Pencarian populer

Suka Duka Perjalanan Charles Leclerc Menuju Panggung Formula 1

Charles Leclerc (Foto: Situs Resmi Charles Leclerc)

Selesai sudah penantian panjang publik Monako untuk kembali melihat adanya wakil dari negara mereka untuk membalap secara kompetitif di salah satu kejuaraan balap paling ternama di dunia, Formula 1 (F1). Gelaran balap mobil 'jet darat' tersebut terakhir kali memiliki pebalap dari negeri Keluarga Grimaldi adalah 24 tahun yang lalu, kala Olivier Beretta memperkuat tim Tourtel Larrousse F1. Dan tahun 2018 ini, ada nama Charles Leclerc yang tergabung dalam skuat Alfa Romeo Sauber F1 Team.

Banyak cerita dan kisah yang penuh suka dan duka mengiringi perjalanan Leclerc hingga sampai di panggung F1. Leclerc lahir di keluarga yang menaruh minat besar terhadap dunia balap. Ayah kandungnya, Herve Leclerc adalah seorang pencinta dunia balap dan pernah turun menjadi pebalap, bukan F1 memang, pada era 1990-an.

Herve kemudian berhenti dari hobinya tersebut untuk kemudian memberikan jalan bagi kedua anaknya, salah satunya Charles, untuk meneruskan cita-citanya. Charles Leclerc sudah mulai mencoba balapan di usia 4 tahun. Namun, ketertarikan Leclerc untuk menjadi pebalap tersebut bukanlah paksaan dari orang tuanya, melainkan minat yang tumbuh sendiri dari dalam hatinya.

"Saya memberi tahu ayah saya bahwa saya malas ke sekolah, untuk kemudian membuatnya mengajak saya bermain karting. Aku mengendarainya hingga bensinnya habis dan di jalan pulang aku bilang bahwa ini (balapan) adalah yang ingin aku lakukan," kata Leclerc.

Charles Leclerc, 2009 (Foto: Situs Resmi Charles Leclerc)

Leclerc memiliki salah satu guru yang baik pada fase awal perjalanannya di dunia balap, ia adalah Jules Bianchi, orang Prancis. Keluarga Bianchi juga menaruh minat terhadap dunia balap, beberapa anggota keluarga ada yang terjun ke dunia balap profesional, dan ayah dari Jules merupakan sahabat dari Herve, maka tidak heran jika kemudian anak-anak mereka, Charles dan Jules saling bersahabat. Jules Bianchi, yang terpaut 8 tahun lebih tua, sudah lebih dulu banyak menjajal lintasan dan tak ragu membagikan pengalaman, serta teknik balap kepada Leclerc.

Bianchi tidak menemui kesulitan yang berarti selama menularkan ilmu balapannya kepada bocah yang lahir pada 16 Oktober 1997 tersebut karena nampaknya Leclerc memang terlahir untuk balapan.

Bakatnya begitu terlihat, bahkan sejak kecil. Kemenangan pertamanya di dunia balap adalah di usia 7 tahun untuk kompetisi karting. Di dunia karting, ia berjaya dengan meraih kemenangan demi kemenangan, begitu juga Bianchi, di mana keduanya semakin akrab dan tak terpisahkan.

Sejak tahun 2009, Charles Leclerc mulai akrab dengan gelar juara, salah satunya adalah ia memenangkan kejuaraan balap di Cadet, Prancis, dan ia adalah juara termuda pada saat itu. Setahun berselang, ia menjadi pebalap termuda yang pernah memenangi Monaco Kart Cup KF3.

Hingga tahun 2013, ia terus menuai prestasi dengan kemenangan demi kemenangan dan gelar juara dunia di beberapa ajang balap karting, terutama di ajang-ajang resmi yang berada di bawah naungan CIK-FIA (komisi di FIA yang khusus mengurusi karting).

Charles Leclerc, 2011 (Foto: Situs Resmi Charles Leclerc)

Jules Bianchi sendiri memulai karier F1-nya lebih awal dari Charles Leclerc, sementara ia sendiri memilih balapan mobil lain terlebih dahulu setelah kariernya di dunia karting. Namun, siapa sangka bahwa di musim kedua Bianchi di F1 bersama Marussia F1 Team, Bianchi menemui ajalnya di Sirkuit Suzuka, Jepang tahun 2014. Jelas, ini merupakan duka mendalam yang pertama bagi Leclerc.

"Saya tidak pernah mampu mengatasinya (duka kematian Jules Bianchi). Mungkin saya tidak akan pernah bisa. Akan tetapi, saya tidak pernah ragu untuk melanjutkan (karier balap saya). Segala hal yang saya inginkan adalah balapan," ucap Leclerc.

Selepas meninggalkan karting, Leclerc kemudian melompat ke ajang balap mobil single-seater. Yang pertama adalah kejuaraan Formula Renault 2.0 Alps pada tahun 2014, di mana dari total 14 balapan, ia meraih 2 kali kemenangan dan total 7 podium. Alhasil, ia yang berada di tim Fortec Motorsports menjadi runner up akhir musim kejuaraan tersebut.

Karier pria Monte Carlo ini memang terbilang melesat dengan cepat karena di tahun berikutnya, 2015, ia langsung menjajal FIA Formula 3 European Championship (seri pendukung dari ajang Deutsche Tourenwagen Masters).

Di ajang tersebut, Leclerc bersama tim asal Belanda, Van Amersfoort Racing, meraih 4 kali kemenangan dan total 13 podium dari 33 kali balapan, serta berada di peringkat ke-4 klasemen akhir musim kejuaraan. Ia juga sempat merasakan balapan Macau Grand Prix di tahun yang sama dan sukses menjadi runner up.

Pada tahun 2016, Ferrari mencium bakatnya, dan di bulan Maret, Leclerc masuk ke dalam akademi pebalap tim kuda jingkrak. Sebelumnya, Jules Bianchi pernah masuk akademi Ferrari, 6 tahun lebih awal dari dirinya.

Di tahun yang sama, ia menjadi juara dunia GP3 Series, yang merupakan feeder series dari F1, dengan raihan 3 kali kemenangan dan total 8 kali podium. Selain itu, ia juga kerap menjadi pebalap penguji bagi Haas F1 Team yang bermesinkan Ferrari dan juga Ferrari pabrikan.

Charles Leclerc, juara dunia F2 2017 (Foto: Situs Resmi Charles Leclerc)

Tahun 2017, Charles Leclerc kembali menunjukkan tajinya dengan menjuarai Formula 2 (F2). Bersama tim Prema Racing, yang tahun ini diperkuat oleh Sean Gelael, ia tampil dominan dengan memastikan gelar juara dunianya saat kejuaraan masih menyisakan tiga balapan tersisa. Ia mengoleksi raihan 7 kali kemenangan dan total 10 kali podium dari 22 kali balapan. Leclerc Ia juga kerap menjadi pebalap tes untuk tim Sauber F1 Team, yang hingga tahun ini menggunakan mesin Ferrari.

Akan tetapi, duka kembali menyelimuti hati Leclerc kala sang ayah harus dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Herve Leclerc meninggal di usia 54 tahun hanya berselang 4 hari sebelum kemenangannya di Feature Race F2 GP Baku. Penggemar sosok Ayrton Senna ini membuat tribut untuk sang ayah yang juga mengidolakan orang yang sama dengan membuat desain khusus pada helmnya saat kemenangan di Azerbaijan tersebut. Baginya, sang ayah, juga Jules, adalah sosok paling berarti dalam hidup dan kariernya.

"Ketika saya menjadi yang kedua (saat balapan), ayah saya tidak begitu bahagia, jadi saya fokus untuk menang. Hanya menang. Untuk memastikan ia tetap tersenyum," ungkap Leclerc.

"Ayah saya dan Jules (Bianchi) selalu mengajarkan saya untuk tetap rendah hati dan tidak pernah berhenti berjuang. Saya berpikir mereka bangga melihat saya sekarang."

Charles Leclerc, Alfa Romeo Sauber F1 Team (Foto: Situs Resmi Charles Leclerc)

Akhirnya, cita-cita Leclerc terwujud di tahun 2018, kala direkrut secara reguler oleh Sauber untuk mendampingi Marcus Ericsson sebagai pebalap reguler di F1. Hingga seri balap ke-5, ia sudah mengoleksi 9 poin dari hasil finish ke-6 di Baku dan ke-10 di Barcelona. Charles Leclerc digadang-gadang sebagai calon pebalap masa depan Ferrari di F1, menggantikan Kimi Raikkonen. Namun, ia tetap rendah hati dan profesional menanggapi kabar tersebut.

"Itu adalah sebuah kehormatan bagi saya melihat artikel di mana Ferrari dan Leclerc tertulis dalam kalimat yang sama tapi, di sisi lain, itu tidak terlihat realisitis untuk saya," ujar Leclerc.

"Maksud saya, seperti yang kau bilang, sekarang saya harus membuktikan dulu kepada orang-orang apa yang saya bisa bersama Alfa Romeo Sauber dan lalu kita akan lihat setelahnya".

Menjadi bagian dari tim unggulan di F1 adalah mimpi jilid kedua bagi setiap pebalap baru di ajang 'jet darat' tersebut. Charles Leclerc tidak mendaku dirinya paling layak untuk menjadi penerus Raikkonen di Ferrari. Ia justru merasa harus bisa memaksimalkan potensinya bersama timnya saat ini, Sauber. Baginya, prestasi itu di lintasan, bukan di mulut belaka.

Kini, satu cita-cita Leclerc sudah digapai. Ferrari atau tim unggulan lain adalah pastinya mimpi lain dari Leclerc. Sebagaimana yang dijelaskan bahwa perjalanannya menuju F1 diiringi dengan dua kedukaan yang besar. Namun, itu tidak menghentikan langkahnya.

Poin pertama Leclerc di Azerbaijan (Foto: Situs Resmi Charles Leclerc)

Charles Leclerc tetap berprestasi di tengah duka. Mentalnya sebagai seorang pemenang telah teruji. Sebuah modal bagus untuk mengiringi bakat besarnya di dunia balap. Hamilton dan Vettel layak waspada akan masa depan cerah pebalap kebanggaan publik Monako.

Ada fakta menarik terkait balapan F1 di Monako. Balapan F1 di Monako yang pertama pasca perang dunia digelar pada tahun 1950. Peraih podium pertama adalah Juan Manuel Fangio dengan mobilnya, Alfa Romeo. Balapan F1 GP Monako selanjutnya digelar 5 tahun kemudian, tepatnya tahun 1955, dimenangi Maurice Trintignant bersama Ferrari.

Tahun 2018 ini, Charles Leclerc bersama tim Sauber yang menaruh embel-embel "Alfa Romeo" di depan nama tim yang bermesinkan Ferrari untuk mobil balapnya. Pertanyaannya, apakah Leclerc dapat berjaya di rumahnya sendiri tahun ini dan tahun-tahun berikutnya? Mari kita saksikan saja bersama.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.55