Kumparan Logo
WhatsApp Image 2020-05-05 at 11.47.12 (3).jpeg

Gerakan Kakak Asuh Bali, Cara Keren Ajak Anak Muda Ulurkan Tangannya

Kanal Baliverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyerahan bantuan oleh kakak asuh kepada adik asuhnya - IST
zoom-in-whitePerbesar
Penyerahan bantuan oleh kakak asuh kepada adik asuhnya - IST

Bagi banyak orang, Bali itu surga pariwisata. Hanya sedikit yang tahu, kantong-kantong kemiskinan tersebar di sejumlah wilayah di pulau ini. Bahkan masih ada pula, anak-anak yang terpaksa bersekolah seadanya dan terancam tak bisa melanjutkan pendidikannya.

Luh Putu Krisnayanti bersama suaminya Putu Ariawan, adalah anak muda yang prihatin atas situasi itu. "Saya sendiri baru merasa tersadarkan ketika ikut berkegiatan dengan Komunitas Anak Alam di Kintamani, Bangli," ujar pengusaha muda ini, Selasa (5/5/2020).

Luh Putu Krisnayanti bersama salah-satu adik asuh dalam gerakan ini - IST

Komunitas yang diasuh Pande Putu Setiawan itu mendampingi anak-anak di daerah pegunungan untuk tetap memiliki semangat bersekolah. Padahal setiap harinya mereka harus berjalan 5 hingga 7 kilo pulang-pergi. Banyak yang tak memiliki sepatu, atau masih memakai dalam kondisi kurang layak.

Kondisi seperti ini diyakini ada di seluruh, Bali khususnya di wilayah timur dan utara yang masih yang dikenal sebagai daerah yang kering dan tandus. Bersama Pande Putu Setiawan, pasangan suami istri ini pun menginiasi Gerakan 'Kakak Asuh Bali', persisnya pada 2 Mei 2016.

Mengapa nama 'Kakak Asuh' yang digunakan?. Menurut Putu, mereka lebih ingin melibatkan anak-anak muda dalam aksi ini. Untuk terlibat, mereka hanya berkewajiban menyumbang minimal Rp 100 ribu perbulan. Itu pun bisa dilakukan secara berkelompok.

instagram embed

"Jadi misalnya mereka berlima, cukup menyumbang Rp 20 ribu setiap bulan," ujarnya. "Kami ingin kesadaran sosial sudah tumbuh di pikiran anak-anak muda sejak mereka masih muda," ujarnya.

Disini ada 2 kategori 'Kakak Asuh' yang dibedakan berdasarkan keterlibatannya. Pertama, mereka yang sekaligus menjadi relawan untuk membantu mengumpulkan dan menyalurkan dana sekaligus 'mengasuh' adiknya dengan kunjungan minimal 1 bulan sekali. "Saat kunjungan, dia bisa memberi pelajaran atau pengetahuan pada adiknya," ujarnya. Jumlah mereka saat ini mencapai 80 orang yang kebanyakan adalah mahasiswa.

Kategori kedua adalah kakak asuh yang hanya menjadi donatur yang saat ini jumlahnya sekitar 500 orang . Umumnya, mereka sudah bekerja dan bahkan ada yang berada di luar Bali. "Mungkin hanya bisa berkunjung setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali," ujarnya.

Kakak asuh saat melakukan survey mengenai kondisi calon adik asuh - IST

Adapun untuk pengaturan penyaluran bantuan dan kunjungan, di setiap kabupaten yang menjadi lahan kegiatan ini ditempatkan 2 orang koordinator relawan. Antara lain di Buleleng, Bangli, Klungkung dan Karangasem.

Saat ini, jumlah adik asuh mencapai 200 orang yang bersekolah di jenjang SD dan SMP. "Pemilihan mereka kami ambil dengan melakukan survey ke sekolah kemudian kami tetapkan dengan kriteria kondisi jarak rumah dengan sekolah dan kondisi orang tuanya," jelas Putu.

Setiap bulannya, mereka akan mendapat uang saku sebesar Rp 150 ribu per orang untuk siswa SD dan Rp 300 ribu untuk siswa SMP. Di luar itu, ada bantu sembako hingga alat-alat sekolah tergantung kebutuhan serta donasi yang diberikan. Sebagai bentuk transparansi, semua kegiatan serta penggunaan dana dilaporkan melalui media sosial serta web kakakasuhbali.org . (kanalbali/RFH)