• 0

Kelompok Bahrun Naim Pakai Telegram untuk Sambung Pesan

Kelompok Bahrun Naim Pakai Telegram untuk Sambung Pesan



Ilustrasi Telegram

Ilustrasi Telegram (Foto: Dado Ruvic/REUTERS)

Teror bom kembali menghantui Indonesia jelang momen Natal dan Tahun Baru 2017. Nama Bahrun Naim kembali dikaitkan dengan jaringan teroris yang digerebek polisi di Tangerang Selatan, Deli Serdang, Batam, dan Payakumbuh, pada Rabu (21/12).
Bahrun Naim berada jauh di Raqqa sana, sementara para pelaku yang berhasil ditangkap berada di Indonesia. Mereka memanfaatkan media sosial dan aplikasi pesan instan untuk berkoordinasi, dan yang paling sering digunakan oleh kelompok ini adalah Telegram.
Kelompok yang dikendalikan Bahrun Naim ini tergabung dalam Jaringan Ansharut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN) yang berafiliasi dengan ISIS. Polri telah menyatakan kelompok kecil tersebut berkomunikasi dan diarahkan lewat Telegram.
Telegram merupakan aplikasi tukar pesan yang memiliki sistem enkripsi dan memungkinkan penggunanya untuk menghapus pesan dengan pengatur waktu. Telegram diyakini sebagai alat komunikasi favorit kelompok radikal Islamic State (ISIS).
Studi dari perusahaan keamanan siber Flashpoint pada pertengahan 2016, menyatakan bahwa Facebook dan Twitter juga dimanfaatkan ISIS untuk menyebar propaganda. Tetapi, dua perusahaan itu secara agresif menutup akun pengguna yang terkait ISIS pasca serangan Paris, 13 November lalu.
Sejak saat ini, Flashpoint meyakini kelompok ISIS menggunakan Telegram lebih sering.
Anggota ISIS mendaftar akun di Telegram dengan nomor telepon palsu melalui aplikasi penyedia nomor virtual. Beberapa juga tidak menggunakan username atau memakai username palsu. Komunikasi dilakukan melalui grup-grup tertutup yang diundang melalui tautan khusus (invite link) dan akan selalu diperbarui.
Telegram juga memiliki fitur channel, yang membuat pengguna dapat mengirim pesan broadcast ke banyak orang. Setelah beberapa channel dari ISIS diblokir oleh Telegram tahun lalu, kini, ISIS menggunakan invite link tersebut untuk mendapatkan akses ke dalam channel ISIS yang tidak berdasarkan username, sehingga lebih sulit dilacak.
Dalam channel ini, terdapat instruksi untuk anggotanya agar tidak menyebar atau meneruskan informasi yang telah didapat. Anggota channel diminta menyebarkan informasi dengan cara copy-paste untuk mencegah sumber informasi tersebut diungkap.
Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya dari Vaksincom yang berbasis di Jakarta,menyebut kelompok ISIS memilih Telegram atas pertimbangan asal negaranya, Rusia. Tetapi Alfons meyakini sebagian kecil dari anggota kelompok ISIS masih memakai media lain untuk berkomunikasi dengan kelompok yang lebih kecil.
"Telegram adalah salah satu platform yang populer dan asalnya bukan dari Amerika, melainkan Rusia. Mungkin mereka (teroris) merasa lebih aman, karena kalau di Amerika Serikat rentan dimonitor oleh NSA (Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat)," ujar Alfons kepada kumparan.
Sebagian kecil kelompok ISIS, menurut riset Trend Micro, tercatat juga memakai aplikasi pesan lain seperti WhatsApp, Signal, dan Wickr, tetapi jumlahnya hanya sekitar 15 persen.
Laporan Trend Micro mengatakan polisi di beberapa negara berhasil melakukan 16 penangkapan dan penggerebekan terorisme setelah melakukan mata-mata lewat WhatsApp.
Meski sama-sama memiliki sistem enkripsi, Telegram dianggap memiliki lebih banyak fitur yang mendukung pergerakan ISIS ketimbang WhatsApp. Di sana terdapat fitur bot yang bisa menyediakan berbagai interaksi, tetapi komunikasinya cenderung satu arah. ISIS dikabarkan juga sering memanfaatkan fitur bot ini.
Kendati Telegram mengklaim aplikasinya aman, sistem enkripsi dari Telegram ternyata masih dapat diretas. Pada September lalu, intelijen Prancis berhasil meretas akun Telegram perekrut ISIS, Rachid Kassim, yang memberikan arahan-arahan terkait rencana penyerangan dalam obrolan pribadi.
Kassim diduga menjadi dalang pembunuhan dua polisi pada Juni dan seorang pendeta di gereja Normandy, Prancis, pada Juli. Berkat peretasan itu, polisi Prancis berhasil menangkap beberapa remaja yang diduga memiliki hubungan dengan Kassim.
Penggunaan proxy juga menjadi perhatian kelompok teroris dalam berkomunikasi. Kelompok ini menggunakan proxy agar data-data yang diakses tidak masuk ke jaringan perusahaan telekomunikasi atau penyedia Internet, sehingga pelacakan akan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Bahrun Naim sendiri kerap membuat tulisan-tulisan dalam situs blog dirinya, yang berisi tips-tips membuat bom, cara menggunakan Telegram, senjata, dan tentang jihad. Saat ini, blog Bahrun Naim telah diblokir oleh pemerintah Indonesia.
Telegram, WhatsApp, dan aplikasi lain memang menyediakan proses enkripsi yang mengacak teks biasa menjadi kode yang campur aduk. Hal ini memang mempersulit pengawasan, tetapi aksi penggerebekan dan penangkapan pelaku teror pada Rabu (21/12) kemarin membuktikan penguasaan teknologi para penegak hukum masih lebih unggul dibandingkan para teroris.

TeknologiTerorisAplikasi MobileTelegram

500

Baca Lainnya