kumparan
KONTEN PUBLISHER
5 Februari 2020 12:45

Kisah Heman Tan, Chef Asal Singapura yang Dijuluki The Iron Man Chef

image.png
Heman Tan, seorang Chef asal Singapura yang mendapat julukan Iron Man Chef berbagi kisah tentang perjuangannya dalam kehidupan | Photo by Instagram/@chefheman

"Beberapa orang dilahirkan untuk menjadi juara, sementara yang lain tetap rata-rata atau di bawah rata-rata. Pada akhirnya, hal yang penting adalah sikap disiplin dan bagaimana Anda memandang hidup Anda.”

- Heman Tan, Chef

ADVERTISEMENT
Dalam hidup ini, ada beberapa orang yang beruntung untuk menggapai mimpinya tanpa rintangan yang berarti. Namun di sisi lain, tak sedikit orang yang harus bekerja lebih ekstra dalam menggapai mimpi dan kesuksesan dalam hidup.
Harus menghadapi berbagai permasalahan, jatuh bangun, kegagalan, kekecewaan, titik terendah dalam hidup dan lainnya. Hal tersebut nampaknya telah ‘kenyang’ dirasakan oleh Heman Tan, seorang Chef di Singapura yang dijuluki Iron Man Chef.
Heman Tan adalah seorang Chef sekaligus seniman kuliner terkenal di Singapura. Sebelumnya, ia adalah seorang koki eksekutif di JP Pepperdine Group dan Chief Culinary Officer di Soup Restaurant Group. Sekarang, ia memiliki bisnis restoran bernama Ironman Dine di Kallang, Singapura.
Sebelum meraih kesuksesan seperti sekarang ini, ada banyak tantangan dalam hidup yang pernah ia rasakan. Mulai dari putus sekolah, mengidap disleksia, hingga tumor otak. Melansir dari Business Insider, berikut kisah hidup Tan beserta perjuangannya.
ADVERTISEMENT
  1. Sempat Mengidap Penyakit Tumor Otak
image.png
Chef Heman Tan berpose di restorannya, Iron Man Dine | Photo by Instagram/@chefheman
Mengalami putus sekolah saat di bangku SMA, Tan harus berjuang keras dalam bidang akademis karena mengidap disleksia dan infeksi yang membuatnya separuh tuli di salah satu telinga.
Tan juga harus melawan kecanduannya pada obat-obatan terlarang hingga awal usia 20-an. Ketika berusia 25 tahun, ia juga pernah dipecat setelah terkuak fakta bahwa Tan adalah mantan pencandu narkoba. Berita tersebut disebarluaskan sehingga orang lain di industri kuliner tidak akan mempekerjakannya.
“Ada banyak tantangan dalam hidup ini, tapi bagaimana cara kita menghadapinya adalah hal yang paling terpenting. Teruslah berjalan,” ungkap Tan kepada Business Insider.
Kehidupan Tan menjadi lebih baik ketika dia berhasil bekerja di Seoul Garden, Singapura. Disitulah ia bertemu dengan istrinya, dan kini mereka telah menikah selama 19 tahun.
image.png
Chef Heman Tan | Photo by Instagram/@chefheman
Namun, cobaan lain muncul di hidup Tan. Ketika anak keduanya lahir, Tan mengalami sakit kepala yang sangat parah, di mana ia membutuhkan setidaknya tiga obat penghilang rasa sakit setiap hari. Ketika hal tersebut dirasa sudah tak tertahankan, Tan pun melakukan pemeriksaan MRI. Hasilnya, ternyata Tan mengidap tumor otak.
ADVERTISEMENT
“Saya merasa sangat takut, dan bisnis saya waktu itu juga sedang mengalami masa-masa sulit. Ada begitu banyak hal yang membuat saya stres pada waktu itu,” kenangnya.
Tan menolak kenyataan tersebut. Akhirnya, ia pun melakukan pemeriksaan MRI untuk kedua kalinya yang dijadwalkan dua minggu kemudian. Ajaibnya, tumor tersebut pun menghilang.
Dokter sendiri tidak dapat menjelaskan mengapa tumor yang bersarang di otak Tan dapat menghilang. Namun Tan meyakini bahwa hal tersebut terjadi karena ia tidak pernah menyerah.
  1. Mengatasi Stres dengan Olahraga dan Hobi
image.png
Tan rutin berolahraga setiap hari serta melakukan hobinya yakni pottery | Photo by Instagram@chefheman
Cara Tan mengatasi stres adalah dengan berlari. Menurutnya, menangani stres dengan benar serta mempertahankan pola pikir yang baik adalah hal terpenting untuk bertahan dalam melalui berbagai tantangan dalam hidup.
ADVERTISEMENT
Setiap hari, Tan berlari sejauh 10 hingga 15 km dan bersepeda sejauh 60 hingga 80 km sebanyak tiga kali dalam satu minggu. Tidak hanya itu, ia juga rajin berenang sebanyak 100 putaran satu minggu sekali. Hingga saat ini, ia telah menyelesaikan tiga triathlon Ironman, di mana para peserta harus menyelesaikan renang sejauh 3,86 km, bersepeda sejauh 180,25 km, dan lari sejauh 42,2 km.
image.png
Dari seni membuat keramik, Chef Tan banyak belajar tentang kesabaran | Photo by Instagram/@chefheman
Tidak hanya berolahraga, Tan mengaku bahwa melakukan hobi juga dapat membantu untuk mengatasi stres. Pada masa rehabilitasinya dahulu, Tan mempelajari pottery atau seni membuat keramik. Hal tersebut mengajarinya tentang kesabaran dan mencerminkan begitu banyak perjalanan hidupnya.
“Setiap langkah yang Anda jalani, jika tidak dilakukan dengan benar, akan membuat pekerjaan yang Anda lakukan menjadi sia-sia,” ucapnya.
ADVERTISEMENT
Kesabaran yang ia dapatkan dalam seni membuat keramik diakuinya sangat berharga. Apalagi bila disandingkan dengan fakta bahwa hal tersebut sangat bertolak belakang dengan para koki di dapur.
  1. Mengisi Waktu dengan Kebaikan
image.png
Chef Tan bersama sang Ayah | Photo by Instagram/@chefheman
Disiplin menjadi kunci bagi Tan untuk menjalankan semua kegiatannya tersebut sembari menjalankan bisnis. “Waktu itu sangat ketat, tetapi kita harus memastikan hal tersebut dikemas dengan kebaikan.”
Setiap hari, Tan bangun pukul 4 pagi untuk menyelesaikan kegiatan rutinnya, yakni berlari selama 1,5 jam. Setelah itu, ia akan membuatkan sarapan dan mengantar ketiga anaknya ke sekolah. Ia juga selalu sarapan bersama istrinya sebelum istrinya pergi bekerja.
Walaupun mungkin terdengar cukup melelahkan, namun menurut Tan menghabiskan waktu bersama keluarga dan menyisihkan waktu untuk diri sendiri adalah hal yang sangat penting.
ADVERTISEMENT
  1. Berbagi dengan Sesama
image.png
Chef Tan pun tidak lupa untuk melakukan kebaikan dengan berbagi kepada sesama | Photo by Instagam/@chefheman
Selain mengurus bisnis dan melakukan hobinya, kini Tan menyebarkan kebaikan dengan memberikan dukungan kepada orang-orang kurang mampu dan mantan pecandu narkoba. Ia melakukan penggalangan dana melalui makan malam dan pertunjukan seni membuat keramik.
Setelah pengalamannya dengan tumor, Tan juga melakukan penggalangan dana untuk penelitian penyakit kanker di Singapura. Tidak hanya itu, Tan juga mengajarkan keterampilan memasak dan membuat keramik kepada penerima bantuan lokal maupun luar negeri melalui program yang dibuat oleh Tan bernama Iron Rice Bowl.
Tan mengungkapkan bahwa ia ingin membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan untuk memahami bahwa sesungguhnya kehidupan ada di dalam kendali mereka, dan nikmatilah semaksimal mungkin.
“Banyak orang ketika mengalami kesulitan bisa menjadi sangat depresi dan merasa kalah, tetapi saya pikir hal itu hanya akan membuat segalanya menjadi tambah buruk,” pungkas Tan.
ADVERTISEMENT
#terusberkarya
Jangan lupa follow Karja di Instagram (@karjaid) dan klik tombol 'IKUTI' di kumparan.com/karjaid untuk mendukung dan mengikuti konten menarik seputar entrepreneurship, kisah inspiratif, karya anak bangsa, dan isu sosial seputar milenial ya, Sobat!
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan