News
·
25 Desember 2020 11:15

Meriam Zaman Belanda, Koleksi Terbaru Museum Raja Ali Haji di Batam

Konten ini diproduksi oleh kepripedia
Meriam Zaman Belanda, Koleksi Terbaru Museum Raja Ali Haji di Batam (119416)
searchPerbesar
Meriam zaman Belanda yang didatangkan dari Kecamatan Belakang Padang tiba di Museum Raja Ali Haji Batam. Foto: Disbudpar Batam.
Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam terus melengkapi koleksi Museum Batam Raja Ali Haji. Baru-baru ini meriam zaman Belanda didatangkan dari Kecamatan Belakang Padang.
ADVERTISEMENT
Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Belakang Padang yang telah menghibahkan meriam bukti perjuangan pahlawan dahulu melawan penjajah kepada Pemko Batam.
Setelah diterima, meriam tersebut langsung diletakkan di tata pamer tepatnya di Khazanah masa Belanda. 
“Kita terus berupaya mengisi Museum Batam Raja Ali Haji, kita bersyukur hari ketujuh setelah diresmikan kita mendapat meriam dari Belakang Padang,” katanya, di Museum Batam Raja Ali Haji, Dataran Engku Putri, Batam Centre, Kamis (24/12). 
Setelah diresmikan bertepatan dengan Hari Jadi Kota Batam ke-191, Museum Batam Raja Ali menjadi wisata sejarah yang baru dan tempat edukasi bagi pelajar di Kota Batam khususnya dan umumnya Kepri. Semakin hari pengunjung terus berdatangan, mulai remaja hingga orang tua. 
ADVERTISEMENT
Camat Belakang Padang, Yudi Admaji mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarah dan pahlawan. Meriam ini adalah saksi bisu perjuangan melawan penjajah. 
Melihat dari sejarahnya, meriam ini dibawa dari Pulau Buluh ke Belakang Padang sebagai Ibukota Kecamatan Batam pada dekade 80-an pada masa Camat Mustafa Saleh dan diletakkan di Kantor Camat lama. Pada tahun 1992 Kantor Camat Belakang Padang dibangun.
“Baru dan pindah ke Sekanak Raya saat kepemimpinan Camat Bapak Said Hasyim meriam ini dipindahkan ke Pulau Sekanak. Sejak itu saat itu meriam bersejarah ini kokoh mengapit tiang Bendera Merah Putih Kantor Kecamatan Belakang Padang,”
“Ini menjadi catatan sejarah bahwa Belakang Padang mempunyai peran penting dalam sejarah pembangunan kota Batam,” katanya. 
ADVERTISEMENT
Sebelum diserahkan, Yudi mengajak masyarakat Belakang Padang mengelar doa selamat memohon kelancaran selama perjalanan menuju Museum Batam Raja Ali Haji. 
“Pukul 10.00 dari Pelabuhan Belakang tiba di Pelabuhan Sekupang pukul 11.00, dan langsung disambut oleh Kepala Disbudpar Kota Batam, Pak Ardiwinata, dan langsung di bawa menuju Museum Batam Raja Ali Haji, di Dataran Engku Putri,” terangnya. 
Selama 40 tahun berada di Belakang Padang meriam tetap terjaga dengan baik. Adanya Museum membuatnya termotivasi mencari benda sejarah lainnya di Belakang Padang. Sehingga makin banyak masyarakat Kota Batam mengetahui tentang sejarah Belakang Padang. 
“Memotivasi kami mengalih dari orang tua kami disini, seperti kantor camat pertama dulu kami akan telusuri,” ucapnya. 
ADVERTISEMENT
Perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Yudistira mengatakan meriam ini salah satu aset sejarah di Kota Batam dan Indonesia. Diletakkan di museum salah satu langkah menjaga aset tersebut. 
“Museum pusat pemajuan kebudayaan dan hadiah tersebesar Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), saya berharap museum mengkaji sejarah komprehensif sehingga bisa diceritakan ke anak cucu,” pintanya.