar Indonesia mempunyai semua alasan untuk kembali dan membangun Indonesia. Dengan demikian, jangan tanyakan apa yang sudah diberikan oleh Indonesia, tapi apa yang sudah diberikan untuk Indonesia.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020