• 2

PBB akan Ikut Campur Urus 'Robot Pembunuh'

PBB akan Ikut Campur Urus 'Robot Pembunuh'



Terminator (Cover)

Robot terminator dalam film Terminator (Foto: Wikimedia)

Tidak bisa dibayangkan jika karakter robot pembunuh seperti yang ada di film Terminator hadir di Bumi yang ditempati manusia sekarang. Umat manusia punya kabar baik terkait ancaman itu, karena PBB akan mengajak negara-negara anggotanya membicarkan teknologi senjata otonom.
Senjata otonom atau disebut juga 'robot pembunuh', dikendalikan dengan teknologi artificial intelligence (AI) yang dapat memilih dan menyerang target tanpa campur tangan manusia. Senjata yang masuk kategori ini termasuk drone bersenjata dan rudal. Negara-negara maju sudah mengembangkan teknologi macam itu, seperti China, Israel, Korea Selatan, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat.
Pengembangan senjata otonom menimbulkan banyak pertanyaan, dan banyak kekhawatiran pengembangannya kebablasan sehingga mengancam hak dasar manusia untuk hidup.
Tahun depan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) akan mengundang sebanyak 123 negara untuk berpartisipasi dalam sebuah diskusi terkait bahaya dari sistem senjata otonom yang mematikan dalam acara International Convention on Conventional Weapons di Jenewa, Swiss.
Pertemuan ini akan menjadi tindak lanjut dari gerakan yang mendukung pelarangan senjata otonom dengan teknologi AI yang dianggap berbahaya.

Usul dari Ahli
Tahun lalu, lebih dari seribu ilmuwan dan pemimpin industri, termasuk Stephen Hawking, Elon Musk, dan perwakilan Google serta Microsoft, sudah menandatangani sebuah surat kepada PBB agar mengambil tindakan terkait kecerdasan buatan termasuk senjata otonom. Mereka tergabung dalam gerakan 'Kampanye untuk Menghentikan Robot Pembunuh'.
Para ilmuwan berpendapat kehadiran senjata otonom dapat menciptakan kemunduran dalam pandangan dunia terhadap sistem teknologi, di mana akan terlalu banyak sistem otonom, yang dapat merusak bukan hanya untuk masyarakat tetapi peradaban manusia.
Direktur Human Rights Watch, Stephen Goose, mengatakan diskusi yang akan diadakan di Jenewa itu adalah sebuah kemajuan. Ia berharap fase diskusi ini bisa naik kelas menjadi sebuah tindakan nyata.
Pada Agustus lalu, salah satu negara pengembang senjata ini, China, menyatakan sedang mengutak-atik penggunaan AI dan sistem otonom dalam rudal serang generasi berikutnya.
"Rencana China mengenai senjata dan kecerdasan buatan mungkin terdengar menakutkan, tapi tidak semenakutkan usaha-usaha sejenis yang dilakukan oleh Rusia, AS, Israel, dan lainnya," ujar Goose kepada Seeker.
Menurutnya, AS sudah melangkah lebih jauh dibanding negara lain dalam pengembangan senjata otonom. 'Robot pembunuh' dapat datang dalam berbagai ukuran dan bentuk, termasuk versi miniatur mematikan yang dapat menyerang dalam jumlah besar, dan dapat beroperasi di udara, darat, laut, dan bawah laut.

Kewenangan Manusia
Goose juga menggarisbawahi, masalah utama dari kehadiran senjata tersebut adalah terkait kewenangan manusia dalam mengambil keputusan melepas serangan dari senjata. Sistem senjata dari 'robot pembunuh' yang menggunakan AI dan sensor, dianggap dapat mengubah cara berperang dan bukanlah hal positif bagi manusia.
"Kunci yang membedakan senjata otonom penuh dari senjata konvensional, atau senjata semi otonom seperti drone, adalah tidak ada lagi peran manusia dalam memutuskan apa atau siapa yang menjadi target dan kapan ia akan menyerang," ujar Goose.
"Bahaya dari senjata otonom itu sudah bisa diramalkan, dan kami harus mengambil aksi dari sekarang untuk mencegah potensi terjadinya kehancuran di masa depan yang merusak penduduk, tentara, dan planet," tutup Goose.
Oleh karena itu, Goose menyebut bahwa masukan dari perwakilan negara dan para ahli menjadi sangat penting untuk menentukan masa depan dan tindakan dalam mengembangkan teknologi senjata otonom.

TeknologiRobotPBBKecerdasan Buatan

500

Baca Lainnya