Nyepi Segara, Tradisi Warga Kusamba, Bali, Menjaga Harmoni dengan Samudera

Konten Media Partner
21 Oktober 2021 13:49
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Nyepi Segara, Tradisi Warga Kusamba, Bali, Menjaga Harmoni dengan Samudera (76106)
searchPerbesar
Warga melakukan persembahyangan di pantai saat Nyepi Segara di Klungkung, Bali - IST
KLUNGKUNG - Tradisi Nyepi Segara dilaksanakan, Kamis (21/10/2021) hari ini di Perairan Kusamba, Klungkung, Bali. Seluruh aktivitas warga di perairan ini dihentikan, termasuk penyeberangan di pelabuhan rakyat.
ADVERTISEMENT
Tradisi ini digelar setiap tahun, sehari setelah Purnama Kelima. Petugas pecalang dari beberapa desa adat setempat, juga nampak berjaga-jaga. Nyepi Segara berlangsung sejak pukul 06.00 WITA dan berakhir pada esok hari.
Salah satu pecalang yang ditemui di lokasi, A.A Raka, mengatakan tradisi Nyepi Segara sebagai cara warga setempat menetralkan kembali Perairan Kusamba. "Ini juga sebagai bentuk penghormatan dan memberikan kesempatan laut untuk kembali," katanya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Salah satu petugas penyebrangan di Pelabuhan Penyebrangan Rakyat Kusamba, Wayan Sukarjana, mengatakan dalam rangka Nyepi Segara ini, petugas sudah mengumumkan kepada calon penumpang. Mereka yang hendak menyeberang ke Nusa Penida tidak bia melalui Pelabuhan Rakyat Kusamba.
Nyepi Segara, Tradisi Warga Kusamba, Bali, Menjaga Harmoni dengan Samudera (76107)
searchPerbesar
Perahu nelayan diistirahatkan saat Nyepi Segara di Bali - IST
Warga bisa melakukan penyebrangan ke Nusa Penida melalui Pelabuhan Padangbai, Karangasem, atau bisa juga melalui Pelabuhan Tradisional di Sanur. "Kami sudah umumkan lewat pengeras suara. Ada juga melalui media online. Penyebrangan baru akan normal lagi Jumat pagi," tegasnya.
ADVERTISEMENT
Meski sudah diumumkan, tetap saja ada yang datang ke Pelabuhan Rakyat Kusamba, karena mengaku tidak tahu ada pelaksanaan tradisi Nyepi Segara.
Bendesa Adat Tri Buwana yang juga mewilayahi Perairan Kusamba, I Gusti Lanang Putra Wijaya, mengatakan, laut adalah sumber penghidupan manusia. "Ini adalah ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Dewa Baruna, atas karunia yang melimpah diberikan kepada warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan," katanya. (kanalbali/KR7)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020