Bagaimana Cara Menghitung Siklus Haid untuk Mengetahui Kehamilan?
ยทwaktu baca 4 menit

Usia kehamilan pada umumnya berlangsung dalam 280 hari atau 40 minggu, usia tersebut dihitung dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir). Sayangnya, masih banyak yang belum mengetahui bagaimana cara menghitung siklus haid untuk mengetahui kehamilan. Akibatnya, banyak calon ibu hamil yang menerka-nerka.
Sebagai informasi, HPHT adalah waktu yang mengacu pada hari pertama ketika menstruasi ibu berakhir. Menyadur laman Fertility Smarts, HPHT bisa memberikan beragam informasi kepada para ibu, mulai dari melacak periode menstruasi, menentukan masa subuh, hingga HPL (Hari Perkiraan Lahir).
Apa yang Dimaksud dengan Siklus Haid?
Menurut The Normal Menstrual Cycle and the Control of Ovulation, siklus haid adalah perubahan alami yang terjadi di dalam organ reproduksi wanita setiap bulannya. Kondisi ini terjadi karena lapisan dinding rahim dan sel telur yang tidak dibuahi keluar dari vagina.
Pada setiap perempuan, siklus haid yang dialami berbeda-beda. Ada yang terjadi antara 21-35 hari, tapi rata-rata siklus menstruasi yang dialami ialah 28 hari. Siklus tersebut dipengaruhi oleh beberapa hormon, seperti hormon estrogen, progesteron, perangsang folikel, dan lain sebagainya.
Supaya lebih jelas, berikut pengertian singkat dari masing-masing hormon yang memiliki peran penting dalam siklus haid:
Hormon estrogen, hormon yang berperan dalam perubahan tubuh remaja dan terlibat dalam pembentukan lapisan rahim usai menstruasi.
Hormon progesteron, hormon yang berperan menjaga siklus reproduksi dan menjaga kehamilan.
Hormon perangsang folikel, hormon yang berperan mematangkan sel telur dalam ovarium sampai sel telur tersebut siap dilepaskan.
Hormon pelutein, hormon yang berperan untuk merangsang pengeluaran sel telur dari ovarium.
Hormon pelepas gonadotropin, hormon yang berperan penting dalam memberikan rangsangan pada tubuh untuk menghasilkan hormon perangsang folikel yang mempengaruhi proses pematangan dan pelepasan sel telur.
Keberlangsungan menstruasi yang dialami oleh perempuan tidak lepas dari beberapa fase yang dihadapinya. Sebelum terjadinya menstruasi, ada fase-fase yang dialami, seperti fase menstruasi, praovulasi, hingga pre menstruasi.
1. Fase menstruasi (hari ke-1 sampai hari ke-7 siklus menstruasi)
Fase menstruasi adalah fase pertama dari siklus menstruasi itu sendiri. Pada fase ini, dinding rahim akan luruh, sehingga darah akan mengalir melalui alat reproduksi wanita. Maka itu, kebanyakan wanita yang mengalami haid akan mengeluh kesakitan di area perut ke bawah atau rahim.
Peluruhan dinding rahim tersebut terjadi karena adanya pembuahan pada sel telur. Apabila ada sperma yang membuahi sel telur, ada kemungkinan hal ini menyebabkan kehamilan. Namun, ketika sel telur tak dibuahi, produksi hormon estrogen dan progesteron pun berhenti. Itu sebabnya, terjadi menstruasi.
2. Fase folikuler (hari ke-7 sampai hari ke-13)
Fase folikuler merupakan fase sebelum terjadinya ovulasi, akibatnya serviks kerap mengeluarkan lendir basa. Menurut Better Health Channel Departemen Kesehatan Australia, kondisi ini terjadi karena hipotalamus alias kelenjar pituitari melepaskan hormon perangsang folikel (FSH).
Nantinya, terdapat sel telur yang belum matang di setiap folikel tersebut, sehingga lapisan rahim wanita mengalami penebalan. Seiring dengan itu, konsentrasi estrogen ikut meningkat, sehingga terjadilah lendir basa tersebut.
3. Fase ovulasi (2 pekan sebelum menstruasi)
Kenaikan produksi hormon estrogen bisa memicu meningkatnya kematangan sel telur. Pada dua pekan sebelum fase menstruasi, sel telur tersebut akan siap untuk melepaskan ovarium. Setelah dilepaskan, sel telur akan mengarah ke tuba falopi lalu rahim.
Sebagai informasi, umur dari sel telur hanyalah 24 jam. Maka itu, sperma harus segera membuahi sel telur itu. Apabila tidak, sel telur akan mati.
4. Fase luteal (2 pekan sesudah ovulasi)
Fase yang selanjutnya adalah fase luteal yang terjadi setelah ovulasi. Pada fase ini, folikel akan hancur di permukaan ovarium dan berubah menjadi struktur korpus luteum. Nantinya, struktur tersebut akan mengeluarkan hormon progesteron dan estrogen meskipun dalam jumlah yang sedikit.
Cara Menghitung Siklus Haid untuk Mengetahui Kehamilan
Sebagai informasi, rumus yang digunakan untuk menghitung siklus haid untuk mengetahui kehamilan pertama kali dikemukakan oleh Franz Karl Naegele.
Ia adalah dokter kandungan dari Jerman pada abad ke-19. Nah, untuk menghitung siklus haid untuk mengetahui kehamilan, perhatikan poin-poin berikut ini:
Tentukan HPHT untuk langkah pertama
Selanjutnya, hitung mundur 3 bulan kalender dari tanggal tersebut
Kemudian, tambahkan 1 tahun dan 7 hari ke tanggal tersebut
Sebagai contoh, apabila periode terakhir menstruasi yakni tanggal 9 Februari 2020. Maka, hitung mundur kalender tiga bulan sebelum Februari, akan ditemukan tanggal 9 November 2019. Kemudian, tambahkan 1 tahun dan 7 hari yang pada akhirnya menunjukkan tanggal 16 November 2021 sebagai perkiraan HPL.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(JA)
Frequently Asked Question Section
Apa kepanjangan dari HPL?

Apa kepanjangan dari HPL?
HPL adalah kepanjangan dari Hari Perkiraan Lahir.
Apa kepanjangan dari HPHT?

Apa kepanjangan dari HPHT?
HPHT adalah kepanjangan dari Hari Pertama Haid Terakhir.
Apa itu siklus menstruasi?

Apa itu siklus menstruasi?
Siklus haid adalah perubahan alami yang terjadi di dalam organ reproduksi wanita setiap bulannya.
