Entertainment
·
25 Juli 2021 12:51
·
waktu baca 2 menit

Jelang Berakhirnya PPKM Level 3, Musisi Bali Berharap Ada Pelonggaran

Konten ini diproduksi oleh Kanal Bali
Jelang Berakhirnya PPKM Level 3, Musisi Bali Berharap Ada Pelonggaran (47923)
searchPerbesar
The Bardogs, salah-satu grup musik yang terdampak PPKM Darurat di Bali - IST
DENPASAR - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Bali yang dilanjutkan dengan PPKM level 3 dikeluhkan berbagai kalangan, tak terkecuali musisi dan penggiat dunia hiburan. Mereka berharap, kebijakan yang mestinya berakhir pada Minggu (25/7) itu segera dilonggarkan.
ADVERTISEMENT
"Kalau sejak PPKM (Darurat) berlaku banyak panggung yang dibatalkan," ungkap Deny Hidayat, bassit grup band The Bardogs, saat diwawancarai pekan lalu di Denpasar.
Akibatnya, ia dan grupnya pun memiliki banyak waktu senggang. "Ya paling sekarang tidak banyak sih yang bisa di lakukan, paling bikin materi baru," katanya.
Sebelum PPKM Darurat diterapkan, grupnya The Bardogs memiliki jadwal tetap manggung reguler di The Orchard, Seminyak. Namun, setelah aturan itu diterapkan gelaran live musik disana ditiadakan untuk sementara.
Jelang Berakhirnya PPKM Level 3, Musisi Bali Berharap Ada Pelonggaran (47924)
searchPerbesar
Suasana pentas musik di Bali sebelum masa pandemi - IST
Hal yang dapat ia dan teman-temannya lakukan sekarang hanya berusaha supaya pendapatan hasil manggung sebelumnya, dapat digunakan sebaik-baiknya. "Kita cukup-cukupin lah sekarang, bagaimanapun carannya," ungkapnya.
Sebagai musisi, ia lumayan dirugikan pemberlakuan PPKM Darurat ini. "Dirugikanlah, tapi mudah-mudahan setelah ini lebih baik dan wisatawan sudah mulai datang lagi ke Bali," harapnya.
ADVERTISEMENT
Tak sedikit musisi yang berupaya bertahan dengan melakukan pekerjaan sampingan, karena upah manggung tak sebesar dulu, saat COVID-19 belum mewabah. Ardy Bolank, dari grup Soul and Kith salah satunya.
Selain sebagai musisi, ia juga bekerja di toko alat musik. Namun karena PPKM Darurat toko tempatnya bekerja untuk sementara ditutup hingga 20 Juli mendatang. "Sudah tentu berdampak, selama libur sampai tanggal 20 Juli kena potongan gaji pokoknya. dan pendapatan di band juga otomatis tidak ada sama sekali," ungkapnya.
Beberapa agenda manggung pun kata dia banyak yang dibatal. "Semuanya batal, tanggal 3 Juli kemarin harusnya di resto Berbagi Kopi, terus tanggal 9 di resto The Orchad," katanya.
Ia menilai PPKM Darurat ini sesungguhnya yak jauh beda dengan PSBB yang sebelumnya dilakukan oleh pemerintah. "Dan jelas banget yang kena dampaknya masyarakat yang kelas bawah yang menggantungkan nafkah dari kegiatan normal tanpa ada pembatasan waktu kerja," terangnya.
ADVERTISEMENT
Satu-satunya hal yang diharapkan oleh Ardy dan tentunya musisi lain, yakni kebijakan ini benar-benar mampu menekan angka kenaikan pasien COVID-19, sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. (Kanalbali/WIB)