News
·
19 Januari 2021 10:57

Sepi Turis di Bali, Perang Tarif Angkutan Wisata di Nusa Penida Marak

Konten ini diproduksi oleh Kanal Bali
Sepi Turis di Bali, Perang Tarif Angkutan Wisata di Nusa Penida Marak (176083)
Keindahan alam Nusa Penida menjadi daya tarik bagi turis domestik - IST
Situasi demikian sempat dikeluhkan salah satu Pengelola Jasa Angkutan Wisata Nusa Penida, Wayan Suwardana. Saat dihubungi, Selasa (19/1), dia mengaku sudah ambil ongkos transport Rp 400 ribu per paket. Dia mengira tarifnya itu sudah yang paling murah. Ternyata, wisatawan masih menganggapnya mahal.
ADVERTISEMENT
"Setiap orang bertanya saya berikan harga segitu, padahal saya kira itu harga murah. Ternyata itu dibilang mahal. Setelah saya hubungi kembali tamunya, ternyata sudah dapat harga transport Rp 300 ribu. Ada juga yang dapat Rp 350 ribu, pantesan tamunya selalu lepas. Ternyata saya jualan terlalu mahal," keluh Pengelola Jasa Angkutan Wisata asal Desa Bunga Mekar ini.
Melihat situasi perang tarif ini semakin marak, Pengelola Jasa Angkutan Wisata Nusa Penida lainnya menelorkan ide untuk membentuk pengurus. Salah satunya, Kadek Sudiarsa, dia menyarankan untuk membentuk pengurus, sebagai solusi untuk mengakhiri perang tarif ini.
Sepi Turis di Bali, Perang Tarif Angkutan Wisata di Nusa Penida Marak (176084)
Antrian angkutan wisata di pelabuhan banjar nyuh Nusa Penida - IST
"Tergantung persetujuan semeton (Komponen Pengelola Jasa Angkutan Wisata). Kalau usulan ini bisa diterima, selanjutnya bisa dicarikan penghubung ke Pemda untuk pembentukannya," katanya.
ADVERTISEMENT
Bupati Klungkung Nyoman Suwirta, dihubungi Senin (18/1) menanggapi serius adanya persoalan ini. Ia menyampaikan dulu sudah ada rencananya mengaturnya dalam wadah koperasi. Tetapi, beberapa pengusaha Jasa Angkutan Wisata, memilih rencana lain, dengan membentuk lembaga lain, agar diatur standar tarif di antara Pengelola Jasa Angkutan Wisata. Tetapi, sekarang kalau ada niatan ingin membentuknya, agar tarif ada yang mengatur, pihaknya mengaku siap untuk memfasilitasinya.
"Dulu sudah pernah kami kumpulkan. Tetapi, karena tiba-tiba terjadi pandemi COVID-19, sehingga rencana tidak berlanjut. Mungkin saya akan turun lagi, untuk menyelesaikan persoalan ini," tegasnya.
Salah satu solusi untuk mengatasi adanya perang tarif seperti ini, diakui memang harus ada wadahnya. Apapun bentuknya boleh saja, tetapi menurutnya koperasi lebih bagus dari bentuk lembaga wadah yang lain. Sehingga kedepan bisa menjadi binaan pemerintah daerah. (KANALBALI/KR7)
ADVERTISEMENT