Konten dari Pengguna

Internet of Bodies: Saat Tubuh Manusia Jadi “Perangkat Digital” Baru

Jordan Matthew Ciputra
Siswa PENABUR Junior College Kelapa Gading
12 November 2025 14:43 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Internet of Bodies: Saat Tubuh Manusia Jadi “Perangkat Digital” Baru
Tubuh manusia kini bisa terhubung ke internet. Internet of Bodies membuka peluang besar di dunia medis, tapi juga memunculkan ancaman baru bagi privasi.
Jordan Matthew Ciputra
Tulisan dari Jordan Matthew Ciputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Bayangkan jika tubuhmu bisa mengirimkan data kesehatan secara real time ke dokter, atau membuka pintu rumah hanya dengan mendekatkan tangan. Teknologi itu bukan lagi fiksi ilmiah. Dunia kini memasuki era baru yang disebut Internet of Bodies (IoB), fase setelah Internet of Things (IoT), di mana tubuh manusia menjadi bagian langsung dari jaringan internet.
ADVERTISEMENT
Kedengarannya futuristik, tetapi pelan-pelan IoB sudah hadir di kehidupan kita. Mulai dari gelang pintar yang memantau detak jantung hingga chip mikro di bawah kulit yang menyimpan data pribadi. Semua itu membuka peluang besar di bidang kesehatan, keamanan, dan efisiensi hidup, sekaligus menimbulkan pertanyaan serius tentang privasi dan kendali atas tubuh manusia sendiri.
Ilustrasi alat pelacak kebugaran sebagai salah satu bentuk Internet of Bodies. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi alat pelacak kebugaran sebagai salah satu bentuk Internet of Bodies. Foto: Shutter Stock

Dari Internet of Things ke Internet of Bodies

Konsep Internet of Things sudah dikenal luas: benda-benda sehari-hari terhubung ke internet dan saling bertukar data. Namun Internet of Bodies melangkah lebih jauh. Menurut laporan World Economic Forum, IoB mencakup semua perangkat yang melekat, ditanam, atau bahkan terintegrasi dalam tubuh manusia dan dapat mengirim serta menerima data secara digital.
Perangkat IoB terbagi menjadi tiga kategori utama. Pertama, perangkat yang terpakai atau wearable, seperti jam tangan pintar dan pelacak kebugaran. Kedua, perangkat yang tertanam atau implantable, contohnya alat pacu jantung, chip identitas, atau sensor glukosa di bawah kulit. Ketiga, perangkat yang tertanan penuh atau ingestible, yaitu sensor mini yang bisa ditelan untuk memantau kondisi tubuh dari dalam.
ADVERTISEMENT
Gabungan semua perangkat ini menciptakan ekosistem data tubuh yang sangat besar. Detak jantung, pola tidur, kadar gula, hingga aktivitas sehari-hari bisa terekam dan dianalisis. Tujuannya jelas: membuat hidup lebih sehat, efisien, dan aman. Namun, semakin banyak data tubuh yang dikumpulkan, semakin besar pula risikonya disalahgunakan.

Tubuh sebagai Sumber Data Baru

Dulu, data terbesar berasal dari media sosial, e-commerce, atau aplikasi keuangan. Kini, “emas digital” baru datang dari tubuh manusia sendiri. Data biologis seseorang, mulai dari detak jantung hingga pola gelisah saat tidur, bisa menjadi aset yang sangat bernilai.
Contohnya di sektor kesehatan. Dengan IoB, dokter dapat memantau pasien jarak jauh tanpa harus bertatap muka. Rumah sakit bisa menganalisis data ribuan pasien untuk mendeteksi pola penyakit. Bahkan algoritma mampu memprediksi kemungkinan serangan jantung berdasarkan pola detak jantung harian.
ADVERTISEMENT
Namun di sisi lain, bayangkan jika data semacam itu jatuh ke tangan yang salah. Perusahaan asuransi dapat menggunakan data tubuh untuk menilai risiko calon nasabah. Pihak keamanan bisa memantau perilaku seseorang berdasarkan reaksi fisiologisnya. Lebih ekstrem lagi, data tubuh dapat menjadi alat pengawasan yang melampaui batas privasi manusia.
Beberapa negara sudah mulai membahas regulasi terkait. Di Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA) mengawasi perangkat medis digital. Sementara Uni Eropa memasukkan data biologis dalam kategori “data sensitif” di bawah General Data Protection Regulation (GDPR). Di Indonesia, regulasi khusus IoB belum terbentuk, meskipun Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi telah disahkan pada 2022.

