Pencarian populer

Lima Tahun Telah Berlalu Sejak Kemenangan Terakhir Fernando Alonso di F1

Kemenangan Terakhir Fernando Alonso (Foto: Sutton Motorsport Images)

Fernando Alonso, juara dunia dua kali Formula One (F1), adalah salah satu pebalap yang paling diidolakan banyak orang. Pada tahun 2018 ini, ia mengejutkan banyak orang dengan memutuskan untuk terjun di ajang FIA World Endurance Championship (WEC). Tidak tanggung-tanggung karena Alonso tidak hanya turun di satu atau dua seri saja, melainkan semua seri balap WEC di tahun 2018 ini akan ia lahap.

Debutnya di WEC pada seri 6 Hours of Spa-Francorchamps di Belgia berjalan sukses. Bersama dua rekan balapnya, Sebastian Buemi (Swiss) dan Kazuki Nakajima (Jepang), sang juara dunia F1 tahun 2005 dan 2006 itu sukses merengkuh podium pertama. Alonso dan rekan-rekannya sukses mengungguli pasangan setim mereka, yang sama-sama berada dalam tim Toyota Gazoo Racing, yaitu Kamui Kobayashi (Jepang), Mike Conway (Inggris), dan Jose Maria Lopez (Argentina) yang harus puas finish di urutan ke-2.

Fernando Alonso (tengah) berjaya di WEC (Foto: Snaplap)

Tentunya, bagi para penggemar, melihat Alonso naik podium teratas lagi adalah suatu hal yang dirindukan. Maklum, pebalap kelahiran 29 Juli 1981 ini terakhir kali merasakan finish urutan pertama di ajang F1 adalah 5 tahun yang lalu bersama tim Scuderia Ferrari, tepatnya pada Grand Prix (GP) Spanyol di Circuit de Catalunya, 12 Mei 2013. Ia sukses mengungguli pebalap Lotus-Renault, Kimi Raikkonen dan rekan setimnya, Felipe Massa, masing-masing di urutan ke-2 dan ke-3 pada balapan yang berlangsung 66 putaran tersebut.

Setelah itu, El Nano -julukan Alonso- selalu gagal meraih podium pertama. Pencapaian terbaiknya setelah kemenangan tersebut adalah podium kedua di GP Hungaria 2014 yang berlangsung sepanjang 70 putaran, masih bersama Scuderia Ferrari. Ia kalah cepat dari pebalap Red Bull Racing-Renault, Daniel Ricciardo, tetapi sukses mengunggul duo Mercedes, Lewis Hamilton dan Nico Rosberg, yang masing-masing finish di urutan ke-3 dan ke-4.

Pasca kepindahannya ke McLaren yang bermesinkan Honda, prestasinya semakin memburuk. Jika sebelumnya ia kerap memanaskan persaingan meraih podium atau 5 besar, bersama McLaren Honda, rasanya mampu finish 10 besar saja sudah merupakan prestasi yang 'bagus'. Bahkan, ia kerap kali gagal finish.

Fernando Alonso dengan mobil McLaren Honda (Foto: Sutton Motorsport Images)

Tahun debutnya bersama McLaren Honda adalah yang terburuk karena ia hanya sanggup meraih 11 poin dari total 18 dari 19 balapan yang ia jalani pada tahun 2015. Dan pada dua tahun berikutnya, ia sama sekali tidak merasakan adanya perkembangan yang signifikan terhadap mobilnya.

"Mesinnya terasa bagus, lebih lambat dari sebelumnya. Luar biasa," ucapnya pada sesi latihan bebas kedua di GP Spanyol tahun 2017 lewat radio tim.

Sekarang, di tahun 2018 ini, McLaren F1 Team beralih ke mesin Renault, di mana Alonso punya kenangan manis dengan mesin Renault karena dengan mesin itulah ia mampu keluar sebagai juara dunia F1 dua kali bersama Mild Seven Renault F1 Team. Hingga seri balap ke-4, perjalanan Alonso bersama McLaren yang bermesinkan Honda berjalan cukup baik, bahkan lebih baik dari 3 musim awal bersama Honda. Di Australia ia finish ke-5, lalu berturut-turut ia finish ke-7 di Bahrain, Tiongkok, dan Azerbaijan.

Fernando Alonso, McLaren MCL33 (Foto: Mark Sutton/Motorsport)

Ditambah lagi, direktur balap McLaren, Eric Boullier, mengatakan bahwa mobil McLaren MCL33 'yang sebenarnya' baru akan unjuk gigi di GP Spanyol 2018. Ya, sudah menjadi tradisi, di mana hampir setiap tahunnya, semua tim F1 akan melakukan upgrade mobil jelang GP Spanyol (seri ke-5), dan Alonso berharap banyak ia akan menemukan setting-an McLaren terbaiknya pada GP Spanyol mendatang (13/05/2018).

Jika hasil upgrade benar-benar tercapai sesuai ekspektasi, maka bukan tidak mungkin, kita akan melihat Alonso kembali berada di puncak tertinggi podium pada seri balap F1. Ya, dunia sudah banyak berubah sejak kemenangan terakhirnya. Apa saja yang telah kita lewatkan?

Get Lucky

Masih ingat dengan lagu "Get Lucky" dari duo Daft Punk? Beruntung jika Anda masih mengingatnya. Itu adalah lagu yang sukses berada pada posisi pertama tangga musik di lebih dari 32 negara, dan terjual lebih dari 9,3 juta kopi yang kemudian menjadikan lagu tersebut sebagai salah satu lagu best-selling sepanjang masa. Lagu tersebut sukses memuncaki tangga musik Britania Raya (UK music charts) pada pekan yang sama kala Fernando Alonso memastikan kemenangan di GP Spanyol 2013.

Berikut ini adalah penggalan liriknya:

Like the legend of the phoenix

All ends with beginnings

What keeps the planet spinning (uh)

The force of love beginning

Fernando Alonso sudah layak dicap sebagai legenda, bahkan sebelum kemenangan terakhirnya. Orang bisa mengatakan bahwa kemenangan terakhir Alonso adalah awal dari fase baru sang legenda. Fase di mana dia, Fernando Alonso, menjadi pebalap yang tadinya sangat disegani di lintasan berubah menjadi pebalap yang amat kesulitan bersaing dengan para pebalap papan atas.

Itulah hidup, layaknya planet-planet yang terus berputar, tak terkecuali di F1. Alonso datang pertama kali ke F1 bergabung European Minardi F1 Team pada tahun 2001, dan tentunya, ia masih menjadi pebalap yang tidak diperhitungkan. Butuh perjuangan untuk membuktikan kepada dunia bahwa dia adalah hebat. Dua tahun berselang ia menjadi lebih kuat, hingga puncaknya pada tahun 2005 dan 2006 ia menghentikan hegemoni juara beruntun 7 kali F1, Michael Schumacher.

Kini, ia harus kembali layaknya di awal karir, yaitu memberikan pembuktian. Kali ini, Alonso harus membuktikan kepada dunia dan penggemar bahwa dia belum habis di F1 dan dunia balap. Ia masih berhasrat untuk dapat bersinar kembali seperti dulu. Alonso adalah orang yang penuh ambisi dalam dunia balap, khususnya F1, dan ia mencintai profesinya. Dengan kerja keras dan optimisme, ia akan berusaha agar keberuntungan berada di pihaknya lagi.

Unstoppable Momentum

Pada bulan yang sama, hanya selang 5 hari sebelum kemenangan terakhir Alonso, seorang gitaris ternama Amerika Serikat, Joe Satriani, merilis album studio ke-14-nya yang bertajuk "Unstoppable Momentum". Album dari gitaris berkepala plontos ini sukses mencapai urutan nomor 42 di tangga US Billboard 200, dan sukses menduduki tangga teratas Billboard untuk kategori US Top Hard Rock Albums.

Dalam situs Songfacts dikatakan bahwa Unstoppable Momentum adalah album yang mewakili pola pikir dari Joe Satriani sendiri. "Ini adalah makna dari rekamannya: saya ingin hidup dalam sebuah kehidupan artistik, tidak peduli," kata Satriani. "Akan ada cobaan, tetapi saya akan bertahan".

Jika mungkin yang dimaksud dengan kehidupan artistik Satriani adalah musik, maka kita dapat mencoba mengganti kata "kehidupan artistik" dengan kata "dunia balapan" untuk mengaitkannya dengan Fernando Alonso. Kita sudah melihat bagaimana nasib buruk bak cobaan hidup yang dirasakan Alonso bersama McLaren Honda. Ia yang tadinya jawara berubah menjadi kepayahan.

Namun, ia tetap bertahan. Belum mau melontarkan kata sakral yang menjadi akhir dari segala perjalanan, yaitu "pensiun". Ia masih mau menang. Ia masih suka tantangan.

"Saya (tetap) mempertahankan motivasi karena saya kompetitif. Saya suka (love) balapan, saya suka (love) menang. Saya melakukan balapan yang lebih baik di lima tahun terakhir daripada yang saya lakukan sebelumnya, walaupun jika saya tidak memenangkan perlombaan," kata Alonso dilansir dari situs resmi F1, 10 Mei 2018, ketika ditanya bagaimana dia mempertahankan rasa laparnya di F1 meski tidak menang dalam setengah dekade.

Kembali ke album Joe Satriani. Pada sebuah hasil wawancara yang dipublikasikan pada situs Muse on Muse Jepang, Satriani membeberkan makna-makna di balik setiap lagu yang terdapat pada album Unstoppable Momentum. Beberapa lagu di antaranya memiliki makna yang dapat dikaitkan dengan seorang Fernando Alonso.

Lagu Unstoppable Momentum: "Keinginan saya yang terus berkembang untuk menciptakan musik baru". Fernando Alonso pastinya ingin terus berkembang di dunia balap. Bahkan, ia berani mencoba hal baru, yaitu berkompetisi di ajang WEC, di tengah-tengah padatnya jadwal F1. Atau kita dapat mengganti frase "menciptakan musik baru" dengan "menjadi pebalap profesional".

Lagu Can't Go Back: "Saat Anda tumbuh kepada (fase) dewasa muda dan menyadari bahwa Anda tidak pernah dapat kembali ke rumah masa muda (remaja/anak-anak) Anda". Fernando Alonso, selaku pebalap profesional pasti kurang lebih sama dengan pebalap lain atau atlet-atlet profesional lain di bidang mereka masing-masing. Mereka yang mencintai bidangnya dan ingin sukses tahu bahwa 'menengok ke belakang' adalah haram hukumnya. Masa lalu hanya menjadi kenangan dan pelajaran, sedangkan realita adalah apa yang ada di depan mata, dan realita itulah yang mesti dijalani, dan kadang mesti ditaklukkan.

Lagu The Weight Of The World: "Terkadang tekanan dunia menekan kita semua. Lagu ini adalah tentang mencoba membawa beban itu". Seperti yang sudah diceritakan di atas, ini tentang pembuktian di awal dan pertengahan karir Alonso sekarang.

Lagu A Celebration: "Melodi murni untuk emosi murni. Lagu ini seharusnya membuat Anda merasa baik dan ingin merayakan hidup". Ya, silahkan lihat lagi ekspresi bahagia Alonso di setiap kemenangan seri dan perayaan gelar juaranya. Kurang lebih, mungkin begitu maksud Satriani.

Selebrasi juara Alonso pada tahun 2005 (Foto: Sutton Images)

Petaka yang Menjadi Awal Kejayaan Daniil Kvyat

Daniil Kvyat, pebalap asal Rusia yang kelak akan mengemudikan Scuderia Toro Rosso di ajang F1, mengawali debutnya ada ajang GP3 di Circuit de Catalunya dengan buruk. Pada balapan pertama yang berlangsung 11 Mei 2013, ia hanya finish di urutan ke-20. Pada balapan kedua, di tanggal yang sama dengan kemenangan terakhir Fernando Alonso, ia gagal finish. Namun, siapa sangka bahwa kegagalannya itu merupakan awal dari kejayaannya karena pada akhir musim GP3 2013, Kvyat lah yang keluar sebagai juara umum. Penampilan impresif yang ia tunjukkan pada seri demi seri pasca kegagalan di GP Spanyol tersebut membuat ia benar-benar direkrut oleh tim F1 Scuderia Toro Rosso pada musim berikutnya, setelah pada tahun sebelumnya hanya menjadi pebalap tes.

Era Baru Manchester United

Di tanggal yang sama dengan kemenangan terakhir Fernando Alonso, Manchester United (MU) menaklukkan Swansea City 2-1 di Old Trafford. Ini merupakan gelar terakhir MU di tangan Sir Alex Ferguson karena memang itu merupakan musim terakhirnya menangangi Setan Merah dengan trofi juara liga ke-20 yang ia persembahkan. Paul Scholes, gelandang tengah legendaris mereka juga menyatakan pensiun (benar-benar pensiun).

Publik 'teater mimpi' kemudian merajut asa baru bersama David Moyes. Hasilnya? Ya, kurang lebih sama seperti Alonso. Masih harus terus berjuang kembali seperti dulu. Bahkan, hingga di tangan Louis Van Gaal, keadaan belum juga membaik. Namun setidaknya, ketika sekarang ditangani Jose Mourinho, keadaan sudah agak mendingan, walau MU tetap dinilai belum segarang era Sir Alex.

Sama seperti halnya Alonso yang gagal dengan mesin Honda. Dengan mesin Renault, ia mencoba kembali kompetitif menjadi pebalap papan atas seperti dulu. Ia tentu masih berharap dapat menang lagi, finish pertama lagi, langganan podium lagi seperti dulu. Seperti bagaimana para penggemar memimpikan MU yang sudah sedari lama mereka puja dapat kembali seperti era keemasan bersama Sir Alex Ferguson.

Kemenangan Terakhir Barisan Nasional

Dalam sejarah pemilu di Malaysia, Barisan Nasional (BN) tidak pernah kalah dalam pemilu. Begitu pula di tahun 2013, di mana Barisan Nasional memenangkan mayoritas kursi parlemen, yaitu 133 dari 222 kursi. Sementara itu, saingan mereka Pakatan Rakyat (PR) hanya mendapat 89 kursi. Hasil ini melenggangkan Najib Razak menjadi Perdana Menteri terpilih Malaysia mengalahkan Anwar Ibrahim.

Kepastian tersebut didapat pada bulan Mei tahun 2013, atau tepatnya hanya seminggu sebelum kemenangan terakhir Alonso. Siapa sangka bahwa itu juga merupakan kemenangan terakhir BN karena pada pemilu tahun 2018, mereka harus mengakui kemenangan PR, di mana mereka merebut 113 dari 222 kursi di parlemen. Mahathir Mohamad menjadi perdana menteri tertua di dunia pada usianya yang ke-92 tahun. Di PR, ia berkoalisi dengan mantan rivalnya, Anwar Ibrahim

Sudah banyak hal yang terjadi sejak kemenangan terakhir Fernando Alonso di F1. Kini, publik masih terus menunggu kapan Fernando Alonso akan kembali ke podium tertinggi. Ketika tiba saatnya nanti, mungkin ada baiknya kita kembali melihat dan mencermati bagaimana kondisi dunia karena pastinya banyak hal menarik yang terjadi. Semenarik kemenangan Fernando Alonso jika itu kembali terjadi.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23