• 0

USER STORY

Fakta dan Cerita Menarik Jelang MotoGP Belanda 2018

Fakta dan Cerita Menarik Jelang MotoGP Belanda 2018


Balapan MotoGP Belanda (Dutch TT) di Sirkuit Assen Tahun 2017 (Foto: MotoGP)
Sirkuit Assen, Belanda akan kembali memanas akhir pekan ini (1/7/2018) dengan kehadiran Kejuaraan Dunia MotoGP 2018. Ketika semua mata tertuju ke Piala Dunia 2018, tetapi nampaknya untuk tahun ini masyarakat Belanda (dan juga Italia, serta Amerika Serikat) bersedia 'mengorbankan' sepak bola dan melowongkan waktunya untuk menikmati balapan MotoGP.
Ya, bukan hanya karena skuat De Oranje gagal berangkat ke Rusia tapi juga karena MotoGP Belanda (Dutch Tourist Trophy) hampir selalu menyajikan balapan seru dan banyak cerita menarik di setiap tahun penyelenggarannya. Artikel kali ini akan membahas fakta dan cerita menarik seputar balapan MotoGP di Belanda.
1. Assen Memang Tercipta Untuk MotoGP

Sirkuit Assen, Belanda Tampak Atas (Foto: MotoGP)
Dari sekian banyak negara di dunia, hanya Belanda yang tak pernah absen menggelar Kejuaraan Dunia MotoGP dari pertama kali diselenggarakan tahun 1949. Hal yang luar biasa lagi adalah bahwa semua balapan bersejarah tersebut diselenggarakan di Sirkuit Assen.
Ketika negara-negara lain kerap bergonta-ganti sirkuit, Belanda tetap setia dengan sirkuit yang dijuluki "Katedral-nya Balap Motor" ini. Balapan di tahun 2018 akan menjadi gelaran Kejuaraan Dunia MotoGP yang ke-70. Tadinya, sirkuit ini bersifat sirkuit jalanan, tetapi sejak tahun 1992 diubah menjadi sirkuit permanen.
2. Dari Balapan Hari Sabtu ke Balapan Hari Minggu
Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1949, balapan MotoGP di Belanda selalu diselenggarakan pada hari Sabtu. Padahal, balapan di sirkuit dan negara lain selalu dihelat pada hari Minggu, sedangkan Sabtu untuk sesi kualifikasi dan Jumat untuk latihan bebas.
Alasan balapan di hari Sabtu, sebenarnya, adalah untuk melanjutkan tradisi. Sebelum ada Kejuaraan Dunia MotoGP, pada tahun 1925, Dutch TT sudah ada. Dihelat di suatu desa bernama Rolde, hanya berjarak 7 km dari Assen. Pada saat itu, konsep sirkuitnya adalah sirkuit jalanan, jalan umum dan di dekat titik finis/start-nya ada gereja. Pemerintah kota tidak mau aktivitas beribadah masyarakat terganggu karena adanya balapan di jalanan, sehingga akses ke gereja menjadi sulit.
Sekiranya itulah yang pernah diceritakan oleh Egbert Braakman, yang pernah menjabat Sekretaris Lomba di Assen pada periode tahun 1970 hingga 2006. Namun, kenapa setelah di era modern tradisi ini masih berlangsung adalah ya karena sekadar menghormati tradisi saja. Braakman juga menceritakan keuntungan lain dari balapan di hari Sabtu, utamanya untuk para penonton turis.
"Pada 1970-an dan 1980-an, kami memiliki banyak penonton dari Skandinavia dan bagian utara Jerman," kenang Braakman.
"Pada saat itu kami juga memiliki apa yang disebut 'Speed Week', dimulai dengan Kejuaraan Eropa pada hari Senin dan Selasa, (lalu) diikuti oleh Grand Prix (Dutch TT) untuk sisa minggu. Banyak penonton akan tinggal di sini (Belanda) selama seminggu, di tempat perkemahan dan lain sebagainya. Kebanyakan tiba pada hari Minggu dan akan tinggal selama seminggu penuh. Mereka kemudian akan kembali ke rumah pada hari Minggu berikutnya, memungkinkan mereka sehari penuh untuk bepergian agar dapat kembali bekerja pada Senin pagi!"

Balapan Pertama Kalinya di Hari Minggu adalah Wet Race (Foto: MotoGP)
Pada tahun 2016, untuk pertama kalinya hari balapan Dutch TT diadakan di hari Minggu. Salah satu pertimbangannya, yaitu jumlah kehadiran penonton dan turis, serta keuntungan di balik itu semua. Well, zaman terus berubah.
"Dengan perubahan (hari balapan) menjadi hari Minggu mulai tahun 2016, diharapkan jumlah penonton yang lebih besar akan (hadir) mengunjungi trek. Dalam pola rekreasi Belanda saat ini, acara olahraga terbaik pada hari Minggu lebih menarik daripada pada hari Sabtu. Pada hari Minggu juga ada lebih banyak paparan media untuk acara olahraga top ini (Kejuaraan Dunia MotoGP), yang merupakan sesuatu yang Assen TT pasti akan diuntungkan. Ini juga telah terbukti meningkatkan jumlah pengunjung," sekiranya begitulah yang tertulis di situs resmi MotoGP (25/6/2015).
"Dengan peningkatan jumlah pengunjung, Dewan mengharapkan omset TT meningkat sebesar 5-10% dalam jangka menengah hingga jangka panjang. Pendapatan tambahan ini akan digunakan untuk terus menutup biaya operasional yang meningkat dari gelaran dan untuk mengamankan lisensi dalam jangka panjang, dan untuk dapat menjamin penutup keuangan untuk investasi baru di fasilitas publik".
3. Hanya Ada 4 Pebalap Tuan Rumah yang Pernah Merasakan Podium Pertama

Bo Bendsneyder (Foto: MotoGP)
Miris bahwa negara yang selalu ada untuk MotoGP ternyata tidak memiliki pebalap kelas wahid untuk senantiasa menunjukkan dominasi di kandang sendiri. Suatu hal langka dapat melihat pebalap asal Negeri Kincir Angin dapat berjaya di lintasannya sendiri, bahkan berjaya di aspal negeri lain juga tak kalah sulit.
Pebalap tuan rumah pertama yang pernah merasakan podium pertama di Kejuaraan Dunia MotoGP adalah Paul Lodewijx pada tahun 1968 untuk kelas 50 cc dengan motor Jamathi. Ia memulai debutnya di MotoGP pada tahun 1967, di Assen dengan finis di posisi ke-6. Balapan terakhirnya adalah podium pertama di Yugoslavia, kelas 50 cc tahun 1969, setelah sebelumnya juga merasakan podium pertama di Brno dan Imola pada tahun dan kelas yang sama.
Yang kedua ada nama Wil Hartog, yang menjuarai Dutch TT tahun 1977 kelas 500 cc dengan Motor Suzuki. Hartog mengungguli legenda Inggris dan Suzuki, Barry Sheene dan Pat Hennen asal Amerika Serikat. Itu adalah kemenangan MotoGP pertama sepanjang karirnya. Kemenangan lain ia rasakan di Belgia dan Finlandia setahun kemudian, lalu di Jerman tahun 1979, serta terakhir di Finlandia tahun 1980. Prestasi terbaik lainnya di negeri sendiri adalah 2 kali merasakan podium ketiga (1976 dan 1979).
Nama ketiga adalah Jack Middelburg, yang menjuarai Dutch TT kelas 500 cc dengan motor Yamaha tahun 1980. Seperti halnya Lodewijx dan Hartog, itu adalah kemenangan pertamanya sepanjang karir di MotoGP, sedangkan yang kedua dan terakhir adalah di Silverstone, Inggris setahun kemudian. Pada balapan di Assen tahun 1980, ia sangat dominan, terbukti dengan raihan pole position yang ia dapat dan berjarak waktu sekitar 14,000 detik di depan Graziano Rossi, yang akhirnya finis kedua pada balapan tersebut.
Terakhir, ada Hans Spaan, yang boleh dibilang sebagai pebalap Belanda paling sukses di Kejuaraan MotoGP. Dengan motor Honda-nya, ia pernah dua kali, nyari juara dunia kelas 125 cc (1989 dan 1990). Di klasemen akhir pebalap kelas 125 cc tahun 1989, ia dikalahkan Alex Criville, hanya beda 14 poin saja, sedangkan setahun kemudian, langkahnya terganjal kehebatan Loris Capirossi 9 poin lebih banyak dari dirinya.
Hans Spaan hanya pernah meraih sekali saja podium pertama Dutch TT, yaitu pada tahun 1989. Seperti tiga pendahulunya, itu merupakan kemenangan pertama sepanjang karirnya di MotoGP. Hans Spaan pensiun tahun 1994, dan kemenangan terakhirnya di kelas 125 cc MotoGP adalah di Brno tahun 1990.
Hanya ada satu pebalap yang, secara reguler, mewakili Belanda tahun ini, ia adalah Bo Bendsneyder, juara Red Bull MotoGP Rookies Cup tahun 2015. Ia menjajal kelas Moto2 sejak tahun 2017, setelah pada tahun debutnya, 2016, ia berkompetisi di kelas Moto3. Tahun lalu, ia gagal finis di Assen, sedangkan tahun 2016 ia sukses meraih posisi ke-9. Bagaimana di tahun 2018? Kita nantikan saja.
4. Drama di Tahun 1975 dan 2017
Balapan Dutch TT kelas 500 cc tahun 1975 adalah satu-satunya balapan di mana dua pebalap terdepan yang menyentuh garis finis memiliki catatan waktu balapan yang hampir sama. Barry Sheene dan Giacomo Agostini finis begitu dekat, sehingga pencatat waktu pada saat itu harus menggunakan penghitungan waktu manual yang akurat hingga 0,1 detik. Pada akhir keputusan, Sheene dinyatakan berhak atas podium pertama, Agostini kedua. Namun, tetap saja yang juara dunia kelas 500 cc adalah Agostini.

Detik-detik Menegangkan Itu.... (Foto: MotoGP)
Pada tahun 2017, persaingan ketat terjadi antara Danillo Petrucci dan Valentino Rossi. Pada duel yang dimenangkan The Doctor -julukan Rossi- itu, ia hanya unggul 0,063 detik dari Petrucci. Itu menjadi balapan dengan jarak waktu finis terpendek ke-6 dalam sejarah MotoGP di era modern.
5. Yamaha Paling Sukses, Honda Paling Variatif, Ducati Hanya Sekali

Selebrasi Kemenangan Valentino Rossi Tahun 2017 (Foto: MotoGP)
Sejak era empat tak (four-strokes), Yamaha menjadi pabrikan yang paling sering memenangkan balapan dengan 9 kemenangan (podium pertama). Sebanyak 7 kemenangan di antaranya disumbangkan oleh Valentino Rossi (2004, 2005, 2007, 2009, 2013, 2015, 2017), sedangkan 1 kemenangan lainnya, masing-masing dari Jorge Lorenzo (2010) dan Ben Spies (2011).
Honda baru sanggup meraih 6 kemenangan hingga 2017. Namun, uniknya adalah 6 kemenangan itu diraih oleh 6 pebalap berbeda, yaitu Valentino Rossi (2002), Sete Gibernau (2003), Nicky Hayden (2006), Casey Stoner (2012), Marc Marquez (2014), dan Jack Miller (2016).
Satu-satunya kemenangan podium pertama Ducati adalah diberikan oleh Casey Stoner pada tahun 2008. Selebihnya, hanya 2 kali podium kedua, masing-masing oleh Andrea Dovizioso (2014) dan Danilo Petrucci (2017), serta 1 kali podium ketiga dari Scott Redding (2016).
6. Rekor Agostini Belum Terpecahkan

Giacomo Agostini, Sirkuit Assen, Tahun 2010 (Foto: MotoGP)
Giacomo Agostini menjadi pebalap tersukses Dutch TT dengan perolehan 14 kemenangan, dengan rincian 8 kemenangan di kelas 350 cc (1968-1974 dan 1976) dan 6 kemenangan di kelas 500 cc (1968-1972 dan 1974). Valentino Rossi sendiri menjadi pebalap masih aktif yang paling sering memenangkan balapan di Sirkuit Assen dengan total raihan 10 kemenangan, dengan rincian 8 kemenangan di kelas utama MotoGP (2002, 2004, 2005, 2007, 2009, 2013, 2015, 2017) dan masing-masing 1 kemenangan di kelas 125 cc (1997) dan 250 cc (1998).


SportsMotor SportMotoGPBelandaInternasional

presentation
500

Baca Lainnya