Kumparan Logo
photo6235608338842889065.jpg

Lewat bendega.id, Fajar Hakim Ajak Nelayan Selamatkan Wilayah Pesisir

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fajar Lukman Hakim (29) saat menginisiasi penanaman mangrove bersama rekan-rekannya - IST
zoom-in-whitePerbesar
Fajar Lukman Hakim (29) saat menginisiasi penanaman mangrove bersama rekan-rekannya - IST

DENPASAR, kanalbali.com - Hamparan pohon mangrove menjadi saksi bisu dari aksi penyelamatan ekosistem badan air yang dilakukan oleh Fajar Lukman Hakim (29) sejak 2018 lalu di kawasan Teluk Benoa, Bali.

Meski terhitung baru empat tahun bergerak dalam upaya penyelamatan ekosistem badan air, hingga saat ini ia berhasil menanam tujuh jenis mangrove berjumlah 158 ribu pohon pada lahan seluas 21 hektar di Pulau Bali.

Gerakan ini pun muncul bukan tanpa alasan. Pada 2016, Fajar yang masih menjadi penyuluh perikanan untuk membina semua kelompok nelayan di Kota Denpasar mulai melihat kerusakan di ekosistem badan air.

Hal ini secara tidak langsung menyebabkan hasil tangkapan nelayan menjadi berkurang dan menyebabkan nilai tukar nelayan menurun."Saat itu saya mulai berpikir bagaimana caranya untuk membantu nelayan meningkatkan nilai tukarnya dan memperbaiki lingkungan," jelasnya saat ditemui sebelum penanaman mangrove di Denpasar, Minggu, (26/6/2022).

embed from external kumparan

Meski memiliki keinginan yang besar untuk menyelamatkan lingkungan, ia sadar bahwa gerakan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Hingga pada akhirnya, Fajar memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengajak orang lain bergerak bersamanya melalui platform digital yang disebut Bendega.id. Bendega sendiri dalam bahasa Bali memiliki arti nelayan.

"Bendega.id adalah kelompok nelayan digital yang berfokus pada perbaikan ekosistem badan air, termasuk laut, sungai, danau, dan untuk meningkatkan nilai tukar nelayan," jelasnya.

Menurutnya, saat ini ekosistem badan air semakin lama semakin kritis, banyak ada kerusakan di mangrove, terumbu karang, ekosistem sungai, dan danau. Terlebih lagi ada profesi nelayan yang saat ini semakin sedikit mendapatkan tangkapan dan berpengaruh langsung pada hasil tangkapannya.

"Aksi nyata yang kami lakukan salah satunya  dengan menanam mangrove bersama nelayan sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian mangrove di kawasan Teluk Benoa," imbuhnya.

Dalam platform digital ini, ia membuka donasi bagi masyarakat yang ingin ikut menyelamatkan lingkungan khususnya melalui penanaman mangrove. Sekaligus turut menggandeng perusahaan yang berlokasi di sekitar lahan mangrove untuk melakukan penanam pada lahan kritis melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

"Dalam hal apapun di Bendega.id ini kami libatkan nelayan, seperti menanam mangrove, dan memantau pertumbuhannya dilakukan langsung oleh para nelayan," kata dia.

Bendega.id beranggotakan 12 orang anak muda dengan rentang usia 25 tahun sampai 40 tahun. Para anggota ini adalah mereka yang mengetahui isu lingkungan, dan mengerti teknologi tepat guna, sehingga dapat melakukan hal lebih banyak lagi untuk perbaikan ekosistem dan membantu nelayan setempat.

Alumni Jurusan Perikanan di Universitas Udayana dan Magister Remote Sensing di Universitas Brawijaya ini mengungkapkan, nilai tukar nelayan saat ini menurun, artinya usaha yang dikeluarkan berupa tenaga, kapal, dan bensin tidak sebanding dengan penghasilan atau tangkapan yang diperoleh.

"Padahal setiap hari ikan menjadi konsumsi masyarakat, dan Bali dikelilingi laut tapi produksi perikanannya kecil. Ikan konsumsi yang dipasarkan di Bali kebanyakan berasal dari Madura, Lombok, dan Banyuwangi," sebutnya.

Fajar menuturkan bahwa penurunan hasil tangkapan ini disebabkan oleh faktor lingkungan, karena ekosistem sudah tidak baik untuk kehidupan ikan. Kadang ikan juga melakukan migrasi, jadi hasil tangkapan nelayan menurun.

Agar mampu meningkatkan nilai tukar nelayan, memperbaiki ekosistem itu sendiri. Meskipun dampaknya tidak secara langsung akan terlihat.

Cara kedua, yakni memberi pelatihan skill kepada nelayan, dan pelatihan untuk membuat berbagai olahan dari buah mangrove dan ikan."ke depan kami juga akan membuat pewarna alami untuk fashion dari daun mangrove. Jadi ada added value kepada nelayan," jelasnya.

Adapun saat ini, ia dan tim Bendega.id sedang gencar-gencarnya mengajak nelayan untuk ikut dalam aksi konservasi ekosistem badan air dan pengolahan buah mangrove.

"Saat ini baru ada 5 kelompok nelayan bermitra dengan Bendega.id dan ikut melakukan konservasi lingkungan. Ke depan kami ingin lebih banyak lagi kelompok nelayan yang bisa ikut bergabung," jelasnya. (Kanalbali/LSU)

...

Kamu juga bisa berpartisipasi dalam Program Satu Indonesia Award 2022 dengan mendaftar melalui link berikut.