Pencarian populer

Kisah WNI Eks Anggota ISIS: Pergi ke Suriah hingga Diancam Mau Dibunuh

Ilustrasi ISIS. Foto: AFP PHOTO / Ahmad Al-Rubaye
Febri Ramdani menolak ketika disuguhkan kopi di salah satu lobi hotel di Kendari. Dia sedang tidak enak badan. Dia hanya memesan segelas air hangat untuk melegakan tenggorokannya yang sedang gatal.
ADVERTISEMENT
Setelan Febri sore itu amat rapi. Baju batik warna keemasan yang dipadukan dengan celana kain berwarna hitam. Wajar saja, sebab dia baru saja menjadi pembicara di acara BNPT.
​​"Saya jadi pembicara," ucapnya, Kamis (11/7).
Ya, karena punya pengalaman pernah terlibat dalam kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) beberapa tahun lalu, Febri kerap diundang oleh berbagai pihak sebagai pembicara. Laki-laki berusia 25 tahun itu mengaku amat bersyukur bisa selamat dan kembali ke Tanah Air.
Bagaimana awal mula kisah Febri bergabung dengan ISIS? Pada tahun 2016, Febri nekad ke Suriah demi menyusul keluarganya yang sudah lebih dulu bergabung dengan kelompok ekstremis itu.
​​"Ibu, tante, kakak, keponakan, sepupu, sudah di sana semua. Saya menyusul mereka. Sebenarnya yakin enggak yakin sih mau ke sana. Tapi ya bismillah aja saat itu," cerita Febri.
ADVERTISEMENT
Kelompok jaringan ISIS membantu menyelundupkan Febri ke Suriah melalui jalur Hatay, Turki. Ia dijanjikan bisa bertemu dengan keluarganya.
​"Keluarga sama sekali tidak memberikan akses. Mereka berangkat 2015. Saya 2016. Dan kami tidak pernah kontak sama sekali," tambah Febri.
Dalam perjalanan, seluruh kartu identitas Febri disita oleh pihak ISIS. Katanya untuk keamanan. Sesampainya di Suriah, Febri tidak langsung bertemu dengan keluarganya, seperti yang telah dijanjikan sebelumnya.
Bayangkan, Febri tiba di Suriah pada September 2016. Namun pada Februari 2017, barulah Febri bisa bertemu dengan keluarganya di Suriah. Bagaimana ceritanya?
Penyesalan Febri dan Keluarga
Selama kurang lebih lima bulan, Febri hidup dalam keadaan tidak tenang. Tidak ada akses komunikasi dengan keluarga, dan hampir setiap menit suara ledakan terdengar di mana-mana.
ADVERTISEMENT
​​"Itu peluru di atas kepala. Apalagi waktu dalam perjalanan itu saya naik mobil pickup, itu bunyi teng teng," cerita Febri, sambil menirukan suara peluru yang menghujani mobil yang ditumpanginya.
Febri mengatakan, semua janji-janji kelompok ISIS tidak ada yang terbukti. Semua hanya janji-janji belaka, tidak ada yang terbukti, mulai dari kesejahteraan hidup, pelayanan kesehatan gratis, hingga pendidikan gratis.
​​"Sebenarnya saya niat ke sana memang ketemu keluarga, mau lanjut kuliah juga rencananya," kata Febri. Namun, apa boleh buat? Harapan Febri jauh panggang dari api.
Meski tidak mendapat kekerasan fisik, namun tak jarang Febri mendapat ancaman dan intimidasi. Bahkan, Febri mengaku sempat diancam akan dibunuh.
Berdasarkan kesaksian Febri di Suriah, orang-orang dari luar yang bergabung ke ISIS diarahkan untuk mengikuti kelompok militer. Mereka diserukan untuk ikut dalam gencatan senjata.
ADVERTISEMENT
Saat ditawari, Febri berpura-pura sakit. Hingga akhirnya, Febri meminta untuk dipertemukan dengan keluarganya. Saat 'sakit' itulah, Febri baru dibawa bertemu dengan keluarganya.
Febri kemudian dibawa bertemu keluarganya oleh kelompok ISIS. Dia diberi waktu dua hari bertemu, lalu diminta mengikuti pendidikan agama dan militer.
Akan tetapi, keluarga Febri memintanya untuk tidak mengikuti perintah orang ISIS. Ibunya menyarankan agar Febri terus berpura-pura sakit.
"Mereka sangat melarang saya untuk ikut kegiatan yang diminta oleh pihak ISIS," kata Febri.
Tidak lama setelah bertemu, tepatnya empat bulan setelahnya, barulah Febri dan keluarga bisa kabur dari ISIS. "Ditahan SDF (Syrian Democratic Forces) dua bulan, total enam bulan baru balik ke Indonesia," ujar Febri.
Saat jurnalis kendarinesia menanyakan bagaimana Febri dan keluarga bisa selamat dan bertemu dengan Pemerintah Indonesia, Febri tidak bisa menjawab dengan detail.
ADVERTISEMENT
"Itu waktu saya menyerahkan diri ke SDF. Setelah keluar dari wilayah ISIS. Kami bersama smuggler ditembaki pihak SDF karena terjadi miskomunikasi," ujarnya.
Namun akhirnya, Febri dan keluarganya bisa kembali ke Tanah Air dengan bantuan Pemerintah Indonesia. Saat itulah, Febri berjanji pada dirinya sendiri untuk berbakti kepada bangsa dan negara, termasuk aktif memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak terhasut dengan kelompok ekstremis.
​​"Saya berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia. Bisa pulang udah syukur banget lah, sekalipun semua aset kita sudah hilang karena dijual keluarga waktu mau berangkat itu," ungkap Febri.
---
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.83