Pencarian populer
Akhir Hayat 'The Sick Man of Europe', Kekhalifahan Islam Terakhir
Mustafa Kemal Pasha (Foto: Wikimedia Commons)
Imperium Daulah Islamiyah yang telah kokoh selama hampir 13 abad menemui ajalnya hari ini, tepat 94 tahun lalu. Dimulai dari kepemimpinan nabi terakhir umat Islam--Muhammad, hingga Sultan Abdul Majid II, dari pusat pemerintahan di Madinah hingga Istanbul, kekhalifahan Islam pernah membentang dari Afrika Utara sampai ke Spanyol di sebelah barat, dari Cina sampai Hawaii di sebelah timur.
Masa keemasan itu berakhir di Istanbul, pusat pemerintahan kekhalifahan terakhir. Kekhalifahan Utsmani sebagai benteng terakhir berdirinya khilafah, diberangus habis dari dalam dan luar tubuh kepemimpinan sultan.
Awal Keruntuhan
Abad ke-18, kekhalifahan Utsmani mulai melemah karena berbagai serangan. Sejarawan mencatat satu persatu wilayah kekuasaan Utsmani jatuh ke tangan penjajah. Perancis berhasil menduduki Algeria dan Tunisia. Kerajaan Inggris menduduki wilayah Aden, Oman, Semenanjung Arab, Kuwait, Mesir, dan Sudan. Sementara pada abad ke-19, Italia berhasil merebut Libya.
Pada 1914, Perang Dunia I meletus. Dengan kondisi yang semakin tersudut, kekhalifahan bergabung dengan Jerman dan Austria-Hungaria dari kubu Blok Sentral meskipun bertentangan ideologi. Mereka melawan Blok Sekutu yang digawangi Inggris, Perancis, dan Rusia.
Di tengah kecamuk perang, secara diam-diam berlangsung perjanjian rahasia antara Inggris dan Perancis dari November 1915 sampai Mei 1916. Perwakilan Inggris, Sir Mark Sykes, serta Francois George-Picot dari pihak Perancis duduk bersama di sebuah rumah di Downing Street, London, untuk merundingkan bagi-bagi wilayah kekuasaan Utsmani.
Pihak Sekutu sewajarnya bertindak sepercaya diri itu, sebab kekalahan Utsmani begitu mudah diprediksi. Sebagian wilayah kekuasaannya telah berhasil direbut. Terlebih lagi, Inggris mendapat kabar adanya pihak-pihak yang ingin melepaskan diri dari Kekhalifahan Utsmani.
Keruntuhan Utsmani tinggal menunggu waktu. Pihak musuh memberinya julukan “The Sick Man of Europe”, pria Eropa yang sedang sakit.
Strategi disusun. Sekutu menjadikan kawan dekat mereka yang berkhianat pada sultan.
Revolusi, Nasionalisme, dan Baju-baju Pengkhianatan Lainnya
-Mustafa Kemal Pasha-
Ada sosok yang telah lama menancapkan duri di tubuh Kekhalifahan Utsmani. Mustafa Kemal Pasha atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Ataturk”, Bapak Bangsa Turki.
Kiprahnya bermula sejak masih menjadi mahasiswa. Ia ikut dalam gerakan nasionalis antipemerintah yang aktif menentang segala kebijakan Sultan Abdul Hamid II, menjadikan ajaran Islam sebagai bahan tertawaan, sebaliknya sangat memuja-muja sistem pemerintahan ala Barat. Gerakan itu bercita-cita melengserkan Sultan Abdul Hamid II.
Khalifah ke-34 Daulah Islamiyah itu memang menjadi batu sandungan paling besar, ia dikenal tegas dalam menegakkan syariat Islam. Di era kepemimpinannya, Palestina berkali-kali ditawar oleh Theodore Hertzl--penggagas berdirinya Negara Yahudi: lewat sogokan sejumlah uang, hingga janji melunasi semua hutang luar negeri Utsmani. Syaratnya hanya satu, melepas wilayah Palestina.
Berkali-kali pula Sultan Abdul Hamid II menolak tawaran tersebut. Ucapannya yang sangat mahsyur: “Aku tidak akan menjual satu inci pun tanah Palestina. Palestina bukan milikku, tapi milik semua rakyat Utsmani.”
Merujuk Daily Sabah, Sultan Abdul Hamid II kerap dituduh berpaham anti-Semit. Tuduhan yang jelas jauh panggang dari api. Sebab menolaknya ia memberikan Palestina untuk didirikan sebagai Negara Yahudi bukan karena kebencian terhadap bangsa tertentu, melainkan atas dasar pertimbangan integritas negara yang dipimpinnya bila Palestina lepas menjadi sebuah negara sendiri.