Tren IoB di Indonesia: Antara Gaya Hidup dan Medis

Indonesia sebenarnya sudah berada di jalur menuju IoB, meski secara tidak disadari. Gelang pintar dan jam kebugaran kini dipakai jutaan orang, terutama di kota besar. Perangkat ini menjadi pintu gerbang pertama menuju dunia IoB karena terus mengumpulkan data biometrik.
ADVERTISEMENT
Di bidang medis, rumah sakit dan startup kesehatan mulai memanfaatkan teknologi sensor. Misalnya alat pemantau gula darah tanpa tusuk atau aplikasi yang terhubung ke perangkat tekanan darah otomatis. Data dari pasien dikirim langsung ke dokter untuk analisis cepat.
Namun tantangan besar masih ada, yaitu keamanan data dan kesadaran pengguna. Banyak masyarakat belum memahami bahwa informasi tubuh mereka tersimpan di server luar negeri. Belum lagi soal etika: siapa yang sebenarnya memiliki data tubuh kita? Pengguna, penyedia perangkat, atau perusahaan yang menganalisisnya?
Selain itu, kesenjangan teknologi juga perlu diperhatikan. IoB berpotensi hanya dinikmati kalangan perkotaan yang melek digital, sementara masyarakat di daerah tertinggal belum mendapatkan manfaatnya. Tanpa kebijakan inklusif, IoB bisa memperlebar kesenjangan kesehatan di Indonesia.
ADVERTISEMENT

Privasi, Etika, dan Masa Depan Tubuh Digital

IoB menawarkan kemudahan luar biasa, tetapi juga membawa dilema etika besar. Jika tubuh manusia menjadi “perangkat digital”, sampai di mana batas kepemilikan pribadi? Apakah seseorang boleh menolak implan yang diwajibkan untuk alasan keamanan? Bagaimana jika perusahaan menggunakan data tubuh untuk menentukan kelayakan kerja atau kredit?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum memiliki jawaban pasti. Namun para ahli sepakat bahwa regulasi harus sejalan dengan perkembangan teknologi. Perlindungan data tubuh tidak bisa hanya diserahkan kepada kebijakan perusahaan. Negara perlu menetapkan standar keamanan dan transparansi agar inovasi berjalan tanpa mengorbankan hak dasar manusia.
Kita juga perlu membangun kesadaran publik. Banyak pengguna belum sadar bahwa data kesehatan yang tampak sepele dapat digunakan untuk memetakan kebiasaan hidup, tingkat stres, bahkan kecenderungan emosi. Literasi digital menjadi kunci agar masyarakat bisa memanfaatkan IoB dengan bijak.
Ilustrasi hukum di era digital. Foto: Shutter Stock

Menyambut Era Tubuh Manusia yang Terhubung

Dunia sedang bergerak menuju masa di mana tubuh manusia bukan sekadar identitas biologis, melainkan simpul dalam jaringan global data. Internet of Bodies menjanjikan masa depan yang penuh inovasi: pengobatan lebih cepat, keamanan lebih tinggi, dan gaya hidup lebih cerdas.
ADVERTISEMENT
Namun, kemajuan tersebut juga menuntut tanggung jawab yang besar. Tanpa adanya kebijakan yang tegas serta kesadaran masyarakat yang memadai, tubuh digital dapat berubah dari sekadar alat bantu menjadi instrumen pengendalian.
Barangkali inilah saat yang tepat untuk kita bertanya: ketika tubuh manusia menjadi bagian dari jaringan internet, siapakah yang sesungguhnya memegang kendali, kita atau sistem yang mengitari kita?