kumparan
7 Oktober 2017 9:25

Kisah Anak Penjual Kopi Keliling Wakili Indonesia ke Kanada

Anak Penjual Kopi Wakili Indonesia ke Kanada (Foto: Dok. Istimewa)
Seorang anak penjual kopi keliling bernama Monica (15) akan mewakili Indonesia dalam acara 'The WHO 8th Milestone of Global Campaign for Violence Prevention' di Ottawa, Kanada. Monica yang akan menjadi narasumber di acara bertaraf internasional itu akan berangkat ke Kanada pada 16 Oktober mendatang.
ADVERTISEMENT
Perjalanan Monica untuk memastikan langkahnya ke Kanada tidak mulus. Monica selama ini hidup terpisah dengan ibunya, Purwati, yang berjualan kopi keliling di daerah Senen, Jakarta Pusat. Monica terpaksa hidup terpisah di sebuah panti asuhan di Yogyakarta lantaran ayahnya meninggal dunia, sedangkan ibunya berjuang mencari nafkah.
"Monica sempat nyaris tidak bisa berangkat karena visa ke Kanada itu harus ditandatangani orang tuanya. Sedangkan orang tua Monica tinggalnya tidak menetap," ungkap Farid, relawan yang membantu Monica dan merupakan anggota di Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah kepada kumparan (kumparan.com), Sabtu (7/10).
Sebelumnya, dia menceritakan, kisah Monica ini berawal pada tahun 2016. Save the Children, sebuah NGO yang khusus menangani permasalahan anak di Indonesia mendapatkan undangan dari WHO.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, melalui Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Save the Children menyelenggarakan konsultasi anak di 3 kota, yaitu Bandung, Kupang, dan Yogyakarta. Mereka melakukan seleksi untuk mengirimkan perwakilan ke acara WHO tersebut.
Anak-anak yang ikut seleksi diminta untuk membuat tulisan. Dan, ia mengirimkan tulisan tentang 'Mengakhiri Kekerasan Terhadap Anak'. Setelah melalui sejumlah tahapan, Monica akhirnya terpilih.
Cerita membanggakan itu masih panjang. Untuk bisa berangkat ke Kanada, visa Monica harus mendapatkan persetujuan dari ibunya. Padahal, selama ini ibu yang tinggal bersama adik Monica tak terdeteksi lokasi tinggalnya. Terakhir ibu Monica tinggal di daerah Senen.
Anak Penjual Kopi Wakili Indonesia ke Kanada (Foto: Dok. Istimewa)
Pihak Save the Children kemudian meminta tolong kepada Farid, untuk mencari keberadaan ibu Monica. Save the Children memberi kabar tentang persetujuan itu pada Rabu (4/10) sekitar pukul 09.00 WIB. Sementara batas waktu dari Kedubes Kanada untuk mendapat persetujuan ibu Monica itu Rabu (4/10) pukul 12.00 WIB.
ADVERTISEMENT
"Ibu Monica ini enggak terdeteksi, karena hidup di emperan, tinggal di emperan sama adik Monica yang umur 10 tahun. Tetapi menariknya, ibu Monica itu sangat peduli pendidikan, dia rela hidup di emperan agar bisa mengupayakan pendidikan untuk anaknya," kata Farid.
Pencapaian ibu Monica kemudian dilakukan. Dari foto terakhir ibu Monica, Farid lantas berinisiatif untuk menyebarkannya ke sejumlah grup Whatsapp yang ia miliki. Lalu bersama relawan lain ia melakukan pencarian.
Sekitar pukul 10.30 WIB, ibu Monica akhirnya ditemukan di sekitaran Senen. Permasalahan lain pun datang. Mereka sempat kebingungan untuk mencari kendaraan yang akan digunakan untuk mengantarkan ibu Monica mengurus persyaratan pemberangkatan Monica ke Kanada di Kuningan City Mall.
Anak Penjual Kopi Wakili Indonesia ke Kanada (Foto: Dok. Istimewa)
Farid menceritakan, kepanikan sempat terjadi lantaran waktu yang mepet. Beruntungnya, ada seorang sopir taksi Blue Bird yang mau mengantarkan. Pihak relawan kemudian menceritakan kepada sopir taksi itu keadaan yang sedang mereka alami. Akhirnya sopir taksi itu ikut membantu untuk mencari rute tercepat.
ADVERTISEMENT
"Macet di mana-mana waktu itu. Panik itu di dalam (taksi), kita doa-doa," kata Farid.
Akan tetapi kepanikan itu akhirnya reda saat sopir taksi berhasil sampai tepat waktu di Kuningan City Mall. Ibu Monica dibantu pihak Save the Children selanjutnya mengurus segala persyaratan untuk Monica agar bisa berangkat ke Kanada.
Monica dijadwalkan akan berangkat ke Kanada pada 16 Oktober. Gadis kecil itu akan menjadi perwakilan Indonesia di acara WHO yang akan berlangsung tanggal 19-20 Oktober 2017.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan