kumparan
31 Januari 2019 16:34

Mesin Mati,Truk Bermuatan Batu Padas Nyemplung ke Sungai

Truk yang masuk ke sungai sedalam 20 meter di Gianyar, Kamis (31/1) - kanalbali/KR11
GIANYAR, kanalbali.com - Nass dialami supir truk Agus Tri Pamungkas (23) asal Banyuwangi. Ketika hendak menyeberangi Tukas Wos, dari Banjar Gelogor menuju Silakarang, truknya yang bermuatan batu padas nyemplung ke dasar sungai, Kamis (31/1) pagi.
ADVERTISEMENT
Agus Tri Pamungkas sendiri selamat dalam insiden tersebut, namun sebagian truknya terendam air, jatuh sedalam sekitar 20 meter, di selatan jembatan. Truk dengan Nopol P 8741 PM saat menanjak di jalur tersebut mesinnya mati. Sehingga Agus Tri mencoba mengendalikan truknya, namun malah mundur tidak terkendali sehingga jatuh. Beberapa warga lantas melakukan evakuasi dan dilarikan ke RS Primagama, untuk mendapatkan perawatan medis. Beberapa warga mengeluhkan kondisi jalan dan jembatan tersebut yang sudah rusdak sejak 10 tahun lalu. Warga menilai, jembatan penghubung tersebut terlalu sempit dan memerlukan pelebaran, apalagi jembatan tersebut berada di tikungan saat akan menuruni dan melintas naik.
“Jembatannya sudah rusak, aspalnya bolong-bolong, namun tak kunjung mendapat perbaikan,” jelas seorang warga. Menurut warga akses jalan tersebut hanya dijadikan momen untuk janji-janji politik. Siang kemarin, truk tersebut masih berada di dasar sungai. Mengingat jatuhnya di kedalaman dan medan yang berat, membutuhkan waktu yang lama untuk evakuasi truk tersebut.
ADVERTISEMENT
Warga Banjar Gelogor, I Nyoman Landung yang ikut mengevakuasi korban menjelaskan korban datang dari arah Gelogor menuju Banjar Silakarang membawa truk dengan muatan batu padas. “Saat tanjakan, mesin truk tiba-tiba mati dan berusaha menghindari jalan berlubang,” jelas Nyoman Landung. Nyoman Landung menjelaskan evakuasi yang melibatkan warga Gelogor dan Silakarang. Jalur evakuasi sangat sulit dan dipenuhi semak belukar. “Kami mengevakuasi diantara semak-semak, kami sangat kesulitan,” jelasnya.
Warga Silakarang, I Wayan Suteja tampak menyayangkan jembatan tersebut tidak diperbaiki, apalagi pembatasnya dengan batang bambu yang serba darurat. “Kondisi jembatan sudah goyang-goyang, sebaiknya sudah diperbaiki dan diperlebar,” harap Wayan Suteja. Warga lain, Ketut Sumardika menjelaskan akses tersebut sebenarnya hanya bisa untuk roda dua saja. Sedangkan roda empat apalagi bermuatan, sebenarnya tidak bias melintas, selain medan berbahaya, jalannya juga mengalami kerusakan.
ADVERTISEMENT
“Dulu pernah ada larangan melintas bagi truk dan roda empat bermuatan, namun dilanggar. Kami khawatir jembatan roboh dan kondisinya sangat labil,” terang Sumardika. Dikatakannya, jembatan tersebut dibuat permanen sekitar Tahun 2008, namun sampai saat ini belum mendapat perbaikan. (kanalbali/KR11)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan