kumparan
9 September 2018 6:07

Menengok Kegemilangan Prestasi Trio Atlet PB Djarum dari Masa ke Masa

Asian Games 2018 telah berakhir dan Indonesia kembali menorehkan prestasi di cabang olahraga bulu tangkis. Para atlet peraih medali diberikan bonus oleh pemerintah atas prestasinya tersebut. Namun, untuk atlet-atlet binaan oleh PB Djarum, mereka mendapatkan bonus tambahan senilai ratusan juta dari Bakti Olahraga Djarum Foundation.
ADVERTISEMENT
Kevin Sanjaya, Tontowi Ahmad, dan Liliyana Natsir adalah tiga atlet di antaranya, yang juga merupakan atlet-atlet PB Djarum yang sudah banyak menorehkan prestasi dari masa ke masa. Pada artikel kali ini, menarik rasanya jika kita kembali mengulas prestasi-prestasi yang pernah mereka raih dari masa ke masa karena ternyata mereka sudah mengoleksi banyak gelar sejak usia belia.
Kevin Sanjaya Sukamuljo
Pebulu tangkis kelahiran Banyuwangi yang berpasangan dengan Marcus Fernaldi Gideon di nomor ganda putra ini mendapatkan bonus setelah mempersembahkan medali emas ke-24 Indonesia setelah menaklukkan sesama ganda putra asal Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, lewat pertarungan tiga gim. Bagi pemain yang suka bertingkah kontroversial di atas lapangan ini, tentu medali emas Asian Games bukan satu-satunya prestasi yang pernah ia raih. Kevin yang kini berusia 23 tahun telah mengukir prestasi sejak usia belia.
ADVERTISEMENT
Salah satu prestasi bergengsi yang ia raih di usia belasan adalah menjadi Juara I Graha Bakti Cup se-Jawa Bali tahun 2006. Setahun kemudian, Kevin Sanjaya bergabung dengan PB Djarum, dan semenjak itu prestasinya terus meningkat. Sejak tahun 2010, pengagum sosok Taufik Hidayat ini berulang kali mendulang prestasi di beberapa turnamen Sirkuit Nasional (Sirnas). Beberapa prestasi yang ia raih pada tahun 2010 adalah Juara I Sirnas Kalimantan, Juara I Sirnas Sulawesi Utara, Juara I Sirkuit Nasional Pekanbaru Sumatra, Juara I Sirkuit Nasional Jakarta, Juara I Chandra Wijaya Men's Doubles Championship, dan lain sebagainya.
Semenjak menjuarai Chandra Wijaya Men's Doubles Championship, pebulu tangkis kelahiran 2 Agustus 1995 ini menjadi lebih sering dimainkan untuk nomor ganda putra, walau sesekali masih suka main di nomor ganda campuran. Setahun berselang, tepatnya pada tahun 2011, Kevin meraih juara di turnamen internasional, yaitu medali emas ASEAN School Games 2011. Padahal, Kevin juga turun di nomor ganda putra di turnamen yang sama, tetapi hanya meraih medali perak.
ADVERTISEMENT
Sepanjang tahun 2011 hingga awal tahun 2013, Kevin rutin mencetak prestasi di ajang Sirnas dan kompetisi dalam negeri maupun internasional lainnya. Ini membuatnya diperhitungkan masuk skuat Indonesia di ajang Asian Junior Championships 2013 untuk nomor beregu campuran dan ganda putra, di mana ia mampu melaju hingga semifinal di dua nomor tersebut. Kevin juga diikutsertakan dalam ajang World Junior Championships 2013 untuk nomor beregu campuran dan ganda campuran, dan menjadi runner up di dua nomor tersebut.
Tahun 2014, turnamen-turnamen di bawah naungan BWF mulai diikuti oleh Kevin Sanjaya. Gelar juara pertamanya adalah juara ganda putra Bulgarian International Challenge. Setahun berikutnya, karier Kevin Sanjaya terus merangkak naik, terutama setelah dipasangkan dengan Marcus Gideon. Ia dimasukkan ke dalam tim Indonesia untuk Piala Sudirman, dan mencapai semifinal, walau hanya sebagai pemain cadangan. Pada tahun yang sama, ia meraih medali SEA Games pertamanya, emas untuk kategori beregu putra dan perak untuk ganda putra.
ADVERTISEMENT
Ia juga berada tim Piala Thomas Indonesia yang menjadi runner up pada tahun 2016. Kevin semakin rajin menorehkan prestasi gemilang di turnamen-turnamen BWF, salah satu yang paling bergengsi adalah juara ganda putra All England 2017, yang kemudian mereka ulangi pada tahun 2018. Seri-seri lain, seperti Japan Open, China Open, Hong Kong Open, Indonesia Masters, Indonesia Open, India Open, Malaysia Open, hingga BWF Superseries Final juga dilibas oleh Kevin bersama Marcus.
Dan yang teranyar, tentu saja, adalah prestasi di ajang Asian Games 2018, yaitu medali emas cabang olahraga bulu tangkis ganda putra dan medali perak bulu tangkis beregu. Selain memberi kebanggaan untuk Indonesia, gelar ini semakin menegaskan bahwa mereka layak berada di peringkat teratas BWF untuk kategori ganda putra.
ADVERTISEMENT
Liliyana Natsir
Bicara soal prestasi, Liliyana Natsir sudah lebih dulu merengkuh banyak gelar bergengsi sebelum dipasangkan dengan Tontowi Ahmad. Sejak usia belia, atlet kelahiran 9 September 1985 ini sudah meraih banyak prestasi di nomor ganda campuran, seperti halnya pada tahun 2002 ketika ia menjadi juara Junior Indonesia Open 2002. Dua tahun berikutnya, ia langsung menjuarai sebuah turnamen kelas senior BWF, Singapore Open.
Salah satu prestasi paling berkesan yang Liliyana akui sepanjang kariernya adalah menjadi juara Kejuaraan Dunia (World Championship) 2005 bersama Nova Widianto. Di tahun yang sama, ia juga menjuarai Sea Games (yang ia ulangi pada tahun 2009) dan Indonesia Open. Setahun kemudian, masih bersama Nova Widianto, Liliyana menjuarai Asian Championship dan beberapa turnamen BWF.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2007, Liliyana juga berhasil kembali menjuarai World Championships. Sepanjang kariernya, Liliyana memang sering menjuarai turnamen-turnamen yang berada di bawah naungan BWF, seperti Indonesia Open, Malaysia Open, India Open, China Open, French Open, dan masih banyak lagi. Ia berpisah dengan Nova Widianto pada pertengahan tahun 2010. Untuk urusan gelar juara ganda campuran All England, atlet asal Manado ini baru pertama menjuarainya pada tahun 2012, yang kemudian ia pertahankan sampai tahun 2014 bersama Tontowi Ahmad, sosok pebulu tangkis laki-laki yang dipasangkan olehnya tak lama setelah berpisah dari Nova Widianto.
Liliyana baru bergabung dengan PB Djarum pada tahun 2014. Semenjak itu, prestasinya tetap gemilang, bahkan cenderung meningkat. Bukan hanya gelar juara All England dan turnamen-turnamen BWF yang berhasil diraihnya, tetapi juga gelar-gelar bergengsi lain, semacam Asia Badminton Championships 2015, medali emas Olimpiade 2016, BWF World Championships 2017.
ADVERTISEMENT
Gelar juara Badminton Asia Championships 2018 dan medali emas Asian Games 2018 memang gagal direngkuh oleh Liliyana dan Tontowi. Namun, kita tetap harus mengakui bahwa, walau sudah tidak dalam usia emasnya lagi, Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad tetap mampu memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Runner up Badminton Asia Championships 2018 dan medali perunggu Asian Games 2018 bukan prestasi yang buruk-buruk amat untuk dua pebulu tangkis senior yang telah memberikan banyak kebanggaan untuk negeri.
Tontowi Ahmad
Berbeda dengan rekannya Liliyana Natsir, Tontowi Ahmad sudah menjadi bagian dari klub PB Djarum sebelum usianya menginjak kepala dua. Sejak tahun 2007, banyak gelar bergengsi nasional dan internasional yang sukses diraih oleh atlet kelahiran 18 Juli 1987 ini. Mulai dari kejuaraan nasional hingga turnamen-turnamen BWF.
ADVERTISEMENT
Selama tahun 2007, Tontowi kerap dipasangkan dengan pebulu tangkis perempuan, Yulianti. Gelar juara JPGG Surabaya Challenge, Thailand Challenge, dan Vietnam Grand Prix Open direngkuh Tontowi pada tahun 2007. Setahun berikutnya, ia kembali menjuarai Vietnam Grand Prix Open bersama Shendy Puspa Irawati.
Asian Games pertama yang diikuti oleh atlet kelahiran Banyumas ini adalah di Guangzhou, Tiongkok pada tahun 2010, di mana ia meraih perunggu, tetapi ia lebih sebagai pemain cadangan. Dipasangkan bersama Liliyana Natsir sejak pertengahan 2010, ia meraih semakin banyak gelar bergengsi turnamen-turnamen BWF, seperti Macau Open, Indonesian Masters, Indonesia Open, dan lain sebagainya.
Setahun kemudian, Tontowi memenangkan medali emas Sea Games untuk kategori ganda campuran dan beregu putra. Pasangan yang kerap disapa "Owi" dan "Butet" ini juga semakin sering memenangkan nomor ganda campuran untuk turnamen-turnamen BWF, seperti Malaysia Open, India Open, Singapore Open, Swiss Open, French Open, dan lain sebagainya.
ADVERTISEMENT
Kemudian, seperti yang tadi juga telah dituliskan, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir meraih gelar juara All England tahun 2012, 2013, dan 2014. Pada tahun 2015, mereka hampir kembali mempertahankan gelar, tetapi harus kandas di partai final. Namun, mereka sukses menjuarai Asia Badminton Championships. Pada tahun 2013, Tontowi/Liliyana juga menjuarai BWF World Champioships, yang mana prestasi tersebut diulang kembali pada tahun 2017.
Sebenarnya, Tontowi Ahmad ini sosok pebulu tangkis yang cukup unik. Walaupun sudah banyak prestasi di ajang internasional bersama Liliyana Natsir, tetapi ia masih kerap mengikuti turnamen-turnamen nasional, bahkan menjuarainya meski dipasangkan dengan pebulu tangkis lain. Misalnya, Juara Kejurnas Antar Klub 2010 (beregu campuran), medali emas PON XVIII Riau 2012 (beregu putra dan ganda putra), medali perak PON XVIII Riau 2012 (ganda campuran), runner up Kejuaraan Nasional 2012 (beregu campuran).
ADVERTISEMENT
Medali perunggu Asian Games 2018 adalah prestasi teranyar. Selain itu, pada tahun ini, Owi/Butet juga menjadi runner up Indonesia Masters, runner up Singapore Open, dan runner up Badminton Asia Championships. Gelar paling bergengsi yang mereka juarai tahun 2018 adalah Indonesia Open. Kabarnya, Liliyana Natsir akan pensiun pada Februari atau Maret 2019, maka menarik untuk melihat perjalanan karier Tontowi Ahmad setelahnya.
PB Djarum telah banyak mencetak banyak pebulu tangkis yang mengharumkan nama bangsa. Kevin Sanjaya, Tontowi Ahmad, dan Liliyana Natsir hanyalah beberapa di antaranya. PB Djarum tak setengah-setengah dalam mendukung karier para atlet-atletnya. Selain kucuran bonus yang melimpah, motivasi untuk berprestasi juga datang dari para pelatih top yang direkrut oleh PB Djarum, misalnya saja Herry Iman Pierngadi, Aryono Miranat, Minarti TImur, Richard Mainaky, Vita Marissa. Dulu, Christian Hadinata, legenda sektor ganda Indonesia, juga pernah lama menjadi pelatih langsung di PB Djarum.
ADVERTISEMENT
Selain itu, berbagai fasilitas penunjang latihan dan fasilitas lainnya juga dipersiapkan sebaik mungkin oleh PB Djarum. Fasilitas-fasilitas ini tentu sangat membantu dan memotivasi para atlet untuk mencapai potensi terbaik. Pihak PB Djarum juga kerap mengajak para atlet yang sudah lebih dulu berprestasi untuk berbicara di hadapan para atlet-atlet muda guna menceritakan pengalaman, memberikan tips, trik, juga kata-kata motivasi kepada mereka. Tak jarang, mereka juga diajak untuk berlatih bersama.
Setiap tahunnya, PB Djarum juga memberikan Beasiswa Bulu Tangkis bagi pebulu tangkis muda berprestasi, tak terkecuali di tahun 2018 ini PB Djarum menyelenggarakan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 di delapan kota audisi di Indonesia. Ada beberapa kategori usia, yakni U-11, U-13, dan U-15 putra dan putri.
ADVERTISEMENT
Pada Kamis (6/9/2018) di GOR Jati, Kudus, Jawa Tengah, diadakan acara malam penganugerahan terhadap atlet bulu tangkis PB Djarum yang berprestasi di Asian Games 2018. Kevin, Tontowi, dan Liliyana tak luput dari bonus yang diberikan Djarum Foundation. Kevin Sanjaya mendapat kucuran bonus 600 juta rupiah. Sementara itu, Tontowi/Liliyana mendapat hadiah sebesar 300 juga rupiah.
Selain mereka, pebulu tangkis binaan PB Djarum lainnya juga mendapatkan bonus. Debby Susanto, bagian dari tim beregu putri Asian Games 2018 yang meraih medali perunggu, mendapat bonus 25 juta rupiah. Muhammad Ahsan dan Ihsan Maulana, bagian dari tim beregu putra Asian Games 2018, mendapat bonus 100 juta rupiah.
Sementara itu, para pelatih juga diguyur oleh bonus. Pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi dan Aryono Miranat, masing-masing mendapatkan 100 juta rupiah. Lalu, pelatih tim beregu putri Minarti Timur memperoleh bonus 25 juta rupiah, serta pelatih ganda campuran, Richard Mainaky dan Vita Marissa, diberi bonus 50 juta rupiah.
PB Djarum juga memberikan penghargaan khusus untuk salah satu legenda bulu tangkis Indonesia, Tan Joe Hok, yaitu Super Legend Award. Peraih medali emas Asian Games 1962 ini diberi hadiah TV LED Polytron 50''. Tan Joe Hok juga pernah menjuarai All England di tahun 1959, orang Indonesia pertama yang menjuarai turnamen bulu tangkis tertua di dunia tersebut.
"Keberhasilan para pemain bulutangkis hasil binaan PB Djarum di ajang Asian Games membangkitkan kembali gairah olahraga masyarakat Indonesia. Tentunya, pemberian bonus ini adalah apresiasi Djarum Foundation atas kerja keras dan prestasi mereka mengharumkan nama bangsa di panggung dunia. Lewat apresiasi penghargaan ini kami harap bisa menjadi penyemangat atlet-atlet muda lainnya untuk mengikuti jejak para pahlawan bulutangkis Indonesia ini," jelas Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin.
ADVERTISEMENT
Acara penghargaan juga digelar bersamaan dengan Gala Dinner bersama finalis Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 dari delapan kota audisi. Ini adalah salah satu cara lain memotivasi para atlet bulu tangkis muda untuk dapat menjadi penerus para seniornya di masa mendatang. Bukan tidak mungkin, di masa depan akan lebih banyak lagi, pebulu tangkis PB Djarum yang mengharumkan nama bangsa. Regenarasi itu harus karena Kevin Sanjaya, Tontowi Ahmad, dan Liliyana Natsir tidak mungkin muda selamanya.
------------------
Semua foto diambil dari situs resmi PB Djarum (pbdjarum.org)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan