Pencarian populer

Usai Blokir Telegram, Menkominfo Ancam Akan Blokir Youtube dan Facebook

Jakarta (Kabarpas.com) – Usai memblokir media chating Telegram, kali ini, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara mengancam akan memblokir beberapa situs yang dianggap sering menyebarkan berita hoax dan membuat keresahan masyarakat Indonesia.

Dilansir dari situs Republika.co.id, Rudianto mengancam jika perusahaan platform media sosial tidak melakukan perbaikan dalam hal penutupan akun radikal maka pemerintah akan menutup akses platform tersebut.

“Mohon maaf teman-teman yang main pakai Facebook, atau Youtube kalau terpaksa harus (ditutup) karena tugas pemerintah bertugas menjaga ini kondusif,” kata Rudiantara usai menghadiri Deklarasi Anti Radikalisme Perguruan Tinggi Se-Jawa Barat di Universitas Padjadjaran, Kota Bandung.

Selama 2016, lanjut Rudianto, paltform media sosial internasional hanya menutup 50 persen akun dari yang diminta oleh Kemkominfo untuk ditindak.

“Pada 2016, permintaan untuk men-takedown akun di medsos maupun file video sharing itu, 50 persen dilakukan oleh penyedia platform internaisonal media sosial. Ini mengecwakan bagi kami sehingga kami minta diperbaiki ini,” ujarnya.

Oleh sebab itu, dia dengan tegas mengancam mengancam akan menindaklanjuti atas kekecewaan pemerintah Indonesia pada kebijakan platform media sosial internasional. Sebab, permintaan pemerintah menindak akun berbahaya tidak sepenuhnya dipenuhi.

Masih dikutip dari Republika.co.id, Rudiantara mengatakan penyebaran radikalisme lewat dunia maya sudah semakin marak. Paham radikal disisipkan secara online sehingga memudahkan penyisipan doktrin-doktrin menyimpang.

Dia menerangkan penutupan media sosial ini akan dilakukan bertahap. Pertama, dengan melarang iklan-iklan Indonesia ditayangkan di media sosial tersebut. Sebab, bisnis utama platform media sosial ialah menayangkan iklan. Tanpa iklan, dia menyatakan, tidak ada keuntungan bisnis di Indonesia.

Setelah itu, pemerintah akan mengambil langkah tegas untuk menutup akses media sosial tersebut kalau masih tidak ada perubahan.

“Anda (perusahaan media sosial) di Indonesia bisnis. Jadi logika bisnisnya harus diterapkan. Anda mau bisnis atau mengacaukan negara, kalau mau bisnis ikut perintah yang diatur negara,” pungkasnya. (*).

Reporter: –

Editor : Memey Mega

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Baca Lainnya
Kominfo: Jika Facebook Terbukti Memecah Belah NKRI, Akan Kita Blokir
Sinyaliti.com – Konten radikalisme yang marak terjadi di media sosial menjadi perhatian khusus bagi Kominfo. Tercatat, hingga tanggal 30 Mei 2018, total konten radikalisme yang telah diblokir oleh Kominfo sebanyak 4078 konten.“Dari total 4078 konten tersebut, setengahnya berasal dari Facebook dan Instagram. Sisanya tersebar di platform lain. Kami terus menyisir konten radikalisme tersebut, disinyalir ada 20 ribuan mengandung unsur radikalisme.”, ucap Rudiantara, selaku Menteri Kominfo saat acara buka puasa bersama di kantor Kominfo, Jakarta, Kamis (31/5/2018).Rudiantara menjelaskan, bahwa sejak tanggal 21 Mei 2018konten radikalisme sudah menurun.“Walau sudah menurun, kita tidak boleh lengah. Sebelum tanggal 21 Mei bisa 400-an konten yang kita blokir perharinya. Sekarang sehari cuma 40-an konten radikal yang kita blokir.”, tegas Rudiantara.Rudiantara menegaskan jika dari 20 ribuan konten tersebut terbukti mengandung unsur radikalisme, maka pihaknya pun akan langsung memblokir konten tersebut.Menurutnya, konten radikal seperti Al-Fatihin di dunia maya ada sekitar 70 hingga 80-an.“Tugas kami hanya memblokir konten radikalisme di dunia maya. Kalau di dunia nyata, ya tugas Kepolisian RI. Kami terus bekerjasama dengan Kepolisian untuk mengurangi konten radikalisme.”, terang Rudiantara.Sebenarnya, penyebaran konten negatif tak hanya di Indonesia saja, namun juga di negara lain. Konten hoax, pornografi, dan konten negatif lainnya yang kerap terjadi di Indonesia pun banyak melalui Facebook. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia, di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo), terus berupaya memerangi konten negatif yang terjadi di seluruh media sosial, khususnya Facebook.Beberapa waktu lalu, Kominfo bahka pernah berjanji akan memblokir Facebook jika terbukti menebar ujian kebencian dan terbukti lalai atas kebocoran data pengguna oleh Cambridge Analytica. Namun hingga kini hal tersebut urung terjadi.Kominfo dirasa kurang tegas terhadap serangkaian masalah yang ditebarkan melalui Facebook di Indonesia.“Di Indonesia Facebook menjadi wadah bagi masyarakat untuk mencari berkah. Jadi, kita tidak bisa blokir begitu saja.”, tutur Rudiantara.Meski demikian, Rudiantara tidak akan mentolerir jika Facebook berpotensi memecah belah NKRI.“Patokannya itu saja. Kalau terbukti memecah belah NKRI melalui ujaran kebencian, baru Facebook kita blokir.”, tegas Rudiantara. Halaman selanjutnya:Posting Kominfo: Jika Facebook Terbukti Memecah Belah NKRI, Akan Kita Blokir ditampilkan lebih awal di Sinyaliti.com.
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: