kumparan
27 Des 2018 14:27 WIB

Pergub Larangan Kantong Plastik Dikhawatirkan Hanya Hangat Tahi Ayam

Pemilik warung kelontong mengaku masih kesulitan mengikuti larangan Pergub Bali untuk tak menggunakan kantong plastik (kanalbali/GAN)
ADVERTISEMENT
BULELENG, kanalbali.com --- Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 97 Tahun 2018 yang mengatur tentang larangan penggunaan kantong plastik, styrofoam, dan sedotan plastik menunai pro dan kontra dikalangan masyarakat. Meski masih ada yang meragukan tentang peraturan itu pendukung peraturan itu masih cukup banyak.
Wartawan Kanalbali.com sempat menanyakan terkait Pergub tersebut ke beberapa warga di kawasan Singaraja dan hasilnya dari 10 orang yang sempat ditanya 6 orang menyetujui peraturan tersebut, 2 orang masih ragu dan sisanya tidak setuju. "Saya hanya takut ini hanya hangat diawal,"kata Made Sujani saat ditemui di warung Ari yang terletak di Jl Raya Seririt - Singaraja, Temukus. Rabu, (27/12)
Pria yang juga seorang pemandu wisata ini mengatakan jika aturan tersebut tidak ada yang salah namun ia hanya khawatir aturan tersebut hanya sebatas wacana meski hitam diatas putih jelas tertera. "Saya hanya ingin kalau aturan itu harus tegas dan sangsinya juga harus tegas jangan runcing bawah tumpul atas,"tegasnya.
ADVERTISEMENT
Kadek Sri pemilik warung Ari menyampaikan jika peraturan itu masih memberatkannya apalagi sedotan dan styrofoam adalah salah satu bahan utama yang selalu digunakan di warungnya. Ia pun berdalih sedotan plastik masih lebih murah dan mudah ditemui jika dibandingkan dengan bahan lainnya.
"Ya mau gimana lagi, itu aturan pemerintah kalau saya pribadi sedikit keberatan kecuali memang pengganti sedotan dan styrofoam telah banyak di pasaran,"katanya.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu pengunjung yang sempat ditemui di Pantai Kuta, Muhamad Rizky, pria yang sudah 5 tahun menetap di Bali ini pernah mencoba menggunakan sedotan yang terbuat dari ketas namun menurutnya itu masih kurang pas untuk solusi sebab cepat basah.
ADVERTISEMENT
"Yang terbuat dari stainless memang lebih bagus cuma sedikit susah mencarinya dan masyarakat saya rasa belum terbiasa dengan ini,"ucapnya.(kanalbali/GAN)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan