Food & Travel
·
28 Juli 2021 16:21
·
waktu baca 2 menit

Berawal dari Kreasi Tempe Kekinian, Kini Benny Pun Memberdayakan Petani

Konten ini diproduksi oleh Kanal Bali
Berawal dari Kreasi Tempe Kekinian, Kini Benny Pun Memberdayakan Petani (461999)
searchPerbesar
Kreasi camilan berbahan dasar tempe - IST
DENPASAR - Tempe tentu saja sudah menjadi menu yang akrab bagi bangsa Indonesia. Tapi Benny Santoso (25), mengkreasinya menjadi pilihan yang beragam sehingga bisa menjangkau pangsa pasar milenial.
ADVERTISEMENT
Berawal dari tugas kuliah untuk membuat tempe rasa keju, laki-laki yang akrab disapa Benny kini menjadi wirausaha muda dengan omzet mencapai Rp 100 juta per bulannya.
“Saya awali dengan membuat tempe organik mentah dengan berbagai rasa dan topping seperti tempe organik mentah rasa keju dengan campuran biji labu yang dibungkus daun pisang atau plastik,” katanya.
Berawal dari Kreasi Tempe Kekinian, Kini Benny Pun Memberdayakan Petani (462000)
searchPerbesar
Berbekal ilmu Food and Culinary yang didapatkan saat berada di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Benny mulai serius menekuni olahan camilan dari tempe sejak empat tahun lalu dengan modal awal senilai Rp3,5 juta.
Dalam perkembangan, karena tempe mentah organik hanya mampu bertahan selama 7 hari, mulailah muncul ide untuk mengolah tempe agar lebih tahan lama seperti menjadi keripik tempe berbagai rasa serta membuat tepung tempe.
ADVERTISEMENT
Adapun produk tempe organik mentah dan cemilan tempe ini telah dijual di healthy market dan hotel, restoran, serta kafe yang berada di Pulau Dewata."Camilan tempe ini menggunakan perasa alami dan gula merah yang rendah gula sehingga baik untuk kesehatan," tuturnya
Berawal dari Kreasi Tempe Kekinian, Kini Benny Pun Memberdayakan Petani (462001)
searchPerbesar
Benny Santoso - IST
Laki-laki asal Solo ini telah mempekerjakan enam orang karyawan di home industrinya. Selain itu, dia juga memilih untuk membeli kedelai lokal dibandingkan kedelai impor dari petani yang berada di daerah Jembrana Bali dan Jawa Barat dengan harga yang lebih tinggi dari pasaran.
Dalam kerja sama dengan petani ini disepakati juga agar proses budidaya dan perlakuan pasca panen dilakukan secara organik. Karena diproses secara organik, Benny mengakui bahwa kedelai lokal hanya mampu bertahan selama delapan bulan dengan catatan, kedelai dikupas saat biji kering dan sering dilakukan penjemuran agar kualitas kedelai tetap terjaga.
ADVERTISEMENT
"Ini yang kami lakukan untuk membantu petani lokal, kalau bukan kita siapa lagi," jelasnya.
Disinggung mengenai usaha tempe di tengah pandemi Covid-19, Benny mengungkapkan sempat ada penurunan hingga 40 persen untuk cemilan tempe. Namun saat ini penjualan sudah mulai stabil, karena untuk memasarkan olahan tempenya pada akhir 2020 lalu dia mulai merambah marketplace.
"Ini cukup membantu untuk mengembalikan omzet kami yang sempat jatuh, karena pembeli sudah berada diseluruh Indonesia," jelas Benny. (Kanalbali/LSU)