Pencarian populer
Entertainment

1/JKT: Problematika Kehidupan Orang Jakarta dan Hikmah di Baliknya oleh Teater Abnon

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Maghfiro Ridho Maulana)

Grup Teater Abang None (Abnon) kembali beraksi di tahun 2018. Kali ini, para finalis dan mantan finalis Abang None Jakarta saling berkolaborasi, bercampur baur menyuguhkan pementasan drama musikal bertajuk 1/JKT.

Tema yang diangkat oleh Teater Abnon tidak pernah jauh dari pembahasan seputar Jakarta atau Betawi, tetapi untuk pertunjukkan yang diselenggarakan di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada 3 Juni 2018 tersebut lebih mengangkat tentang problema masyarakat Jakarta kekinian. Mulai dari masalah asmara, cita-cita, hingga idealisme semua dituangkan dalam pertunjukkan 1/JKT.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Pertunjukkan diawali dengan seluruh aktor yang terlibat tumpah ruah di atas panggung menari dan bernyanyi dengan riang gembira. Mereka tidak ada yang mengenakan pakaian serupa, melainkan beraneka ragam dan rupa, menggambarkan bahwa Jakarta adalah kota yang penuh warna, berbagai macam suku, ras, dan agama hidup berdampingan. Menandakan pula berbagai profesi saling mengisi dalam perannya masing-masing yang saling terkait satu sama lain.

Sekilas, kita akan melihat masyarakat Jakarta hidup penuh keceriaan dan bebas berekspresi dengan status sosialnya masing-masing. Namun, tiba-tiba suara teriakkan hadir dari sela-sela penonton yang hadir.

Mereka adalah aktor yang disusupi dan merupakan bagian dari skenario, dan pada akhirnya mereka adalah 3 tokoh utamanya. Mereka berteriak, yang intinya, menentang bahwa Jakarta adalah kota yang penuh kemakmuran dan kebahagiaan yang bagi mereka semua itu hanya ilusi belaka.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Lampu meredup, adegan bergeser kepada dua orang pria yang seolah berada dalam sebuah bar. Pria berbaju putih bernama Tagor (Christian Purba) sedang depresi akibat cintanya kandas, dan ia sulit untuk melangkah maju melupakan yang sudah lalu.

Di tempat itu, ia mabuk, kemudian menari bersama seorang perempuan yang sosoknya diceritakan dan digambarkan hanya sebatas sosok khayali.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Bartender mencoba untuk menawarkan solusi berupa pencarian terhadap sosok tambatan hati lain. Namun, tetap tak berhasil, ia kecewa dan pergi. Jakarta, kota yang penuh gemerlap dan janji-janji bahwa kesuksesan akan membawamu kepada apa yang kau inginkan, ternyata tak terlalu berlaku bagi Tagor. Ia boleh jadi pria tampan dan mapan tapi untuk urusan cinta ia tak temukan jawaban atas permasalahannya.

Adegan beralih ke sebuah restoran khas Tionghoa, di mana seorang perempuan cantik bernama Jacquelin/Mey Mey (Sonia Chan) tengah sibuk melayani para pelanggan yang memenuhi restorannya.

Di sela-sela kesibukannya bekerja, 3 orang temannya datang menghasut. Mereka bicara tentang mimpi, cita-cita, kemandirian, dan segala macam tentang kebebasan berekspresi.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Jacquelin adalah seorang perempuan yang pandai menari. Bakatnya tercium oleh seorang dosen dari sebuah universitas terkemuka di Yogyakarta, yang kemudian menawarkannya beasiswa untuk kuliah di sana. Berat bagi Jacquelin meninggalkan Jakarta karena faktor keluarga dan bisnis, terutama sang ayah yang tidak setuju.

Akan tetapi, ia bersikeras karena baginya mengejar mimpi adalah suatu hal yang amat penting dan Jakarta tidak memberi jawaban kepadanya akan hal tersebut.

Jacquelin merasa sepanjang hidupnya ia sudah banyak berkontribusi bagi keluarga dan ketika tawaran beasiswa dari kota pelajar datang, maka ia merasa itu adalah waktu yang tepat untuk menjadi dirinya sendiri.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Jakarta, kota yang katanya adalah tempat labuhan semua mimpi, ternyata tak berlaku bagi Jacquelin. Baginya, tidak ada yang menunggunya di kota itu, melainkan ada di kota lain.

Adegan selanjutnya, tokoh kita yang lain bernama Pepeng (Adi Purba) adalah seorang pria muda nan idealis yang mengenakan jaket cokelat, celana sobek-sobek. Adegan yang digambarkan dalam suatu sudut Jakarta yang amat khas, yaitu warung kopi, digambarkan bagaimana Pepeng bercengkrama dengan sang perempuan penjaga warung mengenai kehidupan kuliah dan tentang Jakarta itu sendiri.

Sesekali (bahkan berkali-kali) ia nimbrung percakapan pengunjung lain. Dari percakapannya dengan penjaga warung dan pengunjung lain itulah kita dapat memahami bahwa Pepeng adalah sosok idealis.

Seorang pengunjung mengatakan bahwa untuk mempermudah urusan birokrasi di Jakarta, maka akan lebih mudah jika kita memberi uang 'pelicin'. Pepeng menolak mentah-mentah karena baginya, itulah sumber atau bibit-bibit korupsi.

Di sisi lain, ia juga ogah dan malas mengurus sesuatu yang penting baginya jika itu masih harus berurusan dengan birokrasi, contohnya pengurusan Surat Izin Mengemudi, yang dinilainya sangat ribet jika harus melalui jalur normal.

Ironis ketika ia ogah berbuat licik tapi di sisi lain ia tak mampu, juga malas berbuat yang benar. Pada titik ini, ia merasa Jakarta tidak dapat memuaskan idealismenya.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

"Jakarta terlalu renta untuk berlari, terlalu kelam untuk mentari, terlalu sakit untuk sembuh," begitulah dialog Pepeng yang sekiranya paling dalam nan membekas.

Oh iya, namanya juga pertunjukkan drama musikal. Salah satu yang menarik dari pertunjukkan semacam ini adalah cara perpindahan dari satu adegan ke adegan lain, di mana jeda diisi oleh nyanyian dan tarian. Baru setelah itu masuk ke adegan baru. Namun, semuanya saling berhubungan dan berkaitan satu sama lain.

Kemudian, layar memutar cuplikan film yang menggambarkan bahwa ketiga karakter tersebut, yaitu Tagor, Jacquelin, dan Pepeng sama-sama membulatkan tekad keluar dari Jakarta. Mereka berkumpul di Stasiun Pasar Senen. Sekiranya begitu digambarkan dan di sana lah semuanya berubah.

Singkat cerita, di salah satu sudut stasiun, mereka berdiri saling berdekatan. Diawali dari sebuah percakapan telpon antara Jacquelin dan sang ayah, lalu disusul oleh celotehan Pepeng, Tagor juga ikut buka suara. Lalu, adegan diisi pembicaraan mereka satu sama lain, saling curhat, saling ejek, dan saling (sok) menasehati.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Sejurus kemudian, diiringi lantunan lagu "Sore Tugu Pancoran"-nya Iwan Fals yang dinyanyikan oleh grup musik pengiring, muncul lah salah satu karakter paling memelas di Jakarta. Karakter ini pasti sering kalian lihat di kehidupan sehari-hari. Mereka adalah dua orang anak kecil yang menjajakan koran.

Si Budi kecil kuyup menggigil

Menahan dingin tanpa jas hujan

Di simpang jalan tugu pancoran

Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang Magrib hujan tak reda

Si Budi murung menghitung laba

Surat kabar sore dijual malam

Selepas Isya melangkah pulang

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Singkat cerita, mereka mencoba menjual koran kepada para pengunjung stasiun, termasuk ketiga karakter utama. Akan tetapi, tak kunjung laris.

Ibu dari kedua anak tersebut muncul sebagai antagonis. Memalak anaknya sendiri dan menekankan bahwa mereka harus berdagang koran lebih giat lagi agar dapat makan dari penghasilan (uang).

Sekolah? Lupakan. Ya, begitulah.

"Kalau kagak ada ini (koran), kita kagak bisa makan!" ucap sang ibu yang marah akibat koran dagangannya (diceritakan) basah.

Ini adalah sebuah bentuk keprihatinan kita akan kondisi negeri ini, tak terkecuali di Jakarta. Koran yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan, bekal literasi dan edukasi untuk mengisi otak, malah sekadar dijadikan alat yang kemudian ditukarkan dengan uang untuk mengisi perut.

Seorang satpam stasiun bertanya kepada mereka, "kenapa gak lu tinggalin aja emak lu? Tinggalin Jakarta".

"Biar bagaimanapun itu emak aye. Lagian, aye udah terlanjur cinta ama Jakarta," kata salah seorang sambil tersenyum sembari memijat sang satpam.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Bagaimana seorang anak kecil yang hidupnya nampak sudah tersiksa masih bisa mengucapkan kata "cinta" kepada Jakarta, kepada kota yang merampas kebahagiaan masa kecilnya, kepada kota yang membuat orang tuanya jadi beringas, kepada kota yang membuat manusia lebih mementingkan harta dibandingkan segalanya.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Mereka menghampiri tiga tokoh utama, yang diceritakan sedari tadi memperhatikan dialog dua anak tadi dengan sang ibu dan sang satpam. Salah seorang anak juga bermonolog dengan iringan musik. Lalu, adegan beralih di mana mereka semua menari dengan riang.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Ketiga tokoh tadi terpana dan menemukan jawaban dari permasalahannya. Pada akhirnya, mereka tidak keluar dari Jakarta. Satu hal yang pasti adalah bahwa lari bukanlah jawaban.

Keluar dari ibukota bukan berarti menemukan jawaban atas segala permasalahan. Intinya, masalah yang mendera itu harus dihadapi dan dicari solusinya, bukan ditinggal pergi begitu saja. Pahit tapi begitulah hidup ini berjalan.

Ini adalah pertunjukkan yang menyentuh nurani kita semua. Iya, kita. Orang-orang yang tinggal atau sekadar mencari nafkah (juga mencari cinta) di Jakarta. Pentas 1/JKT menyentil para penontonnya dengan baik berbekal karakter yang kuat, akting yang apik, tata musik yang berirama, dan tarian yang penuh makna.

Teater Abnon dalam Pementasan 1/JKT (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Teater Abnon, tak terkecuali untuk pentas 1/JKT, adalah pertunjukkan di mana seluruh yang terlibat adalah para finalis dan mantan finalis Abnon. Ada beberapa sosok penting yang menyukseskan pementasan kali ini, mereka adalah Karina Syahna dan Lutfi Ardiansyah selaku koreografer, lalu Tania Husein untuk urusan pengarah musik. Sutradaranya adalah Bobby Tanamas dan sang asisten bernama Aji Pratama. Dan masih banyak lagi sosok-sosok yang amat berjasa dalam kesuksesan pementasan 1/JKT.

Untuk jabatan produser dipegang oleh Diyang Renantia. Ia adalah dulu finalis None Jakarta Utara tahun 2011. Menurut penuturannya, persiapan pementasan 1/JKT adalah kurang lebih 3 bulan dari sejak awal casting hingga tampil di GIK.

Diyang juga mengatakan bahwa pemilihan konsep drama musikal untuk mengangkat kebudayaan atau gambaran kehidupan masyarakat Jakarta dipilih karena memang Teater Abnon kini sedang fokus mengeksplorasi genre tersebut. Kembali lagi karena ini merupakan drama musikal, jadi pemilihan lagunya tentu tidak boleh sembarangan dan memang sengaja dipilih lagu yang berkaitan dengan Jakarta.

"Kita listing semua lagu tentang Jakarta. Nah, bisa dilihat dari satu lagu hingga akhir, itu pasti ada lagu tentang Jakarta, (seperti) 'Jakarta Ramai', 'Jakarta' (lagu dari band Semenjana), 'Kisah dari Selatan Jakarta', 'Halo-Halo Jakarta', pokoknya semua Jakarta," ujar Putra Pamungkas selaku pengarah produksi.

"Berangkat dari lagu-lagu itu kita lihat nih ke masalah-masalah yang cocok kita masukkin (ke dalam pementasan). Kita gimana caranya (membuat) di scene itu sesuai sama lagu apa yang akan dibawakan".

Sebenarnya, jika ditarik dari sejarah, Teater Abnon tidak akan pernah ada jika bukan karena inisiasi Maudy Koesnaidi, None Jakarta tahun 1993. Ketika diwawancarai, Maudy menuturkan bahwa apa yang menginspirasinya mengadakan pertunjukkan teater abang none adalah semacam penuntasan janjinya saat 'kampanye' menjadi None Jakarta.

"Jadi, sebenarnya, awalnya ketika saya terpilih menjadi None Jakarta (tahun) 1993. Ketika itu diwawancara, jurinya, ibu Poppy Dharsono, ditanya 'nanti kalau menang None Jakarta mau ngapain?', lalu saya bilang 'mau bikin sesuatu kegiatan buat anak muda mengenal Jakarta'," kenang Maudy.

"Terus selesai jadi None Jakarta, saya langsung jadi (tokoh) Zaenab di (sinetron) Si Doel Anak Sekolahan. Jadi, nilai budaya Betawinya (saya) itu dari abnon hingga ke keluarga si Doel membuat semakin lama semakin dalam, semakin matang, semakin lekat, terus saya merasa jadi Betawi banget".

Bagi Maudy, menjadi sosok Zaenab dalam karakter Si Doel Anak Sekolahan tidak membuatnya merasa sudah memenuhi janjinya di hadapan Poppy Dharsono dahulu tentang mempromosikan Jakarta/Betawi. Dirinya menyadari bahwa sinetron Si Doel Anak Sekolahan dan tokoh Zaenab-nya adalah inisiasi dari seorang Rano Karno, bukan Maudy Koesnaidi.

"Akhirnya pada tahun 2009, baru ada keberanian untuk bikin sesuatu dan pada waktu itu kan kepikiran akar budayanya (Betawi) kan lenong sama anak-anak Abang None Jakarta Utara karena saya kan dari Jakarta Utara. Jadi, bikin sandiwara Betawi, gitu," tutur Maudy.

Pada saat ide itu bermula, Maudy Koesnaidi berkoordinasi dengan Fauzi Bowo yang saat itu masih memegang jabatan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Ketika ide itu hendak dieksekusi, Fauzi Bowo sudah naik menjadi Gubernur DKI, yang pada akhirnya memuluskan langkah Maudy menjalankan pementasan Teater Abnon pertamanya.

Singkat cerita, Teater Abnon mendapat respon positif dari Fauzi Bowo dan kemudian diperluas menjadi seluruh finalis Jakarta, tidak hanya Jakarta Utara untuk tahun-tahun berikutnya. Jika tidak ada inisiasi dari seorang Maudy Koesnaidi, mungkin Teater Abnon tidak akan ada.

Pada akhirnya, hikmah dari pementasan 1/JKT adalah mengajarkan kita bahwa masalah itu harus dicari solusinya, bukan malah lari. Masalah itu harus dihadapi, bukan malah ditinggal pergi. Menyentil mereka yang berpikir bahwa lari dari Jakarta adalah jawaban yang pasti.

"Kenapa sih Jakarta itu selalu menarik untuk kita angkat ceritanya? Karena memang kita sadar bahwa setiap orang di Jakarta punya masalahnya masing-masing, tetapi terkadang kita tuh suka mencari kambing hitam untuk masalah kita sendiri, sampai-sampai kita gak melihat solusi itu yang ada di depan mata kita sendiri," ungkap Zaky yang hari itu berperan sebagai satpam stasiun.

"Kita ingin menghimbau kepada semua orang (melalui pementasan 1/JKT), di Jakarta khususnya bahwa 'lu tuh gak perlu ngelihat kemana-mana, lu coba ceburin (diri) dulu ke masalah lu, (setelah itu) dapat tuh solusi'. Kalau lu gak berani refleksi diri, kalau lu gak berani nyeburin, menghadapi masalah itu ya, lu gak akan dapat solusi, lu gak akan dapat cara menyelesaikan masalah itu".

Ya, masalah yang kau dapatkan di Jakarta, selesaikan di Jakarta. Meninggalkan kota ini bukan solusi karena apakah benar bahwa di tempat yang kita yakini lebih indah nanti kondisinya akan jauh lebih baik? Bisa jadi muncul masalah baru lagi. Kalau sudah begitu, kapan kelarnya masalah hidup ini?

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: