kumparan
KONTEN PUBLISHER
3 Oktober 2018 12:35

Putra Maestro Kadek Suardana Hadirkan Komunitas Seni Suarshima

MADE Pria Darsana (ujung kiri) bersama Made Arthya Talava, I Gusti Ngurah Agung Mariswara, Anak Agung Putu Atmadja dan Dewa Gede Palguna saat jumpa pers Komunitas Seni Suarshima, Rabu, 3/10 di Denpasar (kanalbali/RFH)
ADVERTISEMENT
DENPASAR, kanalbali.com – Putra maestro tari dari Bali Kadek Suardana, Made Arthya Talava membentuk “Komunitas Seni Suarshima” (KKK) yang berusaha melanjutkan misi merevitalisasi kesenian Bali. Peluncuran komunitas ini akan ditandai dengan pementasan di Jaba Pura Puri Satria, Minggu, 7/10 nanti.
Lolink, begitu sapaan akrab Talaya mengatakan, komunitas ini diharapkan melahrkan maestro-maestro seni Bali yang mempunyai akar yang kuat pada tradisi Bali tapi sekaligus memiliki wawasan luas atas perkembangan seni kontemporer.
“Ini semangat yang diwariskan oleh almarhum Kadek Suardhana dan Mari Nabeshima,” ujarnya. Nama komunitas itu sendiri diambil dari penggalan kata nama “Suar” dan “Shima” dimana keduanya sempat melahirkan sebuah karya penting. Keduanya kini telah berpulang, yakni Nabeshima yang berasal dari Jepang meninggal pada 2010 dan Suardhana pada 2013.
ADVERTISEMENT
Selain Lolink, dua seniman muda Bali lainnya yang ikut bergabung adalah I Gusti Ngurah Agung Mariswara dan Anak Agung Putu Atmadja yang juga merupakan murid Suardhana dan Nabeshima. Keduanya akan ikut tampil dalam pementasan perdana dengan karya-karya terbarunya.
Menanggapi keberadaan komunitas itu, aktivis seni, Made Pria Dharsana mengaku sangat senang karena semangat Kadek Suardhana masih dilanjutkan. “Kita bisa menanti munculnya karya-karya inovatif sebagaiman yang sudah dilahirkan oleh Kadek,” ujarnya karib dari Kadek Suardana ini. Dia pun berharap, karya Kadek yang belum diungkapkan ke publik dapat ditampilkan meski dengan gaya anak-anak muda saat ini.
Sementara itu Dewa Palguna yang bersama Kadek mendirikan yayasan seni “ARTI Foundation” menyebut, karya-karya Kadek biasanya akan dipenuhi dengan kontroversi bahkan di kalangan rekan-rekannya sendiri.
ADVERTISEMENT
Tapi dalam proses berkesenian hal itu justru menjadi energy kreatif sampai setiap seniman bisa menemukan karakternya sendiri. “Ini kesempatan yang bagus bagi anak-anak muda untuk memulai proses mereka,” kata hakim di Mahkamah Konstitusi ini. (kanalbali/RFH)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan