Kumplus- Opini 3 JJ Rizal- Ibu Kota Baru

Abu Garuda di Istana Ibu Kota Baru

Sejarawan. Pengelola penerbit Komunitas Bambu.
8 April 2021 19:40
·
waktu baca 7 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ki Hadjar Dewantara. Tokoh pergerakan nasional pendiri sekolah Taman Siswa dan partai politik pertama di Hindia Belanda ini mungkin lebih bertanggung jawab dari siapa pun juga atas dipilihnya burung Garuda sebagai inspirasi lambang negara.
“Saya membuat sketsa berdasarkan masukan Ki Hadjar Dewantara dengan figur Garuda dalam mitologi yang dikumpulkan beliau dari candi-candi di Pulau Jawa,” tulis Sultan Hamid II, perancang lambang negara kita, dalam suratnya kepada penulis biografi Solichin Salam pada 15 April 1967.
Pada masa pemerintahan Airlangga di abad ke-11, menurut Ki Hadjar, lambang kerajaan adalah Garudamukha yang sering kali digambarkan di bagian atas prasasti batu. Garuda di sini mengacu kepada kendaraan Dewa Wisnu, suatu gambaran ketangkasan dan keganasan untuk mempertahankan kehidupan dari segala bentuk kejahatan. Arkeolog Ninie Susanti dalam bukunya Airlangga Raja Pembaru Jawa (2010) mengaitkan lambang pilihan Airlangga itu dengan “cita-citanya menyatukan kerajaan yang terpecah-pecah”.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Jika pemerintah gagal menegakkan sociale rechtvaardigheid tapi pemimpinnya dipuja, ingat piwulang Blegeduwong: bulu ayam setebal apa pun tidak akan menutupi perbuatan bohongnya. Kolom JJ Rizal di kumparanplus, terbit tiap Rabu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten