Pencarian populer

Isu Politik dan SARA Kuasai Berita Hoax di Indonesia

Ketua Umum Mastel, Kristiono (Foto: Jofie Yordan/kumparan)
Berita palsu atau yang sering disebut hoax menjadi masalah utama di berbagai belahan dunia. Masalah ini sudah sangat mengkhawatirkan di Indonesia karena isu politik dan SARA paling sering diangkat jadi materi untuk konten hoax.
ADVERTISEMENT
Isu sensitif soal sosial, politik, lalu suku, agama, ras, dan antar golongan, dimanfaatkan para penyebar hoax untuk memengaruhi opini publik, menurut riset yang dilakukan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel).
Dalam riset Mastel, sebanyak 91,8 persen responden mengaku paling sering menerima konten hoax tentang sosial politik, seperti pemilihan kepala daerah dan pemerintahan. Tidak beda jauh dengan sosial politik, isu SARA berada di posisi kedua dengan angka 88,6 persen.
Bentuk konten hoax yang paling banyak diterima responden adalah teks sebanyak 62,1 persen, sementara sisanya dalam bentuk gambar sebanyak 37,5 persen, dan video 0,4 persen.

Walau berita hoax sengaja dibuat untuk mempengaruhi publik dan kian marak lantaran faktor stimulan seperti isu sosial politik dan SARA, namun penerima hoax cukup kritis karena mereka telah terbiasa memeriksa kebenaran berita.

- Kristiono, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia

ADVERTISEMENT
Ketua Umum Mastel, Kristiono, memaparkan sudah banyak penerima hoax yang tidak percaya begitu saja dan mengecek kebenarannya terlebih dahulu, namun sebagian di antaranya masih mengalami kesulitan dalam mencari referensi.
"Masyarakat menyukai hal-hal heboh. Ini berbahaya, karena bisa jadi perilaku. Mereka bisa memproduksi hoax agar bisa menimbulkan kehebohan," kata Kristiono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (13/2).
Responden riset ini juga menyatakan mereka paling sering mendapatkan konten hoax dari media sosial, sebanyak 92,4 responden menyatakan demikian. Media sosial tersebut adalah Facebook, Twitter, Instagram, dan Path. Angka ini cukup jauh jika dibandingkan dengan situs web (34,9 persen), televisi (8,7 persen), media cetak (5 persen), email (3,1 persen), dan radio (1,2 persen).
ADVERTISEMENT
Kristiono menegaskan pentingnya literasi dalam membentuk pemahaman masyarakat ketika menerima hoax, bagaimana cara mereka menghadapi berita palsu yang diterima.
Mastel sendiri berencana membangun platform Mitigasi Hoax yang bertujuan meningkatkan literasi masyarakat melalui peran aktif pemerintah, pemuka masyarakat atau komunitas, menyediakan akses sumber informasi yang benar atas setiap isu hoax, melakukan edukasi sistematis berkesinambungan, serta tindakan hukum yang efektif bagi penyebar hoax.
Survei yang dilakukan Mastel didapat dari responden dengan rentang usia 25-40 tahun (47,8 persen), di atas 40 tahun (25,7 persen), 20-24 tahun (18,4 persen), 16-19 tahun (7,7 persen), dan di bawah 15 tahun (0,4 persen).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86