Manifesto Politik Gen Z: Menuntut Masa Depan Kerja yang Lebih Pasti

Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jumanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekhawatiran terhadap masa depan kerja menjadi hal yang semakin sering dirasakan oleh generasi muda, khususnya Gen Z. Di tengah proses menempuh pendidikan, bayangan tentang dunia kerja setelah lulus justru kerap menimbulkan kegelisahan. Pertanyaan sederhana seperti “apakah akan mendapatkan pekerjaan yang layak?” atau “apakah pekerjaan tersebut sebanding dengan usaha yang telah dikeluarkan?” menjadi hal yang tidak mudah dijawab.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa memperoleh pekerjaan saat ini tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang pendidikan atau kemampuan individu. Dalam banyak kasus, faktor koneksi atau “orang dalam” masih dianggap memiliki peran yang cukup besar. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa akses terhadap pekerjaan belum sepenuhnya berlangsung secara adil.
Di sisi lain, muncul anggapan bahwa Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan karena terlalu selektif. Namun, anggapan tersebut perlu dilihat kembali secara lebih objektif. Persoalannya bukan sekadar soal memilih, melainkan ketidakseimbangan antara pendapatan yang ditawarkan dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat.
Dalam banyak situasi, gaji yang diterima tidak mampu menutupi biaya hidup sehari-hari. Hal ini membuat generasi muda berada dalam posisi dilematis antara bertahan atau terus mencari peluang yang lebih layak.
Permasalahan ini tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada individu, khususnya Gen Z. Menyederhanakan persoalan dengan menyebut generasi muda “tidak siap kerja” justru berpotensi menutupi persoalan yang lebih struktural.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran Gen Z masih tinggi, bahkan mencapai jutaan penduduk yang didominasi oleh kategori Not in Employment, Education, and Training (NEET). Kondisi ini mengindikasikan bahwa tantangan dalam memasuki dunia kerja merupakan fenomena yang lebih luas, bukan sekadar persoalan personal.
Salah satu persoalan mendasar terletak pada ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Banyak lulusan yang telah menempuh pendidikan tinggi, namun masih mengalami kesulitan dalam memperoleh pekerjaan yang relevan.
Laporan dari World Economic Forum juga menyoroti adanya fenomena skills mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan industri. Kondisi ini berkontribusi pada tingginya angka pengangguran di kalangan generasi muda.
Selain itu, praktik rekrutmen yang menetapkan syarat pengalaman kerja untuk posisi pemula, serta pembatasan usia, turut menjadi hambatan tersendiri. Situasi ini menciptakan lingkaran yang sulit ditembus oleh lulusan baru, sehingga banyak dari mereka merasa terjebak tanpa kepastian arah. Dalam konteks ini, Gen Z tidak hanya membutuhkan motivasi, tetapi juga sistem yang mampu memberikan ruang dan kesempatan yang lebih adil. Manifesto politik kami soal masa depan kerja bukan sekadar teori melainkan mimpi yang perlu terealisasi. Kami menuntut:
1. Perluasan Lapangan Kerja
Pemerintah perlu lebih fokus menciptakan peluang kerja baru yang relevan dengan perkembangan zaman, terutama bagi generasi muda.
2. Penyesuaian Kualifikasi Kerja yang Lebih Realistis
Persyaratan seperti pengalaman kerja untuk posisi pemula dan batasan usia perlu dievaluasi agar tidak menjadi penghambat bagi lulusan baru.
3. Sinkronisasi Pendidikan dengan Dunia Industri
Sistem pendidikan perlu diarahkan agar lebih berbasis keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
4. Dukungan terhadap Ekonomi Kreatif dan Pekerja Muda
Generasi muda perlu diberikan ruang untuk berkembang, termasuk dalam sektor kreatif dan pekerjaan fleksibel yang kini semakin berkembang.
Manifesto ini pada dasarnya menekankan satu hal, yakni memberikan kesempatan yang adil dan menciptakan sistem yang lebih berpihak pada masa depan kerja generasi muda.
Tingginya biaya pendidikan yang tidak selalu sebanding dengan peluang kerja yang tersedia menjadi ironi yang nyata bagi banyak Gen Z saat ini. Hal ini bukan sekadar keluhan, melainkan refleksi dari kondisi yang perlu mendapat perhatian serius.
Pada akhirnya, masa depan kerja generasi muda bukan hanya persoalan individu, melainkan tanggung jawab bersama. Jika ruang dan kesempatan tidak segera diperbaiki, maka wajar jika Gen Z mulai mempertanyakan ke mana arah kebijakan publik sebenarnya berpihak.
