Pencarian populer

Ada Apa Dengan Energi Hijau Di Indonesia?

Indonesia kaya akan sumber daya alam dan karenanya menimbulkan natural resource curse atau kutukan sumber daya alam yang dikenal oleh kalangan akademisi. Berlimpahnya sumber daya alam dalam hal ini energi fosil membuat pemerintah dan masyarakat Indonesia terlena sehingga lupa untuk mengembangkan energi alternatif lain sebagai sumber perekonomian.

Sementara itu, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang merupakan sumber energi bersih dan jumlahnya pun berlimpah (sebagai contoh, potensi energi bayu mencapai 60 gigawatt (GW) yang hampir setara dengan total produksi listrik PLN saat ini) di Indonesia masih relatif mahal atau belum ekonomis. Hal ini dikarenakan untuk mengubah EBT menjadi listrik memerlukan biaya yang tidak sedikit terutama terkait dengan infrastruktur.

Meskipun potensi EBT sangatlah besar di Indonesia, dalam 5 tahun terakhir Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil dan setiap tahunnya mengeluarkan dana rata-rata Rp. 120 triliun atau sekitar 11-12% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk subsidi energi yang masih didominasi oleh bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara).

Berdasarkan Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), porsi energi fosil dalam bauran energi (energy mix) pembangkitan listrik pada tahun 2017 mencapai 87,85%, sedangkan untuk EBT hanya sebesar 12,15%. Pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2018-2027, EBT ditargetkan mencapai 23% dari total bauran energi tersebut di tahun 2025. Oleh karena itu, ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil diprediksi belum akan berubah dalam satu dasawarsa ke depan.

Pemodelan pasokan energi primer yang tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pada tahun 2015 menunjukkan bahwa dominasi minyak bumi yang sebesar 36,47% dari pasokan energi nasional mulai didekati oleh batubara dan gas dengan porsi masing-masing sebesar 32,81% dan 20,87%, terlihat bahwa pergeseran sumber energi primer hanya terjadi pada energi fosil (minyak, gas dan batubara).

Di tengah dominasi energi fosil, kondisi oversuplai listrik pada PLN terjadi menyusul ekspansifnya program listrik 35.000 megawatt (MW) yang tidak diseimbangi dengan tingkat konsumsi listrik, sehingga menciptakan hambatan baru pada pengembangan EBT. Dalam RUPTL tahun 2018-2027, pemerintah menurunkan total rencana pembangunan pembangkit listrik baru dari 78.000 MW menjadi 56.024 MW.

Kapasitas pembangkit EBT dipangkas dari 21.500 MW menjadi 14.912 MW bahkan ketika EBT ditargetkan menyumbang 23% dari bauran energi nasional pada akhir 2025. Pada titik inilah upaya mempercepat pengembangan EBT menemukan tantangan naturalnya yakni, efisiensi. Sampai saat ini belum ada energI terbarukan yang biaya produksinya lebih murah dari energi fosil, karena energi fosil telah melewati riset dan pengembangan selama lebih dari seabad, sehingga belum ada negara yang 100% lepas dari energi fosil dalam bauran energI primernya.

Referensi:

https://www.cnbcindonesia.com/news/20180525133604-4-16586/energi-hijau-nan-murah-di-indonesia-mungkinkah

Oleh : Gerald Adam Alwyn Syah (Staff Divisi Kajian Energi Taktis HMTM “PATRA” ITB)

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Senin,20/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya18:59
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.20