kumparan
13 Okt 2019 7:44 WIB

17 Tahun Bom Bali, Berharap Tragedi Tak Terulang Lagi

Suasana peringatan 17 tahun bom Bali di monumen Ground Zero, Kuta, Sabtu (12/10) - kanalbali/KR13
KUTA, Kanalbali - Mata Endang Isnanik (48) tampak berkaca-kaca saat proses tabur bunga di Monumen Ground Zero Bali (Tugu Peringatan Bom Bali), Sabtu malam (12/10).
ADVERTISEMENT
Di tempat tersebut, memang sedang dilangsungkan acara peringatan 17 tahun Bom Bali. Selain tabur bunga, doa bersama juga dipanjatkan oleh para keluarga korban dan pengunjung yang sengaja memadati areal Tugu dengan penuh khidmat.
"Ini sudah 17 tahun, tapi luka yang para teroris buat masih terus membekas sampai sekarang. Ini sangat sulit dilupakan, tapi sebagai manusia, saya hanya bisa berusaha," ungkap perempuan asal Banyuwangi itu.
Isanani bercerita, kala kejadian kelam itu terjadi, suaminya berprofesi sebagai supir. Saat itu, sang suami yang bernama Aris Munandar sedang menunggu penumpang yang sedang berkunjung ke dalam Sari Club. Malang tak bisa dicegah, ledakan bom yang terjadi hanya beberapa meter dari sang suami, membuat suaminya meninggal dunia dengan luka bakar yang parah.
Turis pun ikut meletakkan lilin dan karangan bunga (kanalbali/KR13)
"Jenazahnya masih utuh, karena suami saya berada di dalam mobil. Tapi walaupun utuh, luka bakar yang ia derita sangat parah. Kalau tidak ada di dalam mobil, mungkin akan lebih dari itu," jelasnya seraya menahan tangis.
ADVERTISEMENT
Isnani baru mengetahui bahwa sang suami menjadi korban tragedi bom Bali setelah dirinya datang ke RSUP Sanglah Denpasar. "Jasad suami saya itu yang berhasil di identifikasi pertama kali dan bisa dibawa pulang," ujarnya.
Dirinya menyampaikan, selama ini rasa luka yang ia rasakan terus menjadi bayang-bayang kelam yang begitu sulit dilupakan, "Untuk itu saya berharap kepada siapapun agar tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang banyak, termasuk melakukan aksi teror," jelasnya.
Putu Adnyana, Ketua Panitia Peringatan 17 Tahun Bom Bali (kanalbali/KR13)
Harapan yang sama juga disampaikan oleh Putu Adnyana. Ketua panitia kegiatan peringatan 17 tahun tragedi kemanusiaan bom Bali menyampaikan bahwa keamanan dan kenyamanan patut dijunjung tinggi dalam bermasyarakat. Baginya Tragedi bom Bali hanya cukup sekali saja terjadi, tidak boleh ada ruang lagi untuk para pelaku teror melaksanakan aksinya.
ADVERTISEMENT
"Semua pihak harus bergandengan tangan, sama-sama saling evaluasi untuk keberlangsungan hidup yang lebih baik, sehingga Kuta sebagai dinasti Pariwisata bisa aman dari tindakan radikalisme dan terorisme," jelasnya.
Pada momentum 17 tahun peringatan tragedi kemanusiaan bom Bali, dirinya menyampaikan bahwa semua pihak jangan terus larut dalam kesedihan, "Sudah harus bangkit, semua lapisan masyarakat, baik itu korban dan seluruh elemen harus bangkit," paparnya.
Acara peringatan 17 tahun tragedi kemanusiaan bom Bali dihadiri oleh beberapa perwakilan keluarga korban, selain itu, beberapa wakil pejabat daerah dari Gubernur, Bupati Badung, dan beberapa konsulat juga ikut ambil bagian dalam kegiatan.
Beberapa turis mancanegara, terlihat berhenti saat melintasi jalan trotoar di pinggir monumen. Ada yang ikut serta mendoakan para korban dengan cara menundukkan kepala, ada juga yang mengabadikan momen sakral yang hanya berlangsung setiap tahun sekali. (kanalbali/KR13)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan