kumparan
5 Feb 2019 21:31 WIB

Habitat Rusak, Kera di Teras Ayung Masuk ke Rumah Penduduk

GIANYAR, kanalbali.com - Kera-kera yang menempati habitatnya di daerah aliran sungai Ayung (sepanjang Payangan-Ubud) kini mulai berani masuk ke areal pemukiman warga.
ADVERTISEMENT
Selain tidak takut kepada manusia, kera-kera ini juga mencuri di rumah warga. Hal ini diduga karena pakan di habitat aslinya berkurang karena penebangan pohon untuk akomodasi wisata. Dalam sepekan ini, di Banjar Kutuh, Desa Sayan mulai dimasuki kawanan kera. Hanya kera ini tidak muncul bergelombol atau berkelompok. Muncul satu persatu, sehingga kondisi ini menyebabkan warga di Banjar Kutuh resah. Kera-kera ini tidak takut dengan manusia saat diusir justru memperlihatkan taringnya. Informasi Selasa (5/2), kera ekor panjangmuncul sejak sepekan lalu. Yang diakutkan kera ini mencederai bayi atau menggigit warga. Kera ini juga muncul dengan tiba-tiba mencari makanan apapun yang bisa didapat. Warga Banjar Kutuh, Tumbuh Arianto menjelaskan telur ayamnya sudah dicuri kawanan kera ini.
ADVERTISEMENT
“Telur di kandang habis dimakan kera tersebut. Ketika saya usir, malah memperlihatkan taringnya,” jelas Arianto. Kera tersebut mulai muncul sejak sepekan lalu, dan dirinya juga mendengar ada kera lain muncul di rumah warga lain. Prajuru Banjar Kutuh, Ketut Parsa menyebutkan keberadaan kera tersebut mulai meresahkan warga. Selain masuk ke rumah warga, kadang-kadang juga sering melintas di jalan dan mengganggu pengguna jalan.
“Kera itu sering duduk di tepi jalan dan ekornya menjulur ke jalan. Beberapa pengendara sepeda motor kaget dan hampir kecelakaan,” terang Ketut Parsa. Ditambahkan, kera tersebut pernah masuk ke restoran, sehingga membuat pengunjung restoran panik dan ketakutan. “Kami harap, pihak terkait mengevakuasi kera-kera ini supaya tak mengganggu warga,” ujarnya. Diduganya, munculnya kera ke pemukiman warga akibat habitatnya sudah semakin terkikis dan pohon-pohon besar ditebang. “Habitat kera tersebut berada di pinggiran Sungai Ayung dari utara sampai selatan. Kami menduga habitatnya sudah terkikis,” jelasnya. Terkikis habitat kera tersebut juga diduga akibat banyaknya akomodasi pariwisata yang terbangun. “Habitatnya terganggu, kera tersebut harus makan dan pakannya terbatas. Kami harap kera ini segera mendapat penanganan,” harap Parsa. (kanalbali/KR11)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·