Pencarian populer

'Peyeumisasi', Teknik Mengubah Sampah Jadi Listrik

SAMPAH dicampur dengan bio aktivator untuk mempercepat proses fermentasi (kanalbali/RFH)

KLUNGKUNG, kanalbali.com -- Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Werdi Guna di Desa Gunaksa, Dawan, Klungkung tertata rapi. Sampah dalam kotak-kotak berukuran 2x1x1 (PxLxT) meter tanpa bau busuk sama sekali meski disimpan lebih dari 1 hari. Sungguh jauh dari kondisi tempat pembuangan pada umumnya.

Kok bisa? Rahasianya ternyata karena pola pengelolaan sampah di tempat ini yang sudah menggunakan tehnik peyeumisasi. Ini adalah suatu cara yang sederhana untuk mempercepat pembusukan alias melakukan fermentasi sampah dengan menggunakan bio aktivator. Hebatnya, sampah kemudian bisa diolah menjadi bahan pembakaran yang ujungnya bisa digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik.

Proses peuyemisasi merupakan hasil penelitian dari dua peneliti Sekolah Tinggi Teknologi (STT) PLN, Supriadi Legino, dan Sony Jatmika Sunda Jaya. Keduanya sudah membuat konsep pada 2002 kemudian dilakukan berbagai uji coba.

Sampai pada 2015, ketika STT PLN ingin menciptakan temuan listrik kerakyatan dengan membuat pembangkit listrik skala kecil untuk membantu target pemeritah menyediakan listrik 35.000 MW, metode ini pun mulai diterapkan. "Saat itu alternatifnya pakai solar atau energi matahari, tapi harganya masih terlalu mahal," sebut Arief Noerhidayat, penanggungjawab proyek ini di Klungkung dari STT PLN, saat ditemui pekan lalu.

SAMPAH yang sudah diubah menjadi palet siap digunakan sebagai bahan bakar (kanalbali/RFH)

Keunggulan peyeumisasi karena peralatannya relatif sederhana, pengolahan waktunya cepat, memanfaatkan energi dalam sampah dan tidak perlu ada pemilahan antara sampah organik dan anorganik.

Proses peyeumisasi dilakukan dengan menempatkan sampah pada boks berukuran 1x1x2. Kemudian, dilakukan penaburan bio aktivator yang disebut A-TOSS. Komposisisnya untuk 1 ton sampah cukup 1 liter A-TOSS yang dicampur dengan 40 liter air. Campuran ini disiramkan ke masing-masing kotak.

Secara konseptual dibutuhkan 10 hari untuk bisa mengolah sampah lebih lanjut. Namun dalam praktek di Klungkung, karena kebanyakan adalah sampah organik, maka hanya diperlukan waktu selama 3 hari saja. Pada proses itu, terjadi pengumpulan energi dari gas-gas seperti metana dan penurunan kadar air 30-50 persen. Warna sampah pun menghitam dan bau busuk menghilang.

"Sampah sudah siap dipanen kemudian dicacah dan diubah menjadi Pelet," jelas Arief. Pelet yang berupa bulatan-bulatan kecil mengandung kalori 3400 kcal/kg yang kemudian bisa dimanfaatkan dengan tiga cara. Pertama, langsung dimanfaatkan sebagai bahan pembakaran layaknya arang. Kedua, untuk diubah menjadi gas (gasifier-red) dan kemudian digunakan untuk pembangkit listrik skala kecil. Ketiga, untuk pembangkitan listrik skala besar yang dicampur dengan batubara.

Penggunaan pelet untuk bahan bakar sudah dimanfaatkan oleh warga setempat dan sebagian terserap oleh PT Indonesia Power (IP) untuk keperluan Coorporate Social Responsibility (CSR). Adapun untuk gasifier, pihak IP sudah membangun pembangkit listrik tenaga menengah dengan kapasitas 30-50 kv, di mana pelet dari sampah dapat menghemat solar hingga 80 persen. 50 kg pelet bisa digunakan untuk menghidupkan listrik selama 1 jam dengan kekuatan 50 Kw.

Adapun untuk pembangkit skala besar di mana pelet digunakan untuk menggantikan batubara, pihak IP sudah membuat perjanjian dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di Klungkung yang telah memiliki TPST. Pihak IP akan menyalurkan palet untuk keperluan PLTU Jeranjang di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang memiliki kapasitas 3x25 MW. "Alokasinya 1-5 persen dari keseluruhan kapasitas pembangkitan," kata Arief. Saat ini, dalam masa uji coba, sampah yang dibutuhkan mencapai 3 ton perhari untuk menghasilkan 200 kg pelet.

Uji coba di Klungkung adalah yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Berawal ketika pihak STT PLN melakukan penawaran ke sejumlah pihak untuk melakukan kerjasama ternyata Bupati Klungkung Nyoman Suwirta menunjukkan ketertarikannya. "Pak Bupati malah langsung datang ke STT PLN untuk mempelajari," kata Arief.

Investasi untuk penerapan peyeumisasi pada satu IPST sendiri mencapai Rp 100 juta, yakni untuk keperluan pembuatan boks sampah, mesin pencacah serta bio- aktivatornya. Adapun untuk operasional harian sektar Rp 100 ribu dengan melibatkan 10 orang pekerja. (kanalbali/RFH)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Sabtu,25/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23