Aku tidak akan menjual satu inci pun tanah Palestina. Palestina bukan milikku, tapi milik semua rakyat Utsmani.

- Sultan Abdul Hamid II

Tuduhan anti-Semit sangat mengada-mengada bila melihat fakta yang ada. Di bawah kepemimpinannya, Kekhalifahan Utsmani menjadi rumah bagi bangsa Yahudi dengan jumlah terbanyak, yang hidup bebas dan tentram. Thessaloniki--bagian dari wilayah kekuasaan Utsmani, menjadi kota mayoritas Yahudi terbesar di dunia.
Sultan Abdul Hamid II (Foto: Wikimedia Commons)
Namun, mimpi Mustafa Kemal kian dekat, ketika pada 1909 Partai Turki Muda berhasil menggulingkan sultan. Mustafa Kemal lantas digaet untuk bergabung dengan partai itu.
Dalam waktu singkat, ia berhasil menjabat posisi strategis di militer. Pada tahun 1919, ia mengagas gerakan nasionalisme di Anatolia.
Lengsernya Sultan Abdul Hamid II memang menjadi momen ide nasionalisme menggerogoti tubuh kekhalifahan. Paham ini dihembuskan negara-negara Blok Sekutu, tujuannya hanya satu; mencerai-beraikan Kekhalifahan Utsmani.
Bubarnya kekhalifahan akan mempermudah Blok Sekutu mencaplok wilayah-wilayah kekuasaan sultan.
-Sharif Hussein bin Ali-
Saat Perang Dunia I berlangsung, Hijaz masih dalam kekuasaan Utsmani. Wilayah tersebut dipimpin oleh seorang amir bernama Sharif Hussein bin Ali. Garis keturunan Sharif Hussein telah memimpin Hijaz selama 700 tahun sejak era Kekhalifahan Abbasiyah.
Seiring melemahnya Utsmani, Sharif Hussein punya ambisi yang semakin membara; melepas diri dari Kekhalifahan Utsmani lantas mendirikan Negara Arab yang independen. Cita-citanya itu sampai ke telinga Kerajaan Inggris.
Pada 1915, diplomat senior Inggris untuk Mesir--Sir Henry McMahon berkorespondensi dengan Sharif Hussein. Terjadilah kata sepakat dalam perjanjian yang dikenal dengan The Hussein-McMahon Correspondence. Inggris mengiming-imingi seluruh jazirah Arab jika Sharif Hussein bersedia makar terhadap pemerintahan sultan.
Satu tahun setelah kesepakatan itu, revolusi Arab pecah, atau lebih dikenal dengan peristiwa Pemberontakan Arab dan berlangsung sampai tahun 1918. Kegoncangan Utsmani semakin tak terelakkan.
Runtuhnya Kekhalifahan Islam Terakhir
Pertempuran dengan pihak asing dan pengkhianatan dari kubu nasionalis memperparah derita "The Sick Man of Europe". Mustafa Kemal--sang penjegal utama kekhalifahan, berhasil merampas kekuasaan dari sultan pada 1920.
Setahun berikutnya, Mustafa Kemal mendirikan pemerintahan sementara di Ankara. Pada 1923, Turki menjadi negara republik dengan Mustafa Kemal sebagai presidennya.
Dengan segera, Mustafa Kemal memberangus syariat Islam yang selama ini menjadi sendi-sendi hukum kekhalifahan, melarang penggunaan bahasa Arab, melarang jilbab, mengganti adzan dengan bahasa Turki, menutup sekolah-sekolah Islam, yang intinya satu: membuang segala hal tentang Islam dari kehidupan di Turki.
Satu tahun setelah Republik Turki resmi didirikan, tepatnya pada 3 Maret 1924, Majelis Agung Nasional Turki resmi membubarkan Kekhalifahan Utsmani, Sultan Abdul Majid II sebagai khalifah terakhir umat Islam. (snf)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: