kumparan
15 Desember 2018 23:29

Mengagumi Soe Hok Gie dengan Cara yang Berbeda

Soe Hok Gie (Foto: PMTG Adventure)
Soe Hok Gie. Seorang aktivis dan demonstran. Seorang pembaca dan juga penulis. Namun yang lebih penting, ia adalah seorang idealis.
ADVERTISEMENT
Lelaki kelahiran 17 Desember 1942 ini dikenal sebagai pribadi yang sudah berani melawan demi sebuah kebenaran sejak usia belia. Sifat yang terus ia bahwa hingga akhir hayatnya.
Sejauh yang saya tahu, salah satu bukti idealismenya adalah ia tidak pernah mau tunduk pada rezim mana pun. Menarik, ia menjadi bagian dari mahasiswa yang turun ke jalan untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno, sang proklamator bangsa. Di sisi lain, ia tak lantas menunduk kepada rezim baru (kepemimpinan Soeharto) setelahnya.
Soeharto naik menjabat pada Maret 1967, lalu pada Desember 1967, di koran Mahasiswa Indonesia, Gie berani menulis kritikan tentang pembunuhan massal terhadap anggota dan simpatisan PKI, terutama yang terjadi di Bali. Maksudnya begini, idealisme Gie tak lantas memudar hanya karena rezim Sukarno jatuh. Setelah itu, ia masih berani mengkritik apa yang ia rasa perlu dikritik.
Quote Soe Hok Gie (Foto: Canva)
Dulu, ketika Universitas Indonesia--tempat Gie berkuliah--dipenuhi organisasi-organisasi ekstra kampus, yakni organisasi-organisasi yang didompleng atau ditunggangi partai politik (Parpol), Gie ogah tergabung ke dalamnya, yang mana pun itu. Padahal, mereka semua saling meneriakkan satu hal yang sama: revolusi.
ADVERTISEMENT
Sebut saja Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang dekat dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sempat dekat dengan Masyumi. Ia juga enggan bergabung dengan organisasi yang membawa nama agama Nasrani--meski beberapa orang Indonesia keturunan Tionghoa pada masanya ada yang beragama Nasrani--seperti halnya Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).
Bergabung dengan Parpol, atau organisasi yang terafiliasi dengan Parpol, seolah melunturkan idealismenya. Ya, Gie punya caranya sendiri. Misalnya, ia mengkritik rezim lewat tulisan dan orasi.
"Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin." -Soe Hok Gie
ADVERTISEMENT
Itulah yang saya suka dari Gie. Ia adalah sosok oposisi sejati, menurut saya. Bagi saya, oposisi sejati itu bukan Parpol, bukan pula tim sukses politisi, bukan pula rakyat yang terlalu fanatik mengelu-elukan rival petahana.
Oposisi sejati adalah Gie. Idealis, tidak memihak sana-sini. Mengatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah.
Walaupun, dalam catatan hariannya--yang kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran--ia pernah menulis, "Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu."
Saya mungkin belum memiliki idealisme setinggi dirinya. Pada saat mahasiswa, saya juga jauh dari dunia pergerakan mahasiswa dalam bentuk aksi turun ke jalan. Akan tetapi, bolehlah saya, juga mungkin kalian, mengagumi Gie dengan cara yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Gie dan teman-temannya lebih memilih mendirikan organisasi Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) UI pada 12 Desember 1964 yang jauh dari ingar-bingar politik kampus dan politik negara, alih-alih organisasi tandingan dari yang telah disebutkan tadi. Mereka kerap naik gunung bersama.
Ini yang saya kagumi. Saat orang ramai-ramai membentuk organisasi atau memilih menjadi bagian dari organisasi yang bernuansa politik, Gie yang kritis terhadap rezim itu justru membentuk organisasi yang isinya senang-senang dan piknik.
Gie juga suka melakukan aktivitas nonton film bareng teman-temannya. Ia juga menggemari sastra, seperti halnya puisi dan novel.
Pada zaman sekarang ini, nampaknya harus lebih banyak lagi orang seperti Gie. Tidak fanatik ke kiri, tidak fanatik ke kanan. Kritis dan idealis, tetapi juga tidak lupa bersenang-senang. Berpolitik boleh tapi piknik jangan lupa. Jabat erat pertemanan, alih-alih menebarkan permusuhan.
ADVERTISEMENT
"Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan." -Soe Hok Gie
Saya, juga mungkin kalian yang kagum terhadap Soe Hok Gie, mungkin bukan orang yang tertarik untuk turun ke jalan, berdemonstrasi. Maka dari itu, kita bisa meniru Gie dari sisi lainnya itu.
Kalian lelah dengan perdebatan "cebong-kampret" yang seolah tiada akhir pada zaman sekarang ini? Ya sudah, silakan membaca buku, menonton film, sepak bola, MotoGP, dan menuliskan tentang semua itu. Bisa juga menyanyi, menulis puisi, main game, mendaki gunung, ketawa-ketiwi, atau apalah terserah, mengaji kitab suci juga boleh.
Bukankah itu juga merupakan sikap menentang arus? Orang-orang lagi ramai membicarakan politik tapi kita malah bersenang-senang. Ya asalkan jangan melawan arus lalu lintas di jalanan saja, hehe...
ADVERTISEMENT
Kalau kata salah seorang rekan kerja saya di kantor, sebenarnya jalan perjuangan Gie itu sunyi laiknya jalan seorang penyair. Ia memang berdemonstrasi dengan ribuan orang tapi, sekali lagi, ia enggan mendirikan organisasi yang bernuansa politik, enggan berkerumun. Ya, kita memang tidak perlu harus ikut-ikutan orang lain.
Saya tidak mengajak para pembaca sekalian untuk menjadi apatis atau apolitis. Maksud saya, penting memang mengikuti perkembangan politik, penting mengawasi kinerja pemerintah, bahkan mengkritiknya. Namun dengan 'piknik', kewarasan dapat terjaga agar tak larut pada kebencian dan fitnah yang ditebarkan membabi buta.
"Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya." -Soe Hok Gie
Pemandangan dari Puncak Mahameru (Foto: Instagram @nadianovandi)
Tanggal 16 Desember 1969 adalah hari di mana Soe Hok Gie menemui ajalnya. Gas beracun Gunung Semeru merenggut nyawanya, tetapi tidak idealismenya.
ADVERTISEMENT
Idealisme itu ia bawa bersama jasadnya, yang kemudian dibakar menjadi abu, lalu ditebar di Lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango. Idealisme itu tak hangus, melainkan mungkin saja bertebaran di udara, lalu merasuk kepada jiwa-jiwa generasi baru.
Sialnya, idealisme itu ternyata bisa meluntur kala beberapa di antara mereka menjadi bagian dari rezim penguasa baru, termasuk juga mereka yang berada di sisi berseberangan tapi kerap duduk tertidur dan sibuk menggali fitnah baru.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan