Prihatin Wisata Massal, Anak Muda di Bali Ini Luncurkan Paket Tour Travelearn
·waktu baca 4 menit

DENPASAR, kanalbali.com - Lahir di tengah keluarga yang bergelut dalam dunia pariwisata menjadi alasan kuat bagi Ni Made Ayu Natih Widhiarini (25) untuk lebih peduli terhadap keberlanjutan pariwisata di Pulau Dewata.
Pada tahun 2021 ia menggagas konsep pariwisata berkelanjutan dengan mengangkat kearifan lokal masyarakat Bali melalui paket wisata Travelearn.
"Saat ini pariwisata Bali dibangun lebih condong pada pariwisata yang masif, ini timbul karena melihat satu berhasil maka semua akan ikut-ikutan," jelasnya, Rabu, (6/7/2022).
Konsep tersebut dinilai akan menimbulkan persaingan ketat antar pengusaha di industri pariwisata. Padahal masih banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan di Bali tanpa harus bersaing satu dengan lainnya.
"Sebagai pelaku pariwisata juga, saya ingin Bali dibiarkan seperti apa adanya, menjadi museum hidup bagi wisatawan. Jadi jangan sampai mereka datang ke Bali, tapi banyak mal atau gedung pencakar langit," tuturnya.
Bersama empat orang teman yang juga memiliki latar belakang pendidikan di bidang pariwisata, Ayu mulai menggagas pariwisata berkelanjutan di Bali yakni Travelearn dengan mengusung konsep berwisata sambil mendapatkan edukasi.
"Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada wisatawan saat melakukan kegiatan pariwisata di Bali," ungkapnya.
Ayu menjelaskan, Travelearn diarahkan pada konsep Ecotravel yang berkelanjutan dan mampu memberikan dampak positif ke lingkungan serta sosial masyarakat.
Kegiatan yang dilakukan fokus menyediakan paket wisata ramah lingkungan dan dekat dengan kearifan lokal masyarakat. Adapun saat ini Travelearn telah memiliki tiga paket wisata.
Pertama, paket wisata mepantigan berlokasi di Batubulan, Gianyar. Kegiatannya berupa atraksi wisata budaya yang dipadukan dengan konsep sport tourism, yakni bela diri silat dilakukan bersamaan dengan aktivitas kearifan lokal Bali seperti tari kecak, dan tari baris di atas lumpur persawahan.
"Mepantigan sendiri berasal dari kata pantig yang artinya melempar atau bergulat. Megantingan gulat ala Bali yang dipadukan dengan kearifan lokal Bali dan dilakukan di atas lumpur persawahan," sebutnya.
Tujuan dilakukannya mepantigan di atas lumpur sawah karena tim Travelearn ingin memberikan pengalaman kepada wisatawan bahwa ketika berwisata juga harus mencintai bumi tempat manusia berpijak.
"Jadi konsep dari mepantigan ini adalah semacam berani kotor. Karena tanah, lumpur, sebenarnya ibu pertiwi yang mencerminkan tempat kita berasal," imbuhnya.
Paket kedua dari Travelearn yakni aktivitas pembuatan arak tradisional di Karangasem. Disana wisatawan akan mendapatkan edukasi tentang bagaimana cara membuat arak secara tradisional, mulai dari alatnya, dan bagaimana arak Bali dibuat dengan konsep berkelanjutan.
Paket ini juga dilengkapi dengan aktivitas trekking. Dimana tim Travelearn akan menghitung carbon trekking yang dihasilkan. Beberapa bulan setelah terkumpul digantikan dengan aktivitas penanaman pohon kembali.
"Jadi seimbang antara kegiatan pariwisata yang dinilai menghasilkan karbon sebanyak 8% seluruh dunia, sehingga nanti kami dapat gantikan dengan cara yang bertanggung jawab," tuturnya.
Travelearn juga menjalin kerjasama secara holistik, tidak hanya dengan masyarakat saja tapi juga dengan komunitas penanaman pohon, pecinta alam, dan startup yang mendukung kelestarian lingkungan.
Paket ketiga yakni aktivitas melukis bersama young artist painting di Desa Sayan, Ubud. Ayu menuturkan bahwa keberadaan young artist painting ini dapat menggambarkan kondisi atau suasana alam Ubud jauh sebelum berkembang seperti sekarang ini. Ciri khas young artist terlihat dari warnanya yang cenderung ceria, mengikuti imajinasi anak-anak.
"Awalnya young artist tercetus karena diawali dan dipelajari oleh anak-anak," sebutnya.
Kegiatan dari paket ketiga ini, nantinya wisatawan akan diajarkan melukis langsung oleh maestronya yang hidup di desa Sayan. Jadi dalam paket wisatanya akan diajarkan melukis, filosofi melukis, dan hasil dari lukisannya bisa dibawa pulang dijadikan oleh-oleh atau souvenir.
Ayu mengungkapkan, destinasi yang bekerjasama dengan Travelearn merupakan destinasi pilihan yang diseleksi berdasarkan beberapa aspek pendukung, yakni destinasi tersebut harus asli berkembang di suatu daerah tanpa dibuat-buat.
"Destinasi yang bekerjasama dengan Travelearn harus benar-benar mendukung keberadaan masyarakat lokal. Bukan investor asing yang memiliki tempat tersebut. Jadi 100% dimiliki oleh komunitas lokal, atau orang lokal yang berada di destinasi wisata tersebut," sebutnya.
Selain itu, pemandu yang mendampingi wisatawan juga merupakan warga lokal dari destinasi yang diajak bekerjasama. Sehingga ketika wisatawan datang ke lokasi akan langsung disambut oleh local guide.
"Jadi memang ada pemandu asli sana yang akan memberikan penjelasan dan bercerita terkait destinasi yang dikunjungi wisatawan," sebutnya.
Ia menyebut, paket wisata yang ditawarkan oleh Travelearn sendiri mendapatkan respon yang sangat baik dari para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Meski Travelearn baru berdiri, tapi sudah ada beberapa wisatawan yang menggunakan jasa Travelearn untuk berlibur di Bali seperti wisatawan dari Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya.
Ia berharap kedepan dapat membuat pariwisata Bali ini benar-benar dikembangkan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
"Saya harap apa yang kami kembangkan bersama masyarakat lokal agar benar-benar bisa berkelanjutan, memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat," sebutnya. (Kanalbali/LSU)

