Pencarian populer

Kegemilangan Karier Rick Barry, Sang Master Free Throw NBA

Rick Barry. Foto: NBA.

Seorang pebasket berambut merah berdiri menengadah di hadapan ring basket. Ia hendak melakukan lemparan free throw. Namun, ada hal yang terlihat janggal.

Pemain nomor 10 dari tim basket Shohoku itu melakukan 'kuda-kuda' yang tak biasa. Biasanya, saat hendak melakukan free throw, seorang pemain akan mengangkat bola dengan tangannya hingga ke atas kepala dan sedikit menekuk lututnya. Namun, tidak bagi pebasket amatir bernama Hanamichi Sakuragi itu.

Ia menekuk lututnya, pandangan terfokus pada ring, tetapi ia memosisikan bola yang ia pegang dengan kedua tangannya di antara dua lututnya yang agak mengangkang. Sebagian orang, pemain hingga penonton keheranan, tak sedikit yang meledeknya aneh atau gila hingga menertawakannya.

Singkat cerita, lalu ia lemparkan bola itu. Mengayun dari bawah ke atas dan... masuk! Tak biasa, unorthodox, tetapi sungguh efektif. Orang-orang boleh saja menertawainya, tetapi orang-orang yang paham betul seluk beluk olahraga basket pasti tahu bahwa itu adalah gaya khas legenda National Basketball Association (NBA) Amerika Serikat, Rick Barry.

***

Karakter Slam Dunk, Hanamichi Sakuragi. Foto: Wikimedia Commons

Cerita di atas adalah cuplikan adegan dari komik dan anime Jepang, Slam Dunk, yang pernah begitu populer di Indonesia pada tahun 2000-an. Hanamichi, yang pada dasarnya tak tahu banyak tentang basket, melakukan gaya lemparan itu berdasarkan intuisinya sendiri.

Terlihat aneh memang, tetapi faktanya, pebasket yang memopulerkan gaya lemparan itu pada tahun 70-an adalah salah satu pebasket legendaris dalam sejarah NBA. Dia adalah Richard Francis Dennis Barry III atau yang lebih dikenal dengan nama Rick Barry.

Pria kelahiran Elizabeth, New Jersey, itu tercatat sebagai satu-satunya pebasket yang pernah mencatatkan poin terbanyak dalam tiga ajang berbeda pada setiap musim berbeda dalam sejarah basket Amerika Serikat. Berikut rinciannya:

  • Pencetak poin terbanyak National Collegiate Athletic Association (NCAA) musim 1964/1965 (total 973 poin; rata-rata 37,4 poin per laga)

  • Pencetak poin terbanyak NBA musim 1966/1967 (total 2.775 poin; rata-rata 35,6 poin per laga)

  • Pencetak poin terbanyak American Basketball Association (ABA) musim 1968/1969 (total 1.190 poin; rata-rata 34,0 poin per laga)

Dari NCAA ke NBA

Rick Barry (no. 24) kala memperkuat tim basket kampusnya. Foto: Hurricane Sports.

Sebagaimana kebanyakan pebasket asal Negeri Paman Sam lainnya, Barry memang memulai kariernya dari kompetisi amatir NCAA. Saat itu, usai lulus dari Roselle Park High School di New Jersey, pria kelahiran 28 Maret 1944 itu berkuliah di University of Miami dan memperkuat tim basketnya, Hurricanes, bahkan menjadi bintangnya.

Usai mencatatkan perolehan poin terbanyak pada musim 1964/1965, tim profesional asal California, San Francisco Warriors, merekrutnya lewat NBA Draft tahun 1965. Tak butuh waktu lama bagi Barry untuk menggila. Si 'Miami Greyhound'--julukan untuk Barry dari penyiar legendaris San Francisco, Bill King--sukses memenangkan gelar NBA Rookie of the Year Award dengan catatan rata-rata 25,7 poin and 10,6 rebound per laga.

Potret Rick Barry dalam balutan jersi tim basket kampusnya. Foto: Hurricane Sports.

Pada musim berikutnya, ya itu tadi, dia berhasil menjadi pencetak poin terbanyak di NBA. Tapi, kali ini ia tidak hebat sendirian. Ia berhasil membantu San Francisco Warriors menjuarai Divisi Barat dan runner up pada laga final NBA, usai dikalahkan Philadelphia 76ers. Namun, dirinya tetap masuk dalam daftar All-NBA First Team.

Menunjukkan Kebolehan di Kejuaraan ABA

Rick Barry dalam ABA All Star Game 1969 di Louisville, Kentucky. Foto: Wikimedia Commons

Semusim berselang, ia tinggalkan NBA untuk sejenak. Dengan alasan besaran gaji, ia bergabung dengan Oakland Oaks (California) dan menjadi pebasket pertama yang pindah dari NBA ke ABA, tepatnya pada musim 1967/1968.

Akan tetapi, kepindahannya itu menimbulkan kontroversi hingga kasusnya harus naik ke meja hijau. Keputusannya, Barry tidak diizinkan memperkuat Oaks yang pada musim itu dilatih oleh ayah mertuanya sendiri, Bruce Hale.

Terus? Ngapain aja Barry selama menganggur satu musim? Dikatakan bahwa Barry bekerja untuk radio yang kerap menyiarkan laporan pertandingan Oaks.

Setelah satu musim tidak turun ke lapangan, Barry akhirnya bisa memperkuat Oaks pada musim 1968/1969. Namun, Hale sudah tak lagi menjabat kursi kepelatihan, karena prestasi buruk musim sebelumnya. Meski begitu, Barry tetaplah Barry. Tak peduli di mana dan bersama siapa, ia tetap seorang pebasket andal.

Selain mencatatkan rekor yang tertulis tadi, Barry juga membantu Oaks menjuarai ABA musim 1968/1969 usai mengalahkan Indiana Pacers 4-1 di partai final. Sayangnya, meski sudah berprestasi untuk dirinya sendiri dan tim, Oaks berada pada posisi keuangan yang kurang bagus. Bahkan, rata-rata penonton yang hadir per laga Oaks musim itu hanya 2.800 per laga.

Pemilik Oaks, musisi bernama Pat Boone, akhirnya menjual timnya ke grup pengusaha asal Washington D.C., usai Bank of America mengancam akan menyita aset tim akibat beban pinjaman sebesar USD 1,2 juta. Pindah ke ibu kota, bagi Barry, bukan keputusan yang tepat.

"Jika saya ingin pergi ke Washington, saya akan mencalonkan diri sebagai presiden!" ujar Barry, dilansir Los Angeles Times.

Akibat pergantian itu, ia lantas mencoba mengontak San Francisco Warriors untuk kembali berlaga bersama mereka di NBA. Akan tetapi, langkahnya terhenti di pengadilan dan ia diperintahkan untuk menghormati kontraknya bersama tim yang sudah berubah nama menjadi Washington Caps untuk musim 1969/1970.

Polemik ini (juga karena cedera) membuat Barry melewatkan 32 pertandingan awal bersama Caps. ABA juga mendorong Barry untuk bermain di sisa pertandingan Caps.

Namun sekali lagi, Barry tetaplah Barry. Meski hanya bermain sebanyak 52 laga, ia sukses mencatatkan diri sebagai pencetak poin terbanyak ABA musim 1969/1970 dengan total 1.442 poin (rata-rata 27,7 poin per laga), dan membawa tim asuhan Al Bianchi menembus playoffs, lalu dikandaskan oleh Denver Rockets (sekarang Denver Nuggets) 3-4.

Untuk musim berikutnya, 1970/1971, tim kembali berpindah markas, kali ini ke Negara Bagian Virginia. Akan tetapi, Barry kembali tidak sreg dengan tim yang kemudian dinamakan Virginia Squires itu. Dalam cover Sports Illustrated terbitan 24 Agustus 1970, terlansir bahwa Barry bilang ia tidak akan kembali ke NBA jika ABA bersedia membayarnya USD 1 juta per tahun.

Entah bagaimana akhirnya, Barry tetap bertahan di ABA. Namun, ia enggan membela Squires. Ia juga membuat pernyataan kontroversial dengan menyindir aksen orang-orang Virginia.

"Aku tidak ingin anakku pulang ke rumah lalu mengatakan 'Howdy, y'all'," ujar Barry.

1 September 1970, ia resmi bergabung ke New York Nets (sekarang Brooklyn Nets). Dari hasil trade itu, Virginia Squires mendapat USD 200.000, dana yang lumayan untuk menutupi masalah finansial tim. Setidaknya, ia membela Nets selama dua musim.

Uniknya, di Divisi Timur, Nets yang diperkuat Barry selalu finis di bawah Squires. Musim 1971/1972, Nets finis ketiga di Divisi Timur, sementara Squires menjadi juara divisi. Lalu di playoffs, Squires menyingkirkan Nets 4-2. Namun, Barry mencatatkan 29,4 poin per laga dan tetap terpilih masuk All-ABA First Team, bersama dua bintang Squires, Roger Brown dan Charlie Scott.

Barry meraih gelar individu yang sama semusim berikutnya. Akan tetapi, Nets tetap finis di posisi ketiga Divisi Timur, sedangkan Squires finis kedua. Bedanya, di playoffs Nets sukses menyingkirkan Squires 4-3. Sayang, di partai final mereka dikandaskan oleh Indiana Pacers, 2-4, atau dalam hal ini, "Pacers 2-0 Barry".

Jika dirangkum, selama berkarier di ABA, Barry meraih prestasi dengan empat kali terpilih masuk All-ABA First Team (1969-1972), empat kali berpartisipasi dalam All Star Game (1969-1972), sekali meraih gelar juara ABA (1969), dan sekali menjadi pencetak poin terbanyak. Begitulah perjalanan singkat penuh prestasi Barry di ABA karena pada musim 1972/1973, ia kembali ke NBA bergabung dengan tim lamanya yang sudah berubah nama menjadi Golden State Warriors.

Kepindahannya itu melibatkan campur tangan pengadilan. Keputusan pengadilan memaksa Barry untuk kembali ke Warriors dan NBA untuk musim 1972/1973. Keputusan itu, tepatnya keluar pada 23 Juni 1972, Barry dilarang bermain untuk tim mana pun selain Golden State Warriors setelah kontraknya dengan Nets berakhir. Pada 6 Oktober 1972, Nets merilis Barry dan ia kembali ke Warriors.

Puncak Karier bersama Warriors

Aksi Barry bersama Warriors. Foto: NBA.

Barry menemukan puncak kariernya kala membela Golden State Warriors. Enam musim membela tim yang bermarkas di Oakland itu, ia mencapai periode stabilitas karier. Ia kembali ke sana sebagai pemain yang berbeda. Ibaratnya, dulu dia hanyalah wonderkid, lalu ia pergi dan kembali sebagai Superman.

Ada sedikit perbedaan gaya bermain Barry saat memperkuat Warriors. Selain menembak dari arah depan, ia juga kerap melakukan tembakan dari samping dan tak segan menjadi distributor bola.

Pada musim 1972/1973, ia mencetak 22,3 poin per laga dan ditetapkan sebagai pencetak free throw tersukses keenam. Barry terpilih masuk All NBA Second Team 1973. Ia pun turut berpartisipasi dalam laga All Star NBA 1973--hingga 1978.

Barry meningkatkan rata-rata perolehan poinnya menjadi 25,1 poin per laga pada musim 1973/1974. 26 Maret 1974, jadi hari bersejarah bagi Barry. Menghadapi Portland Trail Blazers di Oracle Arena, kandang Warriors, Barry mencatatkan poin tertinggi yang pernah ia cetak dalam satu pertandingan sepanjang kariernya. Total 64 poin (19 di babak pertama; 45 di babak kedua) ia rengkuh untuk membawa tuan rumah menundukkan tamunya, 143-120.

Selain rajin mencetak poin, sosok Barry yang sudah berevolusi jadi Superman itu juga handal dalam mengoper. Buktinya, ia mampu mencatatkan diri di 10 besar pencetak asis terbanyak di NBA dengan 6,1 asis per laga. Tak pelak, ia terpilih masuk All NBA First Team 1974--prestasi yang ia pertahankan hingga 1976.

Puncaknya, musim 1974/1975, akhirnya ia sukses membawa Warriors berprestasi. Barry memimpin Warriors merengkuh gelar juara Divisi Pasifik, Konferensi Barat, dan memenangkan final NBA. Ia memiliki rata-rata perolehan poin sebanyak 30,6 poin per laga (terbanyak kedua setelah pebasket Buffalo Braves, Bob McAdoo).

Ia juga memimpin persentase free throw terbanyak (0,904 atau 90,4%) dan mencatat steal terbanyak dengan rata-rata 2,85 steal per laga. Untuk urusan asis, ia pemberi asis terbanyak keenam pada musim itu dengan rata-rata 6,2 asis per pertandingan, satu-satunya forward yang masuk 10 besar.

Rick Barry adalah pemain dengan atribut lengkap. Foto: NBA.

Di Final NBA 1975, Warriors mengejutkan publik dengan menyapu telak pertandingan melawan Washington Bullets, 4-0. Uniknya, laga kandang Warriors tidak dihelat di Oracle Arena. Oleh karena tidak ada yang mengira Warriors bisa masuk final, bahkan playoff, akhirnya arena yang biasa jadi kandang mereka dipesan untuk acara lain. Akibatnya, mereka harus pindah markas sementara ke Cow Palace di San Francisco.

Musim berikutnya, ia hanya mampu membawa Warriors menjuarai Divisi Pasifik dan Konferensi Barat. Di final NBA, mereka kalah 3-4 dari Phoenix Suns. Barry membela Warriors hingga musim 1977/1978, lalu pindah ke Houston Rockets.

Jadi 'Raja' Asis, 'Raja' Free Throw, lalu Pensiun

Gaya free throw-nya ini kerap disebut juga Granny's style. Foto: NBA.

Senja kala karier Barry semakin dekat. Meski begitu, pada musim perdananya bersama Rockets, ia tetap bisa mengejutkan publik dengan mencatatkan total 502 asis sepanjang musim (6,3 asis per laga). Tidak banyak pemain yang bisa mencatatkan asis sebanyak itu pada era NBA 70-an. Ia menjadi pionir seorang small forward yang andal mendistribusikan bola.

Usia tak bisa bohong, Barry mulai kehilangan produktivitasnya mencetak poin. Raihan asisnya itu juga akibat pelatih Rockets, Tom Nissalke, lebih mengedepankan Moses Malone, Calvin Murphy, dan Rudy Tomjanovich untuk mencetak poin. Meski begitu, untuk catatan kesuksesan free throw, ia tetap menjadi rajanya.

Barry menjadi pebasket tersukses untuk urusan lemparan free throw dalam dua musim terakhirnya, masing-masing dengan persentase keberhasilan 0,947 pada musim 1978/1979 dan 0,935 musim pada 1979/1980. Total, sepanjang berkarier di NBA, ia tujuh kali menjadi pebasket dengan catatan free throw tersukses per musimnya.

Rick Barry saat membela Rockets. Foto: Getty Images/Dick Raphael.

Barry pensiun setelah musim 1979-80. Selama 14 musim menjalani karier basket profesional (10 di NBA, 4 di ABA), ia telah bermain di lebih dari 1.000 pertandingan, dan tidak pernah melewatkan lebih dari empat pertandingan NBA berturut-turut sampai tahun terakhirnya. Rata-rata Barry mencetak 23,2 poin per laga di NBA dan 30,5 poin per laga selama empat musim di ABA. Skor gabungannya mencapai 25.279 poin, yang menempatkannya di antara pencetak poin terbanyak dalam sejarah bola basket profesional.

Pada tahun 1987, bersama dengan Frazier Walt "Clyde", Bob Houbregs, Bobby Wanzer, dan Pete Maravich, nama Barry dicatatkan masuk ke dalam Naismith Memorial Basketball Hall of Fame.

Seorang yang Perfeksionis dan Kritikus

Rick Barry dan trofi NBA. Foto: NBA

Selama menjadi pemain, Barry dikenal sebagai seorang yang perfeksionis dan blak-blakan. Beberapa kutipan di atas adalah bukti bahwa ia tidak begitu andal menjaga lidahnya.

Barry juga dikenal sebagai kritikus yang keras dan menjadikan banyak pihak, mulai dari rekan satu tim, lawan, wasit, pelatih, hingga pengamat, sebagai objek kemarahannya. Tak heran, mereka yang menjadi sasaran kritik tumpul Barry merasa dongkol.

Alkisah, di era 80-an, ada pemain Detroit Pistons bernama Bill Laimbeer. Ia adalah pemain yang suka bermain kasar, sering mengeluh kepada wasit, sehingga kerap dicemooh oleh penggemarnya.

Namun, kegarangan Bill, setidaknya sebagian dari ulahnya, adalah suatu tindakan yang memang bisa muncul dalam suatu laga. Berbeda dengan Barry, yang bisa saja melakukan semua hal yang sama dengan Bill, tetapi bagi Barry itu bukan teater, melainkan tindakan alamiah dari hasrat dan keinginannya untuk sukses.

Rekan setim Clifford Ray secara diplomatis mengatakan kepada Sports Illustrated, "Rick mungkin bukan tipe pria yang bisa dikatakan tolong, tapi dia di dalamnya untuk menang."

Tapi sekali lagi, Barry tetaplah Barry. Ia mewarnai basket Amerika Serikat dengan caranya sendiri. No. 24 yang ia kenakan di Warriors, kini dipensiunkan. Namanya pun abadi dalam daftar 50 Greatest Players in NBA History.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